Kemarin saya mendengar sebuah podcast yang sederhana, tetapi menampar pelan kesadaran saya.
Sang narasumber bertanya, “Setelah mati, kita ke mana?” Pertanyaan klasik. Berat. Abstrak. Lalu ia menggiring percakapan ke arah yang tak terduga.
“Kamu ingat tadi pagi makan apa?” Orang yang ditanya langsung menjawab dengan detail. Ditanya lagi, “Masa remaja paling berkesan?” Ia kembali bercerita panjang, rinci, penuh warna.
Kemudian datang pertanyaan terakhir, “Nanti sore ini rencanamu apa?” Jawabannya mulai ragu. Ada rencana, tapi belum tentu jadi. Belum pasti. Masih kemungkinan.
Dari situ sang narasumber menyimpulkan sesuatu yang menggelitik, Hidup ini yang nyata hanyalah memori.
Selebihnya, sering kali hanya halusinasi. Kita ribut tentang masa depan. Kita cemas tentang sesuatu yang belum terjadi.
Padahal yang benar-benar kita miliki hanyalah momen yang sudah dijalani dan yang sedang berlangsung. Dan entah kenapa, dari percakapan itu saya tiba-tiba terlempar jauh ke masa lalu.
Baca juga:
🔗 Sebelum Terbuka, Ada Keberanian yang Mengetuk
Saya teringat ketika masih menjadi wartawan magang di salah satu media lokal. Pos liputan saya di Polda Bangka Belitung.
Saat itu saya bukan siapa-siapa. Hanya pelengkap tim. Senior-senior saya jauh lebih berpengalaman. Ada satu momen yang tak pernah saya lupakan.
Seorang kapten di Polda hendak terbang menggunakan helikopter. Entah keberanian datang dari mana, dengan percaya diri saya bertanya: “Kapten, boleh ikut terbang? Lihat-lihat dari atas sambil motret?”
Saya tidak berpikir panjang. Tidak memikirkan kemungkinan ditolak. Tidak memikirkan apakah pantas atau tidak. Dan jawaban itu datang cepat. “Ayo.”
Beberapa menit kemudian saya sudah berada di udara.
Helikopter mengangkat kami, meninggalkan daratan Pangkalpinang. Dari ketinggian, saya melihat kota kecil itu seperti miniatur kehidupan.
Bahkan saya sempat memotret kantor tempat saya magang. Rasanya campur aduk, takjub, bangga, sekaligus tak percaya.
Ketika turun, wartawan senior bertanya heran, “Kok bisa kamu ikut terbang?” Saya hanya menjawab jujur, “Saya cuma tanya.” Sesederhana itu.
Dari momen spontan itu lahirlah liputan profil sang kapten yang kemudian dimuat di koran. Sebuah simbol mutualisme, dia mendapatkan publikasi, saya mendapatkan pengalaman yang tak ternilai.
Dan hari ini, bertahun-tahun kemudian, memori itu masih hidup. Detailnya masih jelas. Suaranya masih terdengar.
Baca juga:
🔗 Keberanian untuk Berangkat: Langkah Sunyi Mengubah Hidup
Kadang saya menyadari, hidup ini seperti arsip panjang yang tersimpan dalam memori. Sebuah foto. Sebuah obrolan. Sebuah lagu lama.
Dan tiba-tiba semuanya berputar seperti film. Kita tertawa sendiri. Kita terdiam sendiri. Kita kembali menjadi versi diri kita di masa itu.
Mungkin benar kata narasumber podcast itu yang nyata hanyalah memori. Masa depan belum tentu. Ia masih bayangan.
Kita sering menghabiskan energi untuk sesuatu yang belum terjadi, sementara hari ini lewat begitu saja tanpa makna.
Padahal hidup ini singkat. Sangat singkat. Kematian bukan soal nanti kita ke mana. Tapi tentang apa yang kita tinggalkan sebelum sampai ke sana.
Baca juga:
🔗 Di Ambang Kematian, Manusia Belajar Melepaskan
Saya belajar satu hal sederhana, Hidup bukan untuk diributkan dalam bayangan, tapi untuk dijalani agar menjadi kenangan.
Kalau dulu saya ragu bertanya pada kapten itu, mungkin saya tidak pernah punya cerita ini. Tidak ada foto dari udara. Tidak ada pengalaman yang hari ini masih bisa saya tulis.
Sering kali yang membedakan antara “halusinasi” dan “memori” hanyalah satu tindakan kecil: berani melangkah. Hari ini mungkin kita tidak tahu nanti sore akan seperti apa.
Besok juga belum tentu. Tapi yang pasti, apa yang kita lakukan sekarang sedang membentuk cerita yang suatu hari akan kita kenang.
Dan mungkin, ketika usia semakin menua dan tubuh tak lagi sekuat hari ini, yang tersisa hanyalah kumpulan cerita yang bisa kita putar ulang dalam kepala.
Maka sebelum sampai pada kata kematian itu, marilah kita isi perjalanan ini dengan keberanian-keberanian kecil, dengan tindakan nyata, dengan pengalaman yang layak dikenang.
Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa lama kita ada di dunia, tetapi seberapa dalam kita menciptakan memori di dalamnya.