PALANGKA RAYA – Pangdam XXII/Tambun Bungai Mayjen TNI Zainul Arifin, S.A.P., M.Sc., menerima audiensi Dewan Adat Dayak (DAD) Kalimantan Tengah yang dipimpin Sekretaris Umum DAD Kalteng, Yuliandra Dedy Lampe, beserta staf di Ruang Kerja Pangdam, Jumat (23/10/2026).
Dalam pertemuan yang berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan tersebut, Pangdam didampingi Asintel Kasdam XXII/TB Kolonel Inf Eka Ganta Chandra, S.I.P., M.I.P., serta Kapendam XXII/TB Kolonel Arh Dodo Sahata Simanullang, S.I.P. Audiensi ini menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antara Kodam XXII/Tambun Bungai dan DAD Kalteng, khususnya dalam menjaga nilai-nilai luhur budaya Dayak yang terkandung dalam filosofi Huma Betang sebagai landasan kehidupan masyarakat Kalimantan Tengah.
Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak membahas pentingnya menghidupkan kembali nilai-nilai Huma Betang sebagai filosofi yang mengajarkan kebersamaan, kerukunan, toleransi, serta sikap saling menghormati di tengah keberagaman masyarakat.
Sekretaris Umum DAD Kalteng, Yuliandra Dedy Lampe, menyampaikan harapannya agar nilai-nilai Huma Betang tidak sekadar menjadi simbol budaya, tetapi juga benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur tersebut perlu terus dijaga agar menjadi pedoman masyarakat dalam membangun kehidupan yang harmonis, menjunjung tinggi etika, serta menghormati perbedaan.
Baca juga:
🔗 Kasdam XXII/TB Pimpin Rakor Pengembangan Kizipur 6 Menjadi Denzipur 16/WBS
Menanggapi hal tersebut, Pangdam XXII/Tambun Bungai Mayjen TNI Zainul Arifin menyampaikan bahwa penyampaian aspirasi kepada pemerintah merupakan bagian dari kepedulian masyarakat terhadap daerah dan bentuk partisipasi dalam kehidupan bermasyarakat.
Namun, ia menekankan bahwa penyampaian aspirasi hendaknya dilakukan dengan cara yang santun, beretika, dan tetap menjunjung tinggi kehormatan, sejalan dengan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam filosofi Huma Betang.
Pangdam mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga situasi yang aman dan kondusif dengan menghindari tindakan anarkis, provokatif, maupun perbuatan yang dapat merusak fasilitas serta mengganggu ketenteraman masyarakat.
Menurutnya, kematangan masyarakat dalam menyampaikan pendapat tercermin dari kemampuan menjaga ketenangan, mengedepankan dialog, serta menghormati hak dan kepentingan orang lain.
Melalui musyawarah dan komunikasi yang baik, berbagai persoalan diharapkan dapat diselesaikan dengan bijaksana tanpa menimbulkan konflik maupun keresahan di tengah masyarakat.
Pangdam juga mengajak para pemangku adat untuk berperan aktif dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga persatuan, merawat kebersamaan, serta menjadikan nilai-nilai adat sebagai pedoman dalam kehidupan sosial.
Baca juga:
🔗 Bali dan Nafas Gotong Royong yang Tak Pernah Padam
Selain membahas nilai budaya dan etika dalam kehidupan bermasyarakat, Pangdam XXII/Tambun Bungai turut mengingatkan pentingnya menjaga kelestarian alam dan hutan Kalimantan.
Ia mengajak para pemangku adat untuk bersama-sama mengedukasi masyarakat agar tidak melakukan pembakaran hutan dan lahan yang dapat memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla), merusak lingkungan, serta menimbulkan dampak bagi kesehatan dan kehidupan masyarakat.
Upaya menjaga lingkungan, menurut pesan yang disampaikan dalam pertemuan tersebut, membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, termasuk tokoh adat yang memiliki peran penting dalam menanamkan nilai-nilai kearifan lokal.
Pelestarian alam merupakan bagian dari tanggung jawab bersama agar kekayaan lingkungan Kalimantan Tengah tetap terjaga dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang.
Pertemuan antara Pangdam XXII/Tambun Bungai dan DAD Kalteng ini menjadi wujud komitmen bersama dalam merawat kebudayaan Dayak, memperkuat persatuan, serta membangun komunikasi yang harmonis antara unsur TNI dan masyarakat adat.
Dengan mengedepankan filosofi Huma Betang, etika, musyawarah, dan kepedulian terhadap lingkungan, diharapkan Kalimantan Tengah senantiasa menjadi daerah yang aman, damai, rukun, dan bermartabat.