Ni Putu Ayu Trefi Cahaya Wati, SST.Par., M.M.Inov, adalah sosok perempuan Bali yang telah mengabdikan hampir dua dekade hidupnya pada industri hospitality.
Selama 20 tahun perjalanan kariernya di sebuah hotel bintang lima di kawasan Kuta, yang dulu bernama Ramada dan kini dikenal sebagai Bintang Resort, Trefi tidak hanya menyaksikan perubahan besar dalam industri pariwisata Bali, tetapi juga mengalami transformasi diri yang membentuk profesionalisme dan kepribadiannya seperti sekarang.
Sejak awal bergabung, Trefi menunjukkan dedikasi tinggi dalam menjalani setiap tugas yang diberikan. Posisi demi posisi ia lewati dengan penuh komitmen, mulai dari level operasional hingga akhirnya mencapai jabatan strategis.
Setiap pergantian manajemen, perubahan konsep hotel, hingga dinamika industri pariwisata internasional telah ia hadapi dengan ketenangan, kerja keras, serta kemampuan adaptasi yang kuat.
Ia bukan tipe pekerja yang menunggu instruksi, ia mengamati, menganalisis, lalu bekerja melebihi standar yang diharapkan.
Bagi perempuan berusia 45 tahun ini, bekerja di dunia perhotelan bukan sekadar rutinitas, tetapi ruang untuk terus berkembang.
Setiap tahun adalah kesempatan untuk meng-upgrade diri, memahami karakter tamu dari berbagai budaya, menyikapi perubahan zaman, hingga mengelola dinamika internal tim yang semakin kompleks.
Dunia hospitality menuntut kepekaan, ketepatan, empati, dan kemampuan membaca situasi dengan cepat. Semua itu ia pelajari dari pengalaman yang panjang dan tidak selalu mudah.
Baca juga:
🔗 Aksi Bersih Pantai Kuta: Kolaborasi Komunitas dan Pelaku Pariwisata Menyambut Akhir Tahun
Pandemi Covid-19 meninggalkan luka mendalam bagi industri pariwisata. Ribuan pekerja hotel kehilangan pekerjaan, dan Trefi adalah salah satu di antaranya.
Keputusan dirumahkan pada Juni 2022 menjadi titik paling menghentak dalam kariernya. Bukan hanya keterkejutan kehilangan pekerjaan yang telah ia jalani bertahun-tahun, tetapi juga kekhawatiran akan masa depannya di dunia yang tidak pasti.
Tidak mudah bagi seseorang yang telah mengabdikan hidupnya untuk menerima kenyataan bahwa industri yang selama ini menopangnya tiba-tiba berhenti berputar.
Namun di tengah badai itu, Trefi tetap memilih untuk menjaga profesionalisme. Ia tidak memutus relasi, tidak menyimpan kecewa yang dalam, dan tetap menghormati keputusan manajemen. Ia sadar bahwa pandemi adalah ujian global, bukan personal.
Kejujuran, etos kerja, dan rekam jejaknya yang kuat membuat namanya tak pernah benar-benar hilang.
Ketika hotel bangkit dan berusaha membuka kembali babak baru setelah pandemi, manajemen kembali memanggilnya.
Mereka tahu, seseorang dengan pemahaman mendalam tentang karakter hotel dan budaya internalnya tidak mudah dicari.
Ada keraguan dalam dirinya. Konsep hotel yang kini menjadi Bali klasik terasa berbeda dengan tren modern yang sedang menjamur.
Ia sempat bertanya pada dirinya sendiri, Apakah ini saatnya melangkah ke tempat lain? Namun setelah merenung panjang, ia justru melihat peluang.
Di tengah perubahan itulah ruang untuk bertumbuh berada. Ia kembali, dengan hati dan pikiran yang siap memulai lembaran baru.
Baca juga:
🔗 Hidup Selalu Menemukan Cara untuk Mekar
Industri hospitality kini dihuni empat generasi berbeda: Baby Boomer, Gen X, Milenial, dan Gen Z. Bagi seorang pemimpin, ini adalah tantangan tersendiri.
Gen Z, misalnya, datang dengan gaya komunikasi yang cepat, ide yang berani, dan kemampuan teknologi yang mengagumkan. Tetapi mereka juga membutuhkan pendekatan humanis, bimbingan, dan ruang berekspresi.
Trefi tidak memilih jalan lama yang kaku. Ia justru membuka diri untuk memahami ritme mereka. Ia berdialog, bukan memerintah.
Ia mengajak diskusi, bukan mendikte. Pendekatan ini menciptakan rasa nyaman dan menghargai perbedaan sebagai kekuatan.
Ia percaya bahwa sebuah tim kuat adalah tim yang saling melengkapi, bukan seragam. Dengan memahami karakter tiap generasi, ia menciptakan suasana kerja yang harmonis, di mana setiap anggota merasa dilibatkan dan dihargai.
Baca juga:
🔗 Perempuan Bali: Penjaga Harmoni di Balik Setiap Upacara Adat
Di tengah kesibukan bekerja di hotel berbintang lima, Trefi tetap menjadikan pendidikan sebagai prioritas.
Ia menyelesaikan S2 di bidang Inovasi, langkah yang menunjukkan bahwa belajar bukan sekadar kebutuhan akademis, tetapi fondasi untuk terus maju.
Bekal akademis ini memperkaya perspektifnya saat harus mengambil keputusan penting. Ia memahami perubahan industri bukan hanya dari pengalaman lapangan, tetapi juga dari sudut pandang teori dan inovasi.
Gelar itu bukan hanya pencapaian pribadi, tetapi komitmen bahwa ia tidak akan berhenti belajar, meski usia, karier, dan pengalaman telah matang.
Setelah melewati badai panjang, jatuh-bangun, dan perubahan besar, kini Trefi menduduki posisi Executive Assistant Manager, sebuah jabatan strategis yang menandai puncak kepercayaan manajemen terhadap dirinya.
Mengelola hotel dengan konsep Bali klasik membutuhkan sensitivitas budaya, estetika, dan standar operasional yang detail.
Semua itu harus dirangkai menjadi pengalaman yang autentik dan selaras, tanpa kehilangan sentuhan modernitas. Trefi berada pada titik krusial dalam proses itu.
Ia bukan hanya memimpin tim, tetapi juga menghidupkan kembali nilai-nilai Bali yang menjadi identitas hotel.
Dalam setiap langkah, ia memastikan bahwa pengalaman tamu menjadi prioritas, sambil menjaga keharmonisan tim dan kualitas layanan.
Konsep baru hotel membuatnya seperti mengulang dari awal. Tetapi justru dari situlah kompetensinya diuji. Dan Trefi membuktikan bahwa ia tidak hanya mampu bertahan, ia mampu memimpin transformasi itu.
Baca juga:
🔗 Bali dan Laju Pertumbuhan Pariwisata: Antara Kemajuan dan Teguran Alam
Perjalanan Ni Putu Ayu Trefi Cahaya Wati adalah kisah keteguhan, disiplin, dan kemampuan beradaptasi dalam industri yang paling dinamis.
Hampir dua dekade mengabdi, ia menunjukkan bahwa karier adalah tentang proses, bukan sekadar tujuan akhir.
Dari dirumahkan akibat pandemi, hingga kembali dan meraih posisi strategis, kisah ini menjadi bukti bahwa integritas, loyalitas, dan konsistensi selalu menemukan jalannya.
Dalam setiap tantangan, Trefi memilih untuk belajar. Dalam setiap perubahan, ia memilih untuk beradaptasi. Dalam setiap kesempatan, ia memilih untuk berkembang.
Dan dengan prinsip upgrade diri yang selalu ia pegang, Trefi akan terus menapaki perjalanan panjang di dunia hospitality, menjadi inspirasi bagi banyak perempuan Bali yang ingin membangun karier dengan hati, dedikasi, dan keberanian untuk terus bertumbuh.