Ada sesuatu yang menarik ketika menemukan suasana Bali jauh dari Pulau Dewata. Di tengah wilayah Gorontalo, tepatnya di Paguyaman, Wonosari, sebuah perkampungan transmigrasi memperlihatkan bagaimana identitas budaya dapat tetap hidup meski berada ratusan kilometer dari tanah asalnya.
Ukiran pada bangunan, tata ruang rumah, pura, hingga cara masyarakat menjalankan kehidupan sehari-hari menjadi penanda bahwa kampung ini dihuni oleh masyarakat Bali.
Untuk menuju kawasan tersebut, perjalanan dari Kota Gorontalo memerlukan waktu sekitar dua jam. Perjalanan cukup panjang, tetapi suasana berbeda mulai terasa ketika memasuki wilayah Wonosari.
Kawasan transmigrasi ini dihuni oleh dua kelompok masyarakat yang cukup dominan, yakni Jawa dan Bali. Namun, ketika memasuki kawasan permukiman masyarakat Bali, identitas itu seolah langsung menyambut siapa saja yang datang.
Di depan rumah-rumah warga terlihat berbagai ornamen khas Bali. Bangunan dan ukiran tradisional menjadi bagian dari lingkungan tempat tinggal mereka.
Di tengah kampung berdiri sebuah pura yang cukup besar. Tempat ibadah tersebut menjadi pusat kegiatan keagamaan sekaligus salah satu penanda kuat keberadaan masyarakat Bali di Wonosari.
Bagi masyarakat Bali di perantauan, keberadaan pura bukan sekadar bangunan tempat sembahyang. Ia menjadi ruang untuk menjaga hubungan sosial, menjalankan tradisi, dan mewariskan kebudayaan kepada generasi berikutnya.
Berjalan menyusuri kampung tersebut terasa seperti menemukan potongan Bali di tengah Gorontalo.
Namun, tentu saja ada perbedaan suasana. Lingkungan alam dan masyarakat di sekitarnya adalah Gorontalo. Di sinilah menariknya kehidupan masyarakat transmigrasi, mereka beradaptasi dengan tempat baru, tetapi tetap membawa identitas dari tanah asal.
Baca juga:
🔗 Desa Wisata Religi dan Alam: Pesona Tenang di Gorontalo
Saat berkeliling kampung, saya berkesempatan berbincang dengan Pak Dewa, salah seorang tokoh pemuda di kawasan tersebut.
Ia menjadi salah satu orang yang membantu menjelaskan kehidupan masyarakat Bali yang telah menetap di wilayah ini sejak sekitar tahun 1980-an.
Menurutnya, kehidupan masyarakat Bali di Wonosari pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan kehidupan masyarakat Bali di Pulau Dewata.
“Tidak ada yang berbeda. Kita memakai tata cara yang di Bali, mulai dari upacara sampai gaya bangunan.”
Ia kemudian menunjuk salah satu bangunan yang sedang dibangun. “Bangunan yang baru ini saja, kita menggunakan tenaga dari Bali,” tuturnya.
Pernyataan tersebut memperlihatkan betapa kuatnya keterikatan mereka terhadap budaya asal. Bahkan ketika membangun rumah atau fasilitas baru, unsur-unsur Bali tetap berusaha dipertahankan.
Menjadi transmigran berarti hidup di lingkungan yang berbeda dari tanah kelahiran. Bahasa, lingkungan, masyarakat, hingga kondisi alam bisa berubah.
Namun, bagi masyarakat Bali di Paguyaman Wonosari, perpindahan tempat tidak berarti harus meninggalkan budaya.
Tradisi tetap dijalankan. Upacara keagamaan tetap dilakukan. Pura tetap menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat. Begitu pula dengan bentuk bangunan dan berbagai unsur budaya yang terus dipertahankan.
Budaya akhirnya bukan hanya sesuatu yang dibawa dalam perjalanan, tetapi juga sesuatu yang dirawat setiap hari.
Generasi yang lahir di Gorontalo pun tumbuh dengan mengenal tradisi leluhur mereka. Dengan begitu, identitas Bali tidak berhenti pada generasi pertama yang datang sebagai transmigran, tetapi terus diteruskan kepada anak dan cucu mereka.
Baca juga:
🔗 Generasi Muda Bali Menjaga Tradisi Leluhur
Kampung Bali di Paguyaman Wonosari menjadi gambaran sederhana bahwa identitas budaya tidak selalu bergantung pada tempat.
Orang Bali dapat tinggal jauh dari Bali, tetapi tetap membawa nilai, tradisi, dan cara hidup yang diwariskan oleh leluhur.
Di tengah masyarakat Jawa dan lingkungan Gorontalo, masyarakat Bali membangun kehidupan mereka sendiri tanpa harus kehilangan akar budaya.
Pada akhirnya, Bali bukan hanya tentang sebuah pulau. Bali juga tentang bagaimana seseorang menjaga identitas, menjalankan tradisi, dan mewariskan kebudayaan kepada generasi berikutnya, di mana pun mereka berada.
Begitu pula masyarakat Bali di Paguyaman Wonosari, Gorontalo. Mereka mungkin telah lama meninggalkan tanah leluhur, tetapi nilai-nilai Bali tetap tumbuh dan hidup di tanah tempat mereka kini menetap.