Tenganan Pegringsingan merupakan salah satu desa Bali Aga di Kabupaten Karangasem, Bali, yang hingga kini masih mempertahankan berbagai tradisi dan tata kehidupan adat yang diwariskan secara turun-temurun.
Desa ini tidak hanya dikenal karena keunikan budaya, arsitektur, serta tradisi masyarakatnya, tetapi juga karena kehidupan warganya yang masih memiliki hubungan erat dengan alam.
Salah satu momen yang menarik terjadi ketika musim durian tiba. Bagi masyarakat Tenganan Pegringsingan, durian bukan sekadar buah musiman, tetapi menjadi salah satu hasil bumi yang ditunggu setiap tahun.
Aktivitas menunggu buah durian yang jatuh dari pohon bahkan memiliki aturan tersendiri dalam kehidupan masyarakat adat.
Baca juga:
๐ Desa Tenganan Pegringsingan: Menjaga Warisan Leluhur di Tengah Arus Modernisasi
Ketika musim durian tiba, sejumlah warga Tenganan Pegringsingan mulai bersiap untuk menjaga pohon-pohon durian yang menjadi bagian dari area garapan mereka.
Aktivitas ini berlangsung mengikuti siklus alam dan menjadi salah satu kegiatan tahunan yang masih dipertahankan hingga sekarang.
Warga yang ingin menunggu hasil dari pohon durian harus terlebih dahulu mengajukan atau menentukan area pohon yang akan dijaga.
Setelah mendapatkan area tersebut, mereka biasanya membuat pondok sederhana di sekitar lokasi.
Pondok menjadi tempat warga beristirahat sekaligus menunggu buah durian yang jatuh. Aktivitas tersebut membutuhkan kesabaran karena buah tidak selalu jatuh dalam waktu yang bersamaan.
Bahkan, warga harus siap berada di sekitar pohon untuk memastikan buah yang jatuh dapat segera dikumpulkan.
Tradisi ini memperlihatkan bagaimana masyarakat Tenganan masih menerapkan aturan dalam pemanfaatan hasil alam. Ada pembagian tanggung jawab yang jelas sehingga tidak terjadi perebutan hasil dari pohon yang sedang dijaga oleh warga lain.
Baca juga:
๐ Durian Karangasem Ramaikan Jalan Mambal, Daya Tarik Kuliner Musiman Bali
Salah satu hal yang menarik dari musim durian di Tenganan Pegringsingan adalah keberadaan pondok sederhana yang dibangun di sekitar pohon.
Pondok tersebut bukan sekadar tempat berteduh, tetapi menjadi penanda bahwa seseorang sedang menjalankan tanggung jawab untuk menjaga pohon dan mengambil buah yang jatuh.
Buah durian yang jatuh di sekitar area pondok dan pohon yang telah menjadi tanggung jawab seseorang tidak boleh sembarangan diambil oleh warga lain.
Aturan tersebut menjadi bagian dari kehidupan masyarakat adat dalam mengatur pemanfaatan sumber daya alam.
Dengan sistem seperti ini, masyarakat dapat menjaga hubungan yang harmonis dalam memanfaatkan hasil bumi.
Tidak hanya soal siapa yang mendapatkan buah, tetapi juga bagaimana setiap orang menghormati tanggung jawab dan wilayah yang telah diberikan berdasarkan aturan adat.
Menunggu durian juga menghadirkan suasana berbeda dibandingkan aktivitas pertanian lainnya. Warga dapat menghabiskan waktu di pondok sambil berbincang dengan keluarga atau tetangga.
Bagi mereka yang sudah terbiasa, kegiatan tersebut menjadi pengalaman tahunan yang selalu dinantikan.
Baca juga:
๐ Tenganan Pegringsingan: Menjaga Tradisi dalam Keseharian dan Kesakralan
Salah seorang warga Tenganan Pegringsingan, Mang Jhony, merupakan salah satu masyarakat yang biasanya menikmati aktivitas menunggu durian.
Namun, pada musim kali ini, ia belum dapat sepenuhnya menghabiskan waktu di pondok karena memiliki kesibukan lain.
Saat kunjungan wisatawan ke Tenganan Pegringsingan mulai ramai, Mang Jhony justru lebih banyak menghabiskan waktunya untuk membuat dan menjual lukisan di atas daun lontar.
Karya tersebut menjadi salah satu produk kerajinan yang menarik perhatian wisatawan yang datang ke desa.
โBelum bisa full time menunggu durian karena sekarang sedang ramai wisatawan. Saya lebih fokus melukis daun lontar dan menjualnya kepada wisatawan,โ cerita Mang Jhony.
Kesibukan tersebut membuat aktivitas menunggu durian kemudian ia serahkan kepada anak-anak dan mertuanya. Mereka bergantian menjaga area pohon dan mengambil durian yang jatuh.
Bagi Mang Jhony, menunggu durian sebenarnya merupakan kegiatan yang menyenangkan. Ada sensasi tersendiri ketika menunggu buah matang hingga akhirnya jatuh dari pohon.
Aktivitas tersebut juga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat yang sudah berlangsung dari tahun ke tahun.
Kisah Mang Jhony memperlihatkan bagaimana kehidupan masyarakat Tenganan saat ini berjalan di antara tradisi dan aktivitas ekonomi yang berkembang karena pariwisata.
Di satu sisi, ia tetap menjadi bagian dari tradisi masyarakat dalam memanfaatkan hasil alam. Di sisi lain, keterampilannya membuat lukisan daun lontar menjadi sumber penghasilan yang juga berkaitan langsung dengan kunjungan wisatawan.
Baca juga:
๐ Komang Suweca, Penjaga Tradisi Lontar dari Tenganan
Durian bukan satu-satunya kekayaan alam yang dimanfaatkan masyarakat Tenganan Pegringsingan.
Desa ini juga memiliki pohon aren yang menjadi salah satu sumber hasil bumi masyarakat. Dari pohon aren tersebut dihasilkan tuak yang dikenal dengan sebutan boong kawat.
Berbeda dengan durian yang hanya dapat dinikmati pada musim tertentu, produksi tuak dari pohon aren dilakukan setiap hari.
Pohon aren menjadi bagian dari kehidupan masyarakat karena hasilnya dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.
Keberadaan durian dan pohon aren menjadi gambaran bahwa kekayaan alam Tenganan Pegringsingan masih memiliki peranan penting dalam kehidupan masyarakat.
Alam tidak hanya menjadi latar belakang kehidupan desa, tetapi juga menjadi bagian dari sumber penghidupan.
Musim durian sekaligus memperlihatkan bagaimana aturan adat masih memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat Bali Aga.
Ketika sebuah pohon dijaga, ada tanggung jawab yang harus dijalankan. Ketika buah jatuh, ada aturan mengenai siapa yang berhak mengambilnya.
Di tengah perkembangan pariwisata yang semakin ramai, kehidupan seperti ini menjadi sisi menarik dari Tenganan Pegringsingan.
Wisatawan tidak hanya datang untuk melihat tradisi dan bangunan adat, tetapi juga dapat menyaksikan bagaimana masyarakat menjalani kehidupan sehari-hari yang masih dekat dengan alam.
Musim durian pada akhirnya bukan hanya cerita tentang buah yang jatuh dari pohon. Di baliknya terdapat kisah mengenai aturan adat, keluarga, kesabaran, hasil bumi, serta hubungan masyarakat dengan lingkungan tempat mereka tinggal.
Tenganan Pegringsingan menunjukkan bahwa kekayaan sebuah desa tidak selalu harus berupa sesuatu yang besar dan modern.
Sebuah pondok sederhana di bawah pohon durian, seorang warga yang menunggu buah jatuh, lukisan daun lontar, hingga pohon aren yang setiap hari menghasilkan tuak, menjadi bagian dari cerita panjang tentang kehidupan masyarakat Bali Aga yang masih terus berjalan hingga hari ini.