Di usia 77 tahun, I Nyoman Ardhana atau yang akrab disapa Kakek Ardhana, membuktikan bahwa semangat pengabdian tidak berhenti setelah pensiun.
Meski sudah 18 tahun meninggalkan dinas kepolisian, terakhir bertugas di Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes) Polda Bali, jiwa pengabdian pria asli Bali ini tetap menyala, kini melalui jalur yang berbeda: menjaga kelestarian lingkungan.
Transisi dari dunia yang terstruktur dan penuh hierarki ke dunia aktivisme akar rumput tidak ia rasakan sebagai sebuah penurunan, melainkan sebuah evolusi bentuk pengabdian.
Baca juga:
🔗 Wayan Aksara: Menjaga Bali dari Hulu, Membangun Kesadaran Sampah dari Akar
Sejak pensiun pada tahun 2007 dengan pangkat Kombes Pol, I Nyoman Ardhana, tidak berhenti mengabdi kepada masyarakat.
Jiwa sosialnya yang kuat membawanya aktif dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan, hingga beberapa tahun lalu ia resmi bergabung dengan Yayasan BumiKita Nuswantara, sebuah gerakan sosial yang berfokus pada edukasi dan aksi nyata pelestarian lingkungan.
Melalui chapter Pantai Legian, Ardhana turut menggerakkan masyarakat untuk peduli terhadap kebersihan pantai serta mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
Bagi pria asli Bali ini, yayasan tersebut bukan sekadar komunitas, melainkan keluarga baru yang menyatukan visi dan semangat untuk menjaga bumi tetap lestari.
“Dulu saya melihat komunitas peduli sampah dan tertarik untuk ikut. Dari situ saya sadar bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tugas satu orang, tetapi tanggung jawab bersama,” ujarnya sambil tersenyum, mengenang awal mula ketertarikannya bergabung dengan gerakan tersebut.
Meski kini tinggal di Denpasar Barat, jarak bukan penghalang baginya. Semangatnya tak kalah dari relawan yang lebih muda.
Hampir setiap Jumat dan Minggu ia berangkat ke Pantai Legian untuk bergabung dalam kegiatan bersih pantai. Bahkan, bila ada kegiatan tambahan, ia bisa turun hingga lima kali dalam seminggu.
“Jarak itu bukan masalah. Saya jalanin dengan happy,” katanya ringan. Kedisiplinan yang dulu ia terapkan di kepolisian, kini dialihkan untuk menjaga konsistensinya dalam beraksi.
Bagi Nyoman Ardhana, kepedulian terhadap lingkungan sudah tertanam sejak kecil. Sebagai orang Bali, ia tumbuh dengan nilai-nilai hidup Tri Hita Karana yang menghormati harmoni antara manusia, Tuhan, dan alam.
Karena itu, keterlibatannya di BumiKita bukan sekadar rutinitas, melainkan bentuk nyata dari yadnya, pengabdian tulus tanpa pamrih kepada alam semesta.
Setiap sampah yang ia pungut dari pantai adalah wujud rasa syukur dan tanggung jawabnya sebagai penjaga bumi.
Baca juga:
🔗 Harmoni Sosial di Bali: Peran Banjar dan Desa Adat sebagai Penjaga Keseimbangan Kehidupan
Ia juga menyadari betul bahwa mengubah pola pikir masyarakat tentang sampah bukan hal mudah. “Mengubah mindset itu sulit, tapi harus dimulai dari diri sendiri,” tegasnya.
Salah satu langkah sederhana yang ia terapkan adalah meminimalisir penggunaan barang sekali pakai dan menularkan kebiasaan itu kepada orang di sekitarnya.
Ia sering mengajak dialog para pelaku usaha dan pengunjung pantai tentang pentingnya mengurangi plastik, membagikan pengetahuannya dengan sabar dan bijak.
Baca juga:
🔗 Puja Astawa: Dari Kreator Konten Hingga Penggerak Kepedulian Lingkungan
Menariknya, meski pernah menjabat posisi bergengsi sebagai Kombes Polisi, Nyoman Ardhana tidak terjebak dalam post power syndrome yang sering dialami oleh sebagian pensiunan pejabat.
Ia justru memilih jalan hidup sederhana dan penuh makna, mengabdi lewat kegiatan lingkungan.
Baginya, kekuasaan sejati bukan terletak pada jabatan, tetapi pada kemampuan untuk memberi dampak positif bagi komunitas dan lingkungan.
“Dulu banyak tawaran untuk terjun ke dunia politik atau jabatan lain setelah pensiun, tapi saya memilih hidup yang membuat saya bahagia.
Ikut aksi di BumiKita, itu sudah cukup membuat hidup saya berarti,” ujarnya dengan ketulusan yang terasa.
Kini, setiap langkah kecilnya di pantai menjadi simbol nyata bahwa pengabdian sejati tidak mengenal masa jabatan.
Bagi Kombes Pol (Purn) I Nyoman Ardhana, menjaga bumi adalah bentuk pengabdian tanpa akhir.
Dedikasinya adalah pelajaran berharga bahwa di usia senja sekalipun, kita masih bisa menjadi pahlawan bagi planet ini.
Warisan yang ingin ia tinggalkan bukanlah pangkat atau harta, tetapi pantai yang bersih dan inspirasi bahwa siapa pun bisa berbuat untuk kelestarian alam.