Di atas hamparan pasir hitam pantai, seorang nelayan tampak sibuk mempersiapkan perahunya.
Di sekelilingnya, sejumlah bubu tersusun rapi. Alat tangkap tradisional berbentuk silinder dari anyaman tersebut menjadi salah satu perlengkapan penting yang digunakannya untuk mencari lobster di laut.
Bagi pria ini, laut bukan sekadar tempat mencari penghasilan. Setelah beberapa tahun menjalaninya, laut telah menjadi bagian dari kehidupan sekaligus rumah baru baginya.
Ada harapan yang membuatnya terus berangkat melaut, lobster. Harga jual per kilogram yang menurutnya masih cukup menjanjikan menjadi salah satu alasan mengapa profesi tersebut tetap ia jalani, meskipun biaya operasional terus meningkat.
Baca juga:
🔗 Ketika Kerapu Karang Segar Bertemu Pembeli: Potret Kehidupan Nelayan di Bali
Menurutnya, harga lobster saat ini masih memberikan harapan bagi nelayan. Nilai jual yang dapat mencapai lebih dari Rp500.000 per kilogram menjadi salah satu alasan dirinya tetap bersemangat menjalani profesi tersebut.
Ketika hasil tangkapan cukup banyak, pendapatan yang diperoleh tentu dapat membantu menutup biaya operasional selama melaut.
Namun, mendapatkan lobster bukan perkara mudah. Ia harus menghadapi biaya operasional yang terus meningkat, salah satunya bahan bakar untuk perahu.
Jika sebelumnya ia hanya mengeluarkan sekitar Rp70.000 untuk bensin sekali melaut, kini biaya tersebut meningkat menjadi sekitar Rp100.000.
Kebutuhan alat tangkap juga menjadi bagian dari modal. Satu buah bubu yang digunakan untuk menangkap lobster dibelinya dengan harga sekitar Rp100.000.
Bagi nelayan kecil, biaya tersebut tentu menjadi pertimbangan tersendiri sebelum kembali melaut.
Meski biaya yang dikeluarkan semakin besar, hasil tangkapan yang baik menjadi penyemangat. Ia mengaku pernah membawa pulang sekitar 4 hingga 5 kilogram lobster dalam sekali melaut.
Dengan harga yang bisa mencapai lebih dari Rp500.000 per kilogram, hasil tersebut menjadi pengalaman yang membuatnya semakin yakin untuk menekuni profesi ini.
“Kalau dapat 4 sampai 5 kilogram lobster, tentu senang. Itu yang membuat saya tetap semangat menjalani pekerjaan ini,” tuturnya.
Menariknya, menjadi nelayan bukanlah profesi yang sejak awal ia jalani. Sebelumnya, ia bekerja di sektor hospitality, sebuah bidang yang begitu dekat dengan kehidupan masyarakat Bali, terutama di tengah berkembangnya industri pariwisata.
Ia pernah menjalani rutinitas pekerjaan di daratan, berhadapan dengan dunia pelayanan dan industri pariwisata. Namun, perjalanan hidup membawanya pada pilihan berbeda.
Ombak dan laut akhirnya menjadi bagian baru dalam perjalanan hidupnya. Beberapa tahun terakhir, ia memilih meninggalkan pekerjaan sebelumnya dan menekuni profesi sebagai nelayan lobster.
Pilihan tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi baginya merupakan perubahan besar dalam kehidupan.
Dari dunia hospitality yang penuh dengan aktivitas pelayanan dan hiruk-pikuk pariwisata, ia kini lebih banyak menghabiskan waktu di atas perahu, berhadapan dengan laut, angin, serta ketidakpastian hasil tangkapan.
Baca juga:
🔗 Perahu Tradisional Bali: Warisan Laut yang Tetap Dijaga Nelayan Lokal
Menjadi nelayan bukan berarti kehidupannya tanpa tantangan. Harga bahan bakar, kebutuhan alat tangkap, kondisi cuaca, hingga hasil tangkapan yang tidak selalu dapat dipastikan menjadi bagian dari kesehariannya.
Namun, ada kepuasan yang ia temukan dalam profesi barunya. Setelah beberapa tahun menjalani pekerjaan tersebut, ia mengaku sudah merasa nyaman menjadi nelayan.
Laut yang sebelumnya mungkin hanya menjadi bagian dari pemandangan kehidupan masyarakat pesisir, kini justru menjadi ruang tempat ia menggantungkan harapan.
Setiap kali perahu didorong menuju laut, ada harapan yang ikut berangkat bersamanya. Bubu-bubu yang dipasang menjadi ikhtiar, sementara hasil tangkapan menjadi jawaban atas perjalanan yang ditempuh.
Kisahnya menunjukkan bahwa perjalanan mencari nafkah tidak selalu berjalan dalam satu garis lurus.
Seseorang bisa saja memulai kehidupan profesional di sebuah bidang, kemudian menemukan jalan lain yang justru membuatnya merasa lebih nyaman.
Dari hospitality ke laut, ia menemukan profesi baru yang kini dijalani dengan penuh keyakinan.
Lobster memang menjadi alasan ekonomi yang cukup kuat. Harga per kilogram yang menurutnya masih menjanjikan memberikan harapan di tengah meningkatnya biaya melaut.
Namun lebih dari sekadar harga, ada rasa nyaman yang telah tumbuh selama bertahun-tahun.
Di atas perahu kecil dan di antara bubu-bubu yang menjadi perlengkapannya, ia menjalani hari dengan satu harapan sederhana: semoga laut kembali memberikan hasil.
Sebab bagi seorang nelayan, setiap kali pergi melaut bukan hanya tentang mengejar tangkapan, tetapi juga tentang mempertaruhkan tenaga, waktu, biaya, dan harapan untuk membawa sesuatu pulang ke daratan.