Di usia 77 tahun, I Nyoman Ardhana yang akrab disapa Kakek Ardhana membuktikan bahwa semangat pengabdian tidak pernah memiliki masa pensiun.
Sudah 18 tahun berlalu sejak ia meninggalkan dinas kepolisian, terakhir bertugas di Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes) Polda Bali, namun api pengabdian pria asli Bali ini tetap menyala.
Bedanya, kini ia mengabdi melalui jalur yang jauh lebih senyap namun berdampak besar, menjaga kelestarian lingkungan.
Transisi dari kehidupan penuh struktur, jabatan, dan hierarki ke dunia aktivisme akar rumput tidak pernah ia anggap sebagai penurunan.
Bagi Kakek Ardhana, ini adalah evolusi pengabdian dari melayani masyarakat melalui institusi negara, kini melayani bumi melalui tindakan kecil yang konsisten.
Baca juga:
π Kombes Pol. (Purn.) I Nyoman Ardhana: Mengabdi untuk Alam di Usia Senja
Ia menyadari betul bahwa hidup memiliki musimnya sendiri. Sejak sebelum pensiun, ia sudah membayangkan masa ketika jabatan dan posisi tak lagi melekat.
Karena itu ia mempersiapkan diri, bukan untuk mencari kehormatan baru, melainkan untuk melakukan apa yang menurutnya paling bermakna: peduli pada sampah dan kelestarian Bali.
Walau banyak rekan mempertanyakan pilihannya bahkan ketika peluang untuk masuk dunia politik terbuka lebar Nyoman Ardhana tetap teguh.
Ia memilih bergabung dengan Yayasan Bumi Kita Nuswantara, lembaga yang fokus pada penanggulangan sampah dan edukasi lingkungan.
βIni wujud kecintaan saya pada Bali. Pulau ini melahirkan saya, membesarkan saya, dan memberi saya kehidupan,β ungkapnya tulus.
Baca juga:
π Menjaga Warisan Hijau Bali
Yang menarik, meski pernah menjabat posisi bergengsi sebagai Kombes Polisi, Kakek Ardhana tidak terjebak dalam post power syndrome, kondisi yang kerap menjerat para pensiunan pejabat ketika kehilangan kekuasaan dan panggung sosial. Ia memilih jalan hidup yang sederhana, tenang, dan penuh makna.
βDulu banyak tawaran jabatan atau masuk dunia politik. Tapi saya memilih hidup yang membuat saya bahagia. Ikut aksi di Bumi Kita, itu sudah cukup membuat hidup saya berarti,β ujarnya.
Baginya, kekuasaan sejati bukan terletak pada pangkat, tetapi pada kemampuan memberi dampak positif bagi lingkungan dan komunitas.
Di akhir perbincangan, ia menyampaikan sebuah renungan yang selalu ia pegang:
βApa bedanya manusia dan hewan? Hewan mati punya banyak nama, ayam goreng, ayam betutu, ayam balado. Tapi manusia hanya punya satu sebutan kalau mati, mayat. Itu pengingat bagi saya. Selama masih diberi kesehatan, saya ingin melakukan hal yang baik.β
Dengan tubuh renta namun hati yang teguh, ia tetap menjalani aktivitas bersih pantai lima kali seminggu.
Setiap Jumat ia berada di Pantai Legian, dan setiap Minggu ia bergerak ke Pantai Berawa. Jarak Denpasar ke lokasi bukan halangan; semangatnya mengalahkan lelah.
Kini, setiap langkah kecil Kakek Ardhana di pasir pantai menjadi simbol nyata bahwa pengabdian sejati tidak memiliki masa kadaluarsa. Bagi Kombes Pol (Purn) I Nyoman Ardhana, menjaga bumi adalah bentuk bakti tanpa akhir.
Warisan yang ia siapkan bukanlah pangkat, jabatan, atau harta, tetapi, pantai yang lebih bersih, kesadaran kolektif yang tumbuh, dan inspirasi bahwa siapa pun, di usia berapa pun, dapat menjadi pahlawan bagi alam.
Di usia senjanya, ia menunjukkan bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari jabatan tinggi, kadang justru hadir dari memungut satu botol plastik di tepi pantai demi generasi berikutnya.