Di Ujung Jalan, Semua Akan Berpulang

Perjalanan hidup sebagai simbol perjalanan menuju jalan pulang.
Hidup adalah perjalanan. Dunia hanya persinggahan. Dan pada akhirnya, setiap perjalanan akan menemukan jalan pulangnya. (Foto: Dokumentasi)

Ada satu kendaraan yang mungkin jarang kita pikirkan ketika sedang menjalani kehidupan: kereta jenazah.

Ia tidak mengenal siapa yang akan dibawanya. Tidak peduli apakah seseorang semasa hidup memiliki rumah besar, kendaraan mewah, jabatan tinggi, atau justru menjalani hidup dengan sederhana.

Ketika waktunya tiba, kendaraan itu menjadi bagian dari perjalanan terakhir seorang manusia.

Di sebuah jalan, tulisan berwarna kuning “KERETA JENAZAH” terlihat jelas. Sederhana, tetapi menyimpan pesan yang dalam.

Tulisan itu bukan tentang menyerah pada kehidupan. Justru sebaliknya, ia seperti pengingat agar manusia tidak terlalu tinggi memandang dirinya sendiri.

Baca juga:
🔗 Di Ambang Kematian, Manusia Belajar Melepaskan

Pada Akhirnya, Kita Sama

Semasa hidup, manusia sibuk mengejar banyak hal. Ada yang mengejar karier, harta, popularitas, jabatan, rumah, kendaraan, bahkan pengakuan dari orang lain. Kita sering merasa bahwa apa yang dimiliki hari ini akan selalu menjadi bagian dari hidup.

Padahal, tidak ada yang benar-benar kekal. Pada akhirnya, semua manusia memiliki tujuan yang sama: kembali kepada Sang Pencipta.

Kereta jenazah menjadi salah satu gambaran sederhana tentang kesamaan itu. Ia tidak membawa kekayaan seseorang. Tidak membawa jabatan. Tidak membawa jumlah pengikut di media sosial. Yang dibawa hanyalah tubuh yang telah menyelesaikan perjalanannya di dunia.

Dunia Hanya Tempat Singgah

Mungkin karena itulah kita perlu sesekali berhenti dari kesibukan. Melihat kembali apa yang sebenarnya sedang kita kejar dan untuk apa kita menjalani kehidupan.

Dunia ini indah, tetapi ia bukan tempat untuk selamanya. Rumah yang kita bangun akan ditinggalkan. Kendaraan yang kita banggakan suatu hari akan menjadi milik orang lain. Pekerjaan akan diteruskan oleh generasi berikutnya.

Bahkan nama kita pun, perlahan bisa menjadi bagian dari ingatan orang lain. Yang tersisa bukan seberapa mahal kendaraan yang pernah kita miliki, tetapi bagaimana kita menjalani perjalanan selama masih diberikan waktu.

Baca juga:
🔗 Ruang Singgah, Bukan Tujuan: Di Antara Lelah dan Harapan

Sebuah Pengingat untuk Tetap Rendah Hati

Kereta jenazah mungkin terlihat biasa saja di jalan. Namun, bagi siapa pun yang mau berhenti sejenak dan memperhatikannya, kendaraan itu seperti membawa pesan yang sangat sederhana:

Tidak ada manusia yang bisa membawa dunia ini bersamanya ketika waktunya berpulang.

Karena itu, selama masih diberikan kesempatan untuk berjalan, mungkin yang terpenting bukan menjadi lebih tinggi dari orang lain, tetapi menjadi manusia yang lebih baik dari diri kita kemarin.

Tulisan “KERETA JENAZAH” itu bukan tanda kekalahan. Ia adalah pengingat. Bahwa sehebat apa pun perjalanan kita di dunia, setiap manusia pada akhirnya akan sampai di tempat yang sama.

Dan ketika saat itu tiba, yang kita bawa bukan harta, jabatan, atau kemewahan, melainkan segala sesuatu yang telah kita tanam selama hidup.

Hidup adalah perjalanan. Dunia hanya persinggahan. Dan pada akhirnya, setiap perjalanan akan menemukan jalan pulangnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *