Ungasan, Bali β Hujan deras sempat mengguyur wilayah Ungasan pada Minggu (14/9/2025) pagi, meski hanya berlangsung singkat.
Kondisi cuaca yang tidak menentu membuat masyarakat Bali diimbau untuk tetap meningkatkan kewaspadaan, mengingat beberapa hari sebelumnya banjir besar melanda sejumlah wilayah.
Sejak Selasa malam hingga Rabu (10/9/2025), hujan tanpa henti mengguyur hampir seluruh wilayah Bali.
Intensitas curah hujan yang tinggi dalam waktu singkat menyebabkan air meluap dan menggenangi pemukiman, jalan utama, hingga pasar tradisional.
Beberapa titik di Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan menjadi wilayah yang paling terdampak.
Tidak hanya rumah warga yang terendam, tetapi juga fasilitas umum, seperti sekolah dan tempat ibadah, ikut mengalami kerusakan.
Baca juga:
π Banjir Melanda Bali
Menanggapi kondisi tersebut, Pemerintah Provinsi Bali menetapkan status Tanggap Darurat Bencana selama tujuh hari.
Penetapan ini memungkinkan pemerintah daerah mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah pusat dalam bentuk logistik, tenaga, hingga dana penanggulangan bencana.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto, menegaskan bahwa keputusan tersebut diambil agar proses evakuasi, distribusi bantuan, dan pemulihan awal dapat dilakukan lebih cepat.
βKami harus memastikan masyarakat terdampak banjir mendapatkan perlindungan, terutama mereka yang rumahnya rusak berat atau masih tergenang air,β jelas Suharyanto.
BNPB bersama pemerintah daerah dan TNI-Polri juga telah mengerahkan personel di lokasi banjir untuk membantu pembersihan, menyalurkan bantuan logistik, serta mendirikan posko kesehatan darurat.
Baca juga:
π Brimob, TNI, dan Tim SAR Evakuasi Warga Terdampak Banjir di Pasar Kumbasari Denpasar
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) turut memberikan peringatan dini terkait pola cuaca ekstrem.
Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, dalam konferensi pers di Jakarta pada Jumat (12/9/2025), menyampaikan bahwa musim hujan 2025/2026 diperkirakan datang lebih awal dari biasanya.
Meski rata-rata curah hujan diperkirakan dalam kondisi normal, Dwikorita menekankan adanya potensi anomali.
Salah satunya adalah kemungkinan turunnya curah hujan setara dengan satu bulan hanya dalam waktu satu hari, atau bahkan beberapa jam saja.
βInilah yang menyebabkan banjir bandang atau genangan luas, seperti yang kita saksikan di Bali beberapa hari lalu,β paparnya.
Baca juga:
π Pulau Bali: Antara Pesona dan Ujian Alam
Kini, banjir di beberapa titik sudah mulai surut. Warga terlihat bergotong royong membersihkan rumah, jalan, dan fasilitas umum dari sisa lumpur serta sampah yang terbawa arus.
Meski demikian, trauma masih terasa, terutama bagi anak-anak dan lansia yang sempat mengungsi ketika hujan deras mengguyur tanpa henti.
Sejumlah warga juga mengeluhkan kerugian material akibat rusaknya perabotan, kendaraan, dan barang berharga.
βAir naik sangat cepat, kami tidak sempat menyelamatkan banyak barang. Hanya bisa menyelamatkan anak-anak,β ungkap Made, warga Denpasar yang rumahnya sempat terendam.
Baca juga:
π Pasar Badung Mulai Pulih, Warga dan Pedagang Gotong Royong Bersihkan Sisa Banjir
Peristiwa banjir ini menjadi peringatan keras bagi pemerintah daerah dan masyarakat. Selain upaya tanggap darurat, langkah mitigasi jangka panjang sangat diperlukan.
Para ahli menilai tata kelola ruang, kondisi drainase, dan alih fungsi lahan di Bali perlu menjadi perhatian serius.
Pemerintah daerah diharapkan memperkuat sistem drainase perkotaan, memperbanyak ruang terbuka hijau, dan memperketat izin pembangunan di kawasan rawan banjir.
Kesadaran masyarakat juga memegang peran penting, terutama dalam menjaga kebersihan lingkungan serta tidak membuang sampah sembarangan yang berpotensi menyumbat saluran air.
Meski kerugian yang ditimbulkan tidak sedikit, semangat gotong royong masyarakat Bali menjadi modal besar untuk bangkit dari bencana ini.
Banyak komunitas, organisasi sosial, hingga relawan turun tangan membantu warga terdampak, baik dengan menyalurkan makanan siap saji, pakaian layak pakai, hingga memberikan dukungan psikososial bagi anak-anak.
Harapannya, melalui kerja sama antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai pihak, Bali tidak hanya mampu pulih dari banjir, tetapi juga semakin tangguh dalam menghadapi ancaman bencana di masa mendatang.