Perjalanan Panjang Prajurit Tempur yang Kini Mengabdi di Bali
Mayor Infanteri Hendra bukanlah sekadar nama di dalam surat keputusan. Ia adalah jelmaan dari dedikasi, ketangguhan, dan penyerahan diri pada takdir yang membentuknya menjadi pemimpin yang dihormati.
Lulusan Akademi Militer tahun 2002 ini, sejak 2020 telah menempati Pulau Dewata, dan pada 15 September 2025 resmi dipercaya memegang tampuk Komandan Koramil (Danramil) 1611-03/Kuta.
Sebuah posisi strategis di jantung pariwisata Indonesia, yang justru berakar dari pengalaman-pengalaman pahit dan getir di medan konflik paling berdarah di negeri ini.
Perjalanan militernya bisa dibilang tidak memberi waktu untuk beradaptasi. Langkah pertama setelah meninggalkan bangku Akmil langsung menuju ke kancah tugas terberat, Aceh, yang saat itu masih berstatus Darurat Militer.
Berbeda dengan rekan-rekannya yang mungkin mendapat tugas di satuan administrasi, Hendra ditugaskan di satuan tempur (Satpur).
Jiwa muda dan semangatnya diuji dengan serangkaian pelatihan intensif tanpa henti, Sarcap, Kombat Intel, hingga Kursus Danramil yang dijalaninya tanpa cuti, seolah menyiapkannya untuk realita yang keras.
Kenangan pertama yang tertancap dalam benaknya bukanlah keindahan alam Aceh, melainkan suara letusan yang menderu, menggantikan bunyi azan magrib yang seharusnya menjadi pertanda kedamaian.
“Sore menjelang magrib, sambutan pertama saya bukan bunga, tapi suara letusan seperti granat.
Begitulah sambutan untuk Danramil baru waktu itu,” ujarnya, menggambarkan betapa dekatnya ia dengan maut sejak hari pertama.
Dalam kondisi masih bujangan, ia mengaku memiliki “kemewahan” untuk tidak terlalu khawatir. “Bukan tidak takut mati, tapi saat itu tanggung jawab hanya kepada diri sendiri,” tuturnya.
Fokusnya penuh pada tugas, dengan kesadaran bahwa risiko yang dihadapi adalah konsekuensi dari pilihan hidupnya sebagai prajurit tempur.
Baca juga:
🔗 Menjadi Tentara: Takdir yang Membimbing, Bukan Sekadar Pilihan
Tragedi tsunami 26 Desember 2004 bukan sekadar berita yang ia dengar, melainkan peristiwa yang ia alami dan selami sendiri getirnya.
Ia merasakan gempa yang begitu dahsyat, membuat bumi bergoncang dan manusia tak berdaya untuk sekadar berdiri tegak.
Ia adalah saksi mata dari gelombang raksasa yang menyapu segala yang dilewatinya, mengubah landscape Aceh menjadi lautan puing dan kesedihan.
“Saya melihat langsung air datang, pesawat-pesawat bantuan lalu-lalang,” kenangnya. Dalam kekacauan itu, ia hilang kontak dengan dunia luar selama lebih dari sebulan.
Di Jawa, keluarganya telah berputus asa dan mengira ia telah gugur. Tahlilan pun digelar untuk mendoakan jiwanya.
Ketika akhirnya, setelah sebulan lebih, ia berhasil mendapatkan akses untuk menelepon, sambutnya yang sederhana, “Assalamualaikum Ma,” membuat sang ibu terhenyak.
“Awalnya beliau mengira sedang berbicara dengan arwah,” cerita Hendra dengan suara bergetar dan mata yang berkaca-kaca, membayangkan betapa haru-biru reuni yang terjadi melalui sambungan telepon yang lemah itu.
Aceh bukanlah akhir petualangan tempurnya. Akhir 2005, ia bergabung dengan Brigif 13 Galuh, Kostrad, di Batalyon Infanteri 303/Setia Sampai Mati (SSM) nama yang menggambarkan semangat satuan tersebut. Pada 2007, tantangan baru menanti: penugasan ke Papua.
Kali ini, ia berangkat dengan beban yang berbeda. Ia meninggalkan istri yang tengah mengandung empat bulan.
Medan Papua yang berat, penuh dengan lumpur dan jalur yang menantang, menjadi ujian nyata bagi kepemimpinan dan ketahanan mentalnya. Di sinilah karakter kepemimpinannya yang tegas dan adil ditempa.
Ia pernah berhadapan dengan anak buahnya yang memberontak dan menganggapnya terlalu otoriter. Dengan sikap tenang namun penuh wibawa, ia menantang mereka, “Saya bilang, kalau kalian anggap saya otoriter, silakan ambil kembali tugas sesuai pangkat dan fungsinya. Tapi kalau mau berjalan seperti ini, kita satu komando.”
Pendiriannya yang kuat justru memupuk rasa hormat dan soliditas di dalam tim. Enam belas tahun berkarya di Kostrad mengukirnya menjadi pemimpin lapangan yang tak tergoyahkan.
Baca juga:
🔗 Mayor Arm I Putu Arimbawa: Mengemban Amanah Baru sebagai Danramil Kuta Selatan
Namun, takdir seringkali hadir dengan cara yang tak terduga. Sekitar tahun 2013, di puncak karier tempurnya, sebuah insiden dalam Uji Jasmani Militer (USJM) mengubah segalanya. Saat menuruni dinding latihan “Cartenz”, ia mengalami cedera parah pada lutut kanannya.
“Saya sudah feeling waktu itu, kaki kanan ini saya amankan, tapi lupa di punggung ada ransel dan senjata. Terhentak keras, kaki langsung bengkak. Antara paha dan betis ukurannya sama besar,” paparnya dengan detail yang menggambarkan betapa tragisnya cedera tersebut.
Tiga bulan masa pemulihan tidak cukup untuk mengembalikan kondisinya seperti semula. Pintu karier di satuan tempur tertutup baginya.
Di titik nadir ini, ia justru membuka jendela peluang baru. Ia mengajukan perpindahan ke BAIS TNI (Badan Intelijen Strategis). Di dunia intelijen dan sandi inilah ia menemukan filosofi baru.
“Orang sandi bisa jadi intelijen, tapi intelijen belum tentu bisa jadi orang sandi. Karena psikologinya berbeda,” ujarnya, menyadari bahwa setiap fase dalam hidupnya, bahkan yang terasa seperti kemunduran, adalah bagian dari pelatihan yang lebih besar.
Kebijakan rotasi penugasan membawanya ke Bali di tahun 2020, di tengah gejolak pandemi COVID-19. Ia tiba saat dunia sedang tidak pasti, memaksanya untuk cepat beradaptasi dengan program dan anggaran baru yang serba darurat.
Setelah menyelesaikan Kursus Kasdim di Cimahi, ia dipercaya menjadi Kasdim di Bangli, lalu bertugas di Korem, mengasah kemampuannya di bidang teritorial dan bakti sosial.
Kini, sebagai Danramil Kuta, ia memikul tanggung jawab baru di wilayah yang menjadi wajah Indonesia di mata dunia.
Kompleksitas sosial, budaya, dan ekonomi Kuta membutuhkan pendekatan yang berbeda, bukan lagi dengan senjata, tetapi dengan kebijaksanaan, diplomasi, dan pemahaman mendalam terhadap dinamika masyarakat.
Baca juga:
🔗 Mengendalikan Perahu Kehidupan
“Semua ini sudah garis tangan. Tuhan tahu apa yang saya butuhkan, bukan apa yang saya mau.”
Kalimat penutupnya itu bukanlah sekadar romantisme, tetapi sebuah refleksi mendalam dari seorang manusia yang telah melalui begitu banyak pertempuran, baik di medan perang maupun dalam kehidupannya.
Perjalanan Mayor Inf. Hendra adalah sebuah narasi agung tentang transformasi dari bujangan pemberani di Aceh yang hanya bertanggung jawab pada dirinya sendiri, menjadi seorang suami, ayah, dan pemimpin yang bijak di Bali, yang bertanggung jawab pada banyak orang.
Dari dentuman granat di Aceh hingga gemericik air mancur di Kuta, dari jeritan amuk tsunami hingga senyuman turis mancanegara, ia membuktikan bahwa jiwa pengabdian seorang prajurit sejati tidak pernah padam.
Ia hanya berubah bentuk, beradaptasi, dan terus berkobar, mengikuti panggilan tugas dan takdir, untuk terus mengabdi pada Ibu Pertiwi dengan cara apa pun yang dimungkinkan.