Di teras rumah yang sederhana, sebuah Vespa tua berdiri tenang. Cat hijau kebiruannya tidak lagi sempurna, namun justru di sanalah daya tariknya bersemayam.
Setiap gores halus dan kilap usia menyimpan cerita yang tak diucapkan. Vespa ini bukan kendaraan yang lahir untuk pamer, melainkan untuk menemani perjalanan, perlahan, setia, dan penuh makna.
Lekuk bodinya mengalir lembut, tanpa sudut agresif. Desain klasik itu seolah menolak logika zaman yang serba cepat.
Vespa mengajarkan bahwa keindahan tidak selalu lahir dari kebaruan, melainkan dari ketulusan bentuk dan fungsi. Seperti hidup, ia tidak menuntut lebih, hanya meminta dirawat dan dipahami.
Pelat nomor yang terpasang di bagian depan menjadi penanda waktu. Ia telah menyusuri jalan-jalan pagi dengan embun tipis, siang yang terik, hingga sore dengan cahaya lembut khas Bali. Vespa ini tahu betul arti perjalanan, bukan soal jarak, tetapi soal rasa yang tertinggal.
Baca juga:
🔗 Sepeda Tua dan Cerita yang Tak Tergesa: Kayuhan Pelan yang Mengajarkan Kejujuran
Bagi Mike, Vespa bukan sekadar hobi, melainkan bagian dari gaya hidup yang ia pilih dengan sadar.
Setelah belasan tahun hidup dalam dunia jurnalisme, dikejar tenggat, berita mendadak, dan ritme kota, ia memutuskan untuk melambat. Ubud, Bali, menjadi tempat ia menata ulang napas dan arah hidup.
Sebagai pensiunan jurnalis, Mike memahami bahwa tidak semua hal harus dikejar. Ada fase hidup yang justru perlu dirawat dengan diam.
Vespa menjadi simbol transisi itu, dari hidup yang serba cepat menuju hidup yang penuh kesadaran.
Setiap kali mengendarainya, ia tidak sedang pergi terburu-buru, melainkan hadir sepenuhnya di momen yang sedang dijalani.
Di jalan-jalan kecil Ubud, Vespa membawanya berhenti kapan saja, di warung kopi, di sawah, atau sekadar di pinggir jalan untuk mengamati kehidupan yang berlalu.
Mike percaya, berhenti bukanlah bentuk kemunduran, melainkan keberanian untuk mendengarkan diri sendiri.
Baca juga:
🔗 Menemukan Ketentraman di Tengah Alam
Di tengah gempuran kendaraan modern yang senyap dan efisien, Vespa tua tetap bertahan dengan suaranya yang khas.
Ritmenya tidak halus, tetapi jujur. Ia mengingatkan bahwa hidup memiliki denyut alami, tidak selalu rapi, tidak selalu cepat, namun nyata.
Merawat Vespa membutuhkan kesabaran. Ia bisa rewel, meminta perhatian, dan tidak selalu bisa diandalkan tanpa kompromi.
Namun di situlah hubungan terbangun. Antara Mike dan Vespanya, ada dialog sunyi tentang kesetiaan dan perawatan, nilai yang kini jarang ditemui dalam kehidupan modern.
Di teras rumahnya di Ubud, Vespa itu berdiri seperti cerita yang belum selesai. Ia tidak menunggu untuk dipamerkan, tetapi siap untuk kembali menyusuri jalan kapan pun dibutuhkan.
Bagi Mike, dan mungkin bagi siapa pun yang memilih slow living, tujuan bukanlah akhir. Yang terpenting adalah tetap bergerak dengan sadar, menghormati waktu, dan menjalani hidup dengan kecepatan yang manusiawi.
Baca juga:
🔗 Menolak Post Power Syndrome: Memilih Hidup Sederhana dan Bermakna
Pada akhirnya, Vespa ini bukan tentang mesin, tahun pembuatan, atau nilai koleksi. Ia adalah cermin pilihan hidup.
Di tangan Mike, Vespa menjadi simbol keberanian untuk melambat di dunia yang terus berlari.
Sebuah pengingat bahwa hidup tidak selalu harus dikejar, sebagian justru perlu dirawat dengan tenang.
Di Ubud, di antara jalan-jalan kecil dan waktu yang terasa lebih ramah, Mike dan Vespanya menjalani hari tanpa ambisi berlebihan.
Hanya bergerak seperlunya, berhenti saat perlu, dan menikmati setiap momen yang hadir. Sebab dalam hidup yang dijalani dengan sadar, kebahagiaan sering kali bukan ditemukan di tujuan, melainkan di perjalanan itu sendiri.