Pertemuan yang Menghidupkan Kembali Diri yang Tertidur

Seseorang berjalan ke depan dengan suasana reflektif sebagai simbol perjalanan hidup
Hidup bukan tentang memilih masa lalu atau sekarang, bukan pula kembali atau meninggalkannya. Ini tentang berdamai dengan keduanya, menerima yang pernah ada sambil melangkah ke depan. (Foto: Dokumentasi)

Beberapa tahun lalu, seorang pria bernama Zakaria datang ke rumah saya. Ia berasal dari Maroko, tetapi saat itu tinggal di Italia.

Pertemuan kami bukan sesuatu yang direncanakan, bahkan nyaris mustahil jika ditelusuri dari awal ceritanya.

Semua bermula dari percakapan sederhana di dalam bus. Seorang wanita bernama Annemie, yang saat itu sedang dalam perjalanan menuju Filipina, secara tidak sengaja menyebut nama saya kepada Zakaria.

Ia hanya berkata, “Kalau kamu ke Indonesia, coba hubungi orang ini… namanya Moonstar.” Sebuah kalimat ringan, tanpa beban, tanpa ekspektasi.

Dari sana, sebuah panggilan video terjadi. Singkat. Tidak ada rencana besar. Tidak ada janji apa pun. Namun, justru dari momen kecil itulah sebuah jalur terbuka, jalur yang kemudian membawa Zakaria benar-benar datang ke Bali.

Baca juga:
🔗 Bali, Kenangan, dan Sebuah Pertemuan yang Tak Direncanakan

Pesona Pantai Melasti dan Percakapan Malam

Tahun 2022, ia tiba. Dengan dua ransel di punggung dan cerita yang ia bawa dari perjalanan panjangnya.

Ia menginap di rumah kami beberapa hari. Tidak ada agenda khusus. Kami hanya berjalan, melihat, dan membiarkan hari mengalir apa adanya.

Kami pergi ke beberapa pantai di selatan Bali. Dan di antara semua tempat itu, Pantai Melasti menjadi salah satu yang paling membekas baginya.

Ia terpesona, oleh tebingnya, oleh lautnya, oleh suasana yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Malam hari, kami lebih sering duduk diam. Ditemani kopi dan percakapan panjang yang kadang mengalir tanpa arah. Tentang hidup.

Tentang perjalanan. Tentang cara melihat dunia dari sudut yang berbeda. Lalu, seperti semua perjalanan lainnya, waktu membawa kami kembali ke jalur masing-masing.

Baca juga:
🔗 Pantai Melasti, Pesona Pantai Selatan Bali yang Memikat

Kembali dengan Cara yang Sama ke Pulau Dewata

Empat tahun berlalu. Di tahun 2026, Zakaria kembali muncul di Bali. Tidak ada perubahan besar dari cara ia datang.

Masih dengan dua ransel, masih dengan motor rental yang menjadi temannya menjelajah. Dan yang paling terasa, ia masih menjadi dirinya yang sama. Sederhana. Bebas. Mengalir mengikuti arah hidup tanpa banyak perhitungan.

Kami kembali bertemu. Duduk di tempat yang mungkin tidak jauh berbeda. Minum kopi seperti dulu.

Namun kali ini, percakapan kami tidak lagi tentang perkenalan. Kami berbicara tentang perjalanan yang sudah kami lalui sejak terakhir kali bertemu. Tentang apa yang berubah. Tentang apa yang tetap bertahan.

Dan di tengah obrolan itu, saya mulai menyadari sesuatu, bahwa tidak semua orang berubah seiring waktu.

Ada yang tetap memilih untuk hidup dengan cara yang sama, menjaga kebebasan itu tetap utuh dalam dirinya. Zakaria adalah salah satunya.

Baca juga:
🔗 Ketika Energi Mempertemukan Kembali: Kisah Tak terduga di Sanur

Tentang Diri yang Pernah Hidup Bebas

Pertemuan itu, entah kenapa, terasa lebih dari sekadar bertemu teman lama. Ia seperti membuka kembali sebuah ruang dalam diri saya, ruang yang sudah lama tertutup oleh rutinitas, tanggung jawab, dan arah hidup yang kini jauh lebih jelas.

Saya teringat pada diri saya sebelas tahun lalu. Saat hidup dijalani dengan ringan. Saat langkah tidak dibebani banyak hal.

Saat tujuan tidak selalu harus pasti, tapi cukup dijalani dengan rasa ingin tahu. Zakaria, dengan caranya yang sederhana, seperti mengingatkan saya pada hal-hal yang mungkin sempat terlupakan. Bahwa ketika kita berjalan sendiri, kebebasan itu bukan sesuatu yang harus dicari jauh-jauh.

Ia ada dalam cara kita menjalani langkah. Tentang berani melangkah tanpa harus selalu tahu ke mana arah akhirnya.

Tentang merasa cukup, meski tidak memiliki banyak. Dan di tengah kehidupan saya hari ini, yang lebih terarah, lebih penuh makna, tapi juga lebih padat—pertemuan ini terasa seperti sebuah jeda kecil.

Jeda yang tidak bising. Tidak dramatis. Tapi cukup untuk membuat saya kembali melihat ke dalam.

Bahwa versi diri yang dulu pernah hidup dengan bebas itu… sebenarnya tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya tertidur.

Penutup

Pada akhirnya, mungkin hidup bukan tentang memilih menjadi seperti dulu atau sekarang. Bukan tentang kembali ke masa lalu, atau sepenuhnya meninggalkannya. Z


Tapi tentang bagaimana kita bisa berdamai dengan keduanya. Tentang menjaga langkah tetap berjalan ke depan, tanpa melupakan rasa yang pernah membuat kita hidup begitu bebas. Tentang tetap bertumbuh, tanpa kehilangan jiwa yang dulu berani melangkah tanpa ragu.

Dan dari pertemuan ini, saya belajar satu hal sederhana, bahwa kebebasan tidak selalu berarti pergi jauh. Kadang, ia hanya perlu diingat kembali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *