DENPASAR, BALI – Antrean kendaraan di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Bali yang memicu kemacetan mulai berdampak pada berbagai sektor kehidupan masyarakat.
Salah satunya adalah sektor pendidikan, yang turut menyesuaikan kegiatan belajar mengajar untuk mengantisipasi kendala mobilitas akibat antrean bahan bakar minyak (BBM).
Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga Kota Denpasar mengeluarkan surat resmi yang ditujukan kepada seluruh satuan pendidikan negeri dan swasta di Kota Denpasar.
Melalui surat tersebut, kegiatan pembelajaran pada Kamis, 15 Oktober hingga Sabtu, 17 Oktober 2026, dilaksanakan secara daring.
Kebijakan ini diambil sebagai langkah antisipasi terhadap kelangkaan BBM yang berpotensi menghambat mobilitas guru, tenaga kependidikan, serta peserta didik.
Dengan demikian, proses pembelajaran diharapkan tetap berlangsung meskipun siswa tidak hadir secara langsung di sekolah.
Baca juga:
🔗 Antrean BBM di Bali, Warga Denpasar Pilih Bersepeda ke Tempat Kerja
Penerapan pembelajaran daring ini menjadi pengalaman tersendiri bagi para siswa, khususnya anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar.
Ayu, salah seorang siswa kelas 1 di sebuah sekolah swasta di Bali, mengikuti kegiatan belajar secara daring dengan didampingi orang tuanya di rumah.
Sejak pukul 09.00 hingga 11.00 WITA, ia mengikuti instruksi guru melalui telepon seluler (HP) menggunakan aplikasi Google Zoom. Melalui media tersebut, Ayu tetap dapat mengikuti pelajaran sekaligus berinteraksi dengan guru dan teman-teman sekelasnya.
Orang tua turut mendampingi dan mengawasi selama proses pembelajaran berlangsung. Kehadiran orang tua menjadi bagian penting untuk membantu anak memahami instruksi guru, menjaga konsentrasi, serta memastikan kegiatan belajar berjalan dengan baik.
Meski tidak bertemu secara langsung di ruang kelas, Ayu terlihat senang karena masih dapat melihat dan berinteraksi dengan teman-temannya melalui layar HP.
Peralihan dari pembelajaran tatap muka ke sistem daring menuntut penyesuaian, baik bagi siswa, guru, maupun orang tua. Terlebih bagi anak-anak kelas awal sekolah dasar yang masih membutuhkan pendampingan dalam mengikuti pelajaran.
Dalam situasi ini, orang tua memiliki peran penting untuk mendukung proses belajar anak, mulai dari menyiapkan perangkat, memastikan koneksi internet berjalan baik, hingga mendampingi anak selama guru menyampaikan materi.
Pembelajaran daring juga menjadi pengingat bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Dengan dukungan teknologi dan keterlibatan orang tua, kegiatan belajar tetap dapat berjalan di tengah situasi yang mengharuskan adanya perubahan metode pembelajaran.
Baca juga:
🔗 Kehadiran: Fondasi yang Tak Terlihat, Namun Paling Kuat
Kebijakan pembelajaran daring di Kota Denpasar selama tiga hari ini menjadi salah satu bentuk penyesuaian dunia pendidikan terhadap kondisi yang berkembang di masyarakat.
Antrean BBM dan kemacetan yang ditimbulkannya menunjukkan bahwa persoalan mobilitas dapat membawa dampak berantai terhadap aktivitas sehari-hari, termasuk kegiatan belajar mengajar.
Di sisi lain, situasi ini juga menuntut keluarga untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Orang tua perlu mendampingi anak agar pembelajaran daring tidak sekadar menjadi kegiatan menatap layar, tetapi tetap menjadi proses belajar yang efektif dan menyenangkan.
Di tengah perubahan situasi tersebut, kolaborasi antara sekolah, guru, dan orang tua menjadi penting agar hak anak untuk memperoleh pendidikan tetap terpenuhi.