Di Pinggir Jalan Bali, Sebuah Baliho Mengangkat Persoalan Biaya Ngaben

Upacara Ngaben sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada orang yang telah meninggal dalam tradisi Bali.
Ngaben bukan hanya soal biaya, tetapi juga tentang penghormatan terakhir yang tetap memperhatikan nilai budaya, keyakinan, dan kondisi keluarga yang ditinggalkan. (Foto: Amatjaya)

Di antara lalu lalang kendaraan di jalanan Bali, sebuah baliho menyampaikan pesan yang tidak biasa. Tulisan di dalamnya berbunyi, “Jangan Takut Meninggal sebagai Umat Hindu di Bali”, disertai informasi mengenai paket upacara ngaben dengan biaya Rp15 juta.

Kalimat tersebut sekilas terdengar sederhana, tetapi mengundang perhatian. Kematian merupakan bagian dari kehidupan yang tidak dapat dihindari, sementara dalam tradisi Hindu Bali, upacara ngaben menjadi salah satu prosesi penting yang memiliki makna spiritual dan budaya.

Baliho itu menawarkan informasi mengenai alternatif pelaksanaan upacara dengan biaya yang telah ditentukan. Sebuah pesan di ruang publik yang membuka ruang untuk melihat hubungan antara tradisi, kebutuhan keluarga, dan kemampuan ekonomi masyarakat.

Baca juga:
🔗 Menyusun Kembali yang Tersisa: Setelah Api Menyempurnakan Raga

Antara Tradisi dan Kemampuan Ekonomi

Ngaben bukan sekadar prosesi pelepasan jenazah. Bagi umat Hindu Bali, upacara ini berkaitan dengan keyakinan spiritual serta penghormatan terhadap orang yang telah meninggal dunia.

Dalam pelaksanaannya, kebutuhan biaya dapat berbeda-beda, bergantung pada bentuk upacara, tradisi keluarga, serta ketentuan adat setempat. Bagi sebagian keluarga, mempersiapkan biaya upacara dapat menjadi tantangan tersendiri.

Di sinilah informasi pada baliho tersebut menjadi menarik untuk dicermati. Yayasan Gases Bali yang berlokasi di Sesetan menawarkan paket ngaben seharga Rp15 juta, dengan keterangan mencakup Tirta Dalem Kahyangan dan Prajepati, serta pelaksanaan di Setra Tamiu.

Rangkaian prosesi yang tercantum meliputi ngulapin, ngeringkes, sawa, memeras, ngajum, mepepegat, ngaskara, prosesi di setra, pekiriman, tarpana saji, hingga ngantuk.

Informasi ini memperlihatkan adanya pilihan yang ditawarkan kepada masyarakat. Meski demikian, rincian layanan dan cakupan biaya tetap perlu dikonfirmasi kepada penyelenggara agar masyarakat memperoleh gambaran yang jelas sebelum mengambil keputusan.

Baca juga:
🔗 Ngaben: Jalan Pulang Sang Jiwa

Menjaga Tradisi, Membuka Pilihan

Sebuah baliho di pinggir jalan mungkin hanya menjadi bagian dari pemandangan sehari-hari. Namun, pesan yang dibawanya dapat membuka percakapan yang lebih luas tentang bagaimana masyarakat menjalankan tradisi di tengah beragam kondisi ekonomi.

Menjaga tradisi tidak selalu berarti setiap keluarga harus menjalankan upacara dengan bentuk dan biaya yang sama.

Ada ketentuan adat, nilai spiritual, serta kesepakatan masyarakat yang tetap perlu dihormati. Pada saat yang sama, informasi mengenai alternatif pelaksanaan upacara dapat membantu keluarga mempertimbangkan pilihan sesuai kebutuhan dan kemampuan mereka.

Baliho ini menjadi potret kecil kehidupan masyarakat Bali: sebuah upaya menawarkan pilihan di tengah tradisi yang terus dijaga lintas generasi.

Sebab, pada akhirnya, pembicaraan tentang ngaben bukan hanya mengenai biaya, tetapi juga tentang bagaimana penghormatan terakhir kepada seseorang dapat dijalankan dengan tetap memperhatikan nilai budaya, keyakinan, dan keadaan keluarga yang ditinggalkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *