Beberapa hari lalu, sebuah panggilan video masuk dari nomor yang tidak saya kenal. Bukan dari +62, melainkan +32. Saya tidak langsung mengangkatnya.
Seperti hari-hari biasa, waktu saya lebih banyak tersita untuk anak-anak. Ponsel sering kali hanya menjadi benda yang tergeletak, menunggu sempat untuk dilihat.
Saat akhirnya saya membuka pesan itu, mata saya berhenti pada foto profilnya. Wajah yang tidak asing.
Waktu seolah berbalik. Itu adalah Annemie, seorang perempuan asal Belgia yang saya temui 11 tahun lalu, dalam sebuah perjalanan ke Kelimutu. Kami pun terhubung kembali.
Baca juga:
🔗 Bali, Kenangan, dan Sebuah Pertemuan yang Tak Direncanakan
Saat layar terbuka, anak-anak saya ikut muncul, penasaran dengan siapa yang berbicara dengan ayahnya.
Saya menjelaskan singkat, lalu mereka kembali ke dunia mereka, bermain, berlari, tertawa. Sementara saya, kembali masuk ke dunia lain, masa lalu yang kini hadir dalam bentuk percakapan hangat.
Kami saling bertukar kabar. Ia menunjukkan rumahnya di Belgia, tenang di dalam, namun di luar tampak jalanan yang padat dan sibuk.
Saya pun membalas dengan memperlihatkan langit biru Bali, ruang hidup saya hari ini yang jauh berbeda dari dulu. Ia tersenyum. Lalu berkata, suatu hari ingin datang ke Bali.
Saya menjawab sederhana, “Saya sudah di sini. Menetap. Tidak lagi seperti dulu.” Dulu, kami pernah berjalan bersama, menyusuri perjalanan di Sulawesi, hingga ke Bunaken.
Dua orang asing yang dipertemukan oleh perjalanan, lalu menjadi teman yang saling berbagi cerita.
Di tengah percakapan, ia bertanya sesuatu yang membuat saya tersenyum kecil:
“Kamu sudah tidak minum alkohol lagi ya? Padahal saya ingin membawakan untukmu kalau ke sana.”
Saya langsung teringat satu momen lama. Saat itu, ia datang dengan tiga botol minuman, padahal aturan bagasi hanya memperbolehkan satu.
Entah bagaimana caranya, ia berhasil membawanya. Kami tertawa panjang saat itu. Hal kecil, tapi menjadi cerita yang terus hidup.
Kini, hidup saya berubah. Saya tidak lagi seperti dulu. Tapi yang menarik, ia tidak mempertanyakan perubahan itu. Ia hanya mengingat, lalu menerima.
Dan mungkin, di situlah letak sebuah hubungan yang tulus, ia tidak memaksa kita tetap sama, tapi tetap menghargai siapa kita, dulu dan sekarang.
Saya menyadari satu hal dari pertemuan kembali ini, tidak semua hubungan harus selalu dekat, tidak semua harus terus dijaga setiap hari.
Tapi ada hubungan tertentu yang, meski jarang bersua, tetap terasa utuh. Hubungan seperti ini tidak dibangun dalam sehari.
Ia tumbuh dari perjalanan, dari pengalaman, dari percakapan tanpa kepentingan. Tidak ada transaksi di dalamnya. Hanya saling mengenal, perlahan.
Kini, ia sudah berusia 60 tahun. Namun semangatnya untuk bepergian tidak berubah. Ia masih ingin datang ke Bali. Masih ingin bertemu.
Kali ini, bukan lagi hanya dengan saya, tapi dengan keluarga saya. Dan bagi saya, itu bukan sekadar rencana perjalanan. Itu adalah tanda bahwa hubungan ini masih hidup.
Baca juga:
🔗 Kebersamaan yang Sejati Bukan Diukur dari Berapa Lama Bersama, Tapi Seberapa Dalam Saling Memahami
Dalam hidup, kita akan bertemu banyak orang. Tapi hanya sedikit yang benar-benar “nyambung”, bukan karena sering bertemu, tapi karena ada kesamaan cara melihat hidup.
Saya percaya, ketika kita bertemu dengan orang yang memiliki energi yang sejalan, ada baiknya hubungan itu dijaga. Bukan untuk dimiliki, tapi untuk dihargai.
Karena pada akhirnya, hubungan bukan tentang seberapa sering kita bersama. Tapi tentang bagaimana kita saling hadir, bahkan setelah waktu memisahkan.
Dan mungkin, seperti pertemuan saya dengan Annemie, hubungan terbaik adalah yang tidak pernah dipaksakan untuk tetap sama, tapi tetap menemukan jalannya untuk kembali.
Di tengah perubahan hidup, peran baru, dan arah yang berbeda, ada satu hal yang tetap: Beberapa orang tidak pernah benar-benar pergi. Mereka hanya menunggu waktu yang tepat untuk kembali menyapa.