Dari Mimpi Sederhana Menuju Pengabdian: Perjalanan Kombes Pol. Leo Dedy Defretes, S.H., S.I.K., M.H.

Kombes Pol. Leo Dedy Defretes dalam momen resmi kepolisian dengan sikap profesional
Kisah Kombes Pol. Leo Dedy Defretes mengajarkan bahwa keberhasilan bukan semata tentang posisi yang dicapai, melainkan tentang nilai yang dijaga sepanjang perjalanan. (Foto: Mahendra)

Perjalanan hidup tidak selalu dimulai dari rencana besar. Bagi Leo Dedy Defretes, semua berawal dari niat yang sangat sederhana, bahkan jauh dari bayangan untuk menjadi bagian dari salah satu institusi terbesar di negeri ini.

Tidak ada peta besar, tidak ada ambisi yang terdefinisi sejak awal. Yang ada hanyalah keinginan untuk bertahan hidup, membantu diri sendiri, dan berjalan selangkah demi selangkah.

Lulusan Akpol 2002 ini tumbuh dalam tempaan kehidupan yang keras sejak usia dini. Ia mengenal arti usaha bukan dari teori, melainkan dari pengalaman langsung.

Berbagai pekerjaan pernah ia jalani, menjadi ojek payung di tengah hujan, mengumpulkan bola kasti di lapangan, hingga pekerjaan-pekerjaan kecil lainnya yang mungkin bagi sebagian orang tampak sepele.

Namun justru dari sanalah karakter itu dibentuk: ketangguhan, kepekaan terhadap keadaan, dan mental pantang menyerah yang tidak mudah runtuh oleh keadaan.

Pengalaman masa kecil itu bukan sekadar cerita, melainkan fondasi. Ia belajar bahwa hidup tidak selalu memberikan pilihan yang mudah, tetapi selalu memberi kesempatan bagi mereka yang mau berusaha.

Awalnya, jalan menuju dunia kepolisian bukanlah sesuatu yang ia rencanakan. Niatnya sederhana, meminta restu orang tua untuk berjualan di kawasan Blok M, Jakarta.

Baginya saat itu, berdagang adalah jalan realistis untuk bertahan dan membantu keluarga. Namun hidup sering kali membawa seseorang ke arah yang tidak terduga.

Sebuah momen penting hadir ketika seorang sahabat mengajaknya untuk mengikuti tes Akabri. Tanpa banyak pertimbangan panjang, ia memutuskan untuk ikut.

Bahkan ia mengajak satu teman lainnya. Mereka bertiga melangkah bersama, dengan semangat persahabatan dan harapan yang sama.

Namun perjalanan tidak selalu berjalan beriringan hingga akhir. Dalam proses seleksi yang ketat, dua sahabatnya harus gugur.

Ia menjadi satu-satunya yang bertahan dan dinyatakan lolos untuk melanjutkan pendidikan di Magelang. Sebuah pencapaian yang membanggakan, namun sekaligus menyisakan perasaan haru karena harus melangkah sendiri.

Kekuatan Restu dan Pesan Sang Ibu

Di titik itulah, ujian sesungguhnya justru datang, bukan dari luar, melainkan dari dalam keluarga. Semua persyaratan telah terpenuhi, hanya satu hal yang belum, restu orang tua. Sang ibu, sosok yang sangat ia hormati, sempat tidak merestui langkahnya.

Ada kekhawatiran, ada rasa takut, dan mungkin ada naluri seorang ibu yang ingin melindungi anaknya dari kerasnya dunia yang akan dihadapi. Waktu terus berjalan hingga tiba di hari terakhir pengumpulan berkas.

Dalam suasana yang penuh emosi, air mata tak terhindarkan. Sebuah percakapan yang sederhana namun sarat makna akhirnya terjadi. Dengan berat hati, sang ibu memberikan tanda tangan restu.

Namun restu itu datang bersama sebuah pesan yang begitu dalam dan membekas sepanjang hidupnya:

“Jangan pernah menindas orang, apalagi mereka yang membutuhkan pertolongan.”

Kalimat itu sederhana, tetapi menjadi kompas moral yang tak tergantikan. Ia bukan sekadar nasihat, melainkan janji yang harus dijaga.

Baca juga:
🔗 Restu yang Mengubah Arah Perjalanan

Menapaki Karier dan Memaknai Perjalanan

Perjalanan karier Leo Dedy Defretes bukanlah perjalanan yang instan. Ia ditempa oleh berbagai penugasan di banyak wilayah Indonesia, setiap tempat membawa pelajaran, setiap tantangan membentuk perspektif baru.

Tahun 2018 menjadi salah satu titik penting ketika ia menginjakkan kaki di Bali. Di pulau ini, ia mulai menorehkan perjalanan karier yang gemilang.

Kepercayaan besar diberikan kepadanya saat menjabat sebagai Kapolres Badung, sebuah posisi strategis dengan dinamika wilayah yang kompleks. Ia kemudian melanjutkan pengabdiannya sebagai Kapolres Tabanan.

Di kedua wilayah tersebut, ia tidak hanya menjalankan tugas sebagai aparat penegak hukum, tetapi juga belajar memahami masyarakat dari berbagai lapisan, budaya, tradisi, hingga nilai-nilai lokal yang hidup di tengah masyarakat Bali.

Baginya, menjadi pemimpin bukan hanya soal memberi perintah, tetapi juga tentang mendengar, memahami, dan hadir di tengah masyarakat.

Tahun 2024 membuka babak baru dalam hidupnya ketika ia mendapat penugasan di Lombok. Perpindahan ini bukan sekadar rotasi jabatan, melainkan perjalanan batin yang memperkaya cara pandangnya terhadap kehidupan.

Di tanah Lombok, ia menemukan ruang refleksi yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Kedekatannya dengan Gunung Rinjani menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Hampir setiap bulan, ia mendaki gunung itu.

Berbagai jalur telah ia lalui, setiap langkah bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan batin.

Di ketinggian Rinjani, ia belajar tentang kesunyian. Ia belajar tentang batas diri, tentang kerendahan hati di hadapan alam, dan tentang kebesaran Tuhan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Baginya, Rinjani bukan sekadar gunung. Ia adalah guru yang mengajarkan kesabaran, keikhlasan, dan keseimbangan.

Di sana, jabatan dan pangkat seolah kehilangan maknanya. Yang tersisa hanyalah manusia dengan segala keterbatasannya.

Kembali ke Bali, Mengemban Amanah Lebih Besar

Tak berselang lama, ia kembali ke Bali dengan amanah yang lebih besar sebagai Kepala BNN Kota Denpasar.

Bersamaan dengan tanggung jawab tersebut, ia juga menerima kenaikan pangkat menjadi Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol).

Kembalinya ia ke Bali bukan hanya tentang jabatan baru, tetapi juga tentang melanjutkan pengabdian dengan perspektif yang lebih matang.

Pengalaman di berbagai daerah, serta refleksi yang ia dapatkan selama di Lombok, membentuk cara pandangnya dalam menjalankan tugas.

Sebagai Kepala BNN Kota Denpasar, ia menghadapi tantangan yang tidak ringan. Permasalahan narkotika bukan hanya soal hukum, tetapi juga soal kemanusiaan.

Ia memahami bahwa di balik setiap kasus, ada cerita, ada keluarga, dan ada harapan yang masih bisa diselamatkan.

Pendekatannya tidak semata-mata represif, tetapi juga humanis. Ia berusaha menghadirkan keseimbangan antara penegakan hukum dan upaya pemulihan.

Baginya, menyelamatkan satu orang dari jerat narkoba berarti menyelamatkan masa depan sebuah keluarga.

Menjaga Keseimbangan Hidup

Di tengah kesibukan dan tanggung jawab yang besar, Leo Dedy Defretes tetap berusaha menjaga keseimbangan hidup.

Ia menyadari bahwa pengabdian kepada negara tidak boleh membuatnya kehilangan peran sebagai suami dan ayah.

Setelah sebelumnya harus membagi waktu antara tugas di Lombok dan keluarga, kini ia bersyukur dapat kembali menetap di Bali.

Waktu bersama keluarga menjadi hal yang sangat berharga, bukan sekadar kebersamaan, tetapi juga ruang untuk mengisi kembali energi dan makna.

Baginya, keluarga adalah tempat kembali. Tempat di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri, tanpa atribut jabatan, tanpa tekanan tugas.

Baca juga:
🔗 Menjaga Gerbang Bali, Menjaga Hangatnya Keluarga

Menjadi Manusia yang Terus Belajar

Perjalanan Leo Dedy Defretes adalah cerminan bahwa hidup bukan tentang seberapa cepat mencapai tujuan, melainkan bagaimana setiap proses dijalani dengan kesadaran.

Dari seorang anak yang terbiasa bertahan hidup di jalanan, hingga menjadi pemimpin di institusi negara, ia tidak pernah melupakan akar perjalanannya.

Ia tetap memegang teguh pesan ibunya, sebuah pesan sederhana yang justru menjadi pegangan terbesar dalam hidupnya.

Ia percaya bahwa jabatan dan pangkat hanyalah titipan. Yang terpenting adalah bagaimana ia bisa memberi manfaat, sekecil apa pun itu.

Hidup, baginya, adalah proses belajar yang tidak pernah selesai. Tentang menjadi lebih baik dari hari ke hari.

Tentang memahami bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada kekuasaan, tetapi pada kemampuan untuk tetap rendah hati.

Penutup

Setiap perjalanan hidup memiliki garis takdirnya sendiri, terkadang berliku, tak jarang pula menghadirkan kejutan, namun selalu menyimpan makna bagi mereka yang menjalaninya dengan kesadaran penuh.

Kisah Kombes Pol. Leo Dedy Defretes menunjukkan bahwa keberhasilan bukan semata-mata tentang posisi yang diraih, melainkan tentang nilai-nilai yang dijaga sepanjang perjalanan.

Berdoa, bekerja, dan bersyukur menjadi prinsip yang ia pegang teguh dalam menapaki setiap fase kehidupan hingga hari ini.

Dari langkah sederhana seorang anak yang berjuang untuk bertahan hidup, hingga mengemban amanah besar di institusi negara, ia membuktikan bahwa keteguhan, keikhlasan, dan integritas moral mampu menjadi fondasi yang kokoh dalam menghadapi berbagai tantangan hidup.

Lebih dari sekadar perjalanan karier, kisah ini menjadi pengingat bahwa dalam setiap peran yang kita jalani, apa pun bentuknya, kita tetap manusia yang perlu terus belajar, menjaga hati, dan memberi makna bagi lingkungan sekitar.

Pada akhirnya, ukuran bukanlah seberapa tinggi kita melangkah, melainkan seberapa dalam kita mampu memaknai setiap langkah tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *