Puja Astawa: Menjaga Budaya Bali Lewat Karya Kreatif

Puja Astawa melakukan pengambilan gambar film di lingkungan Desa Pedawa, Buleleng, Bali.
Puja Astawa tengah melakukan proses pengambilan gambar film di Desa Pedawa. Desa ini dipilih karena memiliki kekhasan bahasa Bali yang unik, berbeda dari bahasa Bali pada umumnya. (Foto: Dokumentasi)

Puja Astawa dikenal sebagai kreator konten asal Bali yang konsisten menggabungkan hiburan, budaya, dan pesan sosial dalam setiap karyanya.

Melalui video-video bernuansa lokal, ia tidak sekadar menghadirkan tawa, tetapi juga mengajak penonton menyelami sisi emosional dan kemanusiaan yang hidup di tengah masyarakat Bali.

Sebagai pembuat dokumenter budaya dan MC yang aktif, Puja memiliki kepekaan dalam membaca realitas sosial.

Ia piawai menyampaikan pesan dengan bahasa yang dekat dengan keseharian, membuat isu-isu budaya dan sosial terasa ringan namun tetap bermakna.

Karyanya kerap memotret tradisi, adat, serta dinamika kehidupan masyarakat Bali secara jujur dan apa adanya, sehingga setiap unggahan terasa autentik dan relevan.

Baca juga:
🔗 Puja Astawa: Dari Kreator Konten Hingga Penggerak Kepedulian Lingkungan

Dari Hiburan ke Kesadaran Budaya

Berangkat dari konten hiburan bernuansa lokal, Puja Astawa perlahan membangun ruang kesadaran budaya di tengah arus konten digital yang serba cepat.

Humor, dialog khas Bali, serta potret kehidupan sehari-hari menjadi pintu masuk bagi penonton untuk memahami nilai-nilai yang lebih dalam, tentang kebersamaan, empati, dan identitas.

Lewat pendekatan ini, Puja tidak menggurui. Ia memilih bercerita, membiarkan penonton tertawa, lalu diam sejenak untuk merenung.

Di situlah pesan-pesan sosial dan budaya bekerja secara halus, namun mengena. Banyak karyanya menjadi pengingat bahwa budaya bukan sesuatu yang kaku atau jauh, melainkan hidup di sekitar kita, dalam percakapan, kebiasaan, dan cara memandang sesama.

Baca juga:
🔗 Berdampingannya Modernitas dan Tradisi di Bali

Desa Pedawa dan Bahasa yang Dijaga Lewat Film

Kesibukan Puja Astawa belakangan ini terfokus pada dunia film. Ia mengabarkan tengah terlibat sebagai sutradara sekaligus kameraman dalam sebuah produksi film bernuansa Bali yang diikutsertakan dalam lomba film.

Lokasi pengambilan gambar dipilih secara khusus, Desa Pedawa, sebuah desa Bali Aga di Kabupaten Buleleng.

Pemilihan Desa Pedawa bukan tanpa pertimbangan. Desa ini dikenal memiliki bahasa Bali yang unik dan berbeda dari bahasa Bali pada umumnya.

Keunikan bahasa, cara bertutur, serta konteks sosial masyarakat Pedawa menjadi kekayaan budaya yang jarang diangkat ke layar.

Melalui film ini, Puja berupaya mendokumentasikan sekaligus memperkenalkan identitas lokal yang mulai tergerus oleh zaman.

Bagi Puja, film bukan sekadar medium visual, melainkan ruang arsip budaya, tempat bahasa, tradisi, dan cara hidup masyarakat dapat direkam dan diwariskan.

Baca juga:
🔗 Bali, Panggung Dunia yang Teruji oleh Waktu dan Budaya

Berkarya sebagai Wujud Bakti pada Tanah Kelahiran

Sebagai salah satu putra Bali, Puja Astawa memandang dunia kreatif sebagai jalan pengabdian.

Ia menjaga budaya dan tradisi bukan melalui seremoni, melainkan lewat karya yang lahir dari keseharian masyarakatnya sendiri. Apa yang ia lakukan adalah bentuk partisipasi kultural: hadir, merekam, dan menyuarakan.

Di tengah perubahan zaman dan derasnya arus globalisasi, langkah Puja menjadi contoh bahwa menjaga budaya tidak selalu harus dengan cara besar.

Terkadang, cukup dengan konsistensi, kejujuran berkarya, dan keberanian mengangkat yang lokal, budaya bisa tetap hidup dan relevan.

Lewat kamera dan cerita, Puja Astawa terus menegaskan bahwa identitas Bali bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk dirawat, hari ini, dan untuk generasi yang akan datang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *