Dalam sebuah podcast, Eckhart, seorang guru spiritual dan penulis buku, pernah berkata bahwa kita tidak pernah benar-benar perlu memaksa diri melawan arus sungai.
Kita mungkin memiliki harapan besar untuk mencapai hulu, tetapi yang ada hanya kelelahan, rasa frustrasi, dan perjuangan yang tampak tak berujung.
Namun ketika kita belajar mengikuti arus, perjalanan hidup justru jadi terasa lebih jujur, kita tak selalu tahu ke mana ia membawa, tetapi setidaknya kita tidak hancur melawannya.
Ada kebijaksanaan sederhana di sana, bahwa hidup kadang bukan tentang mendesak arah, tetapi tentang memahami alirannya dan mengizinkan diri menjadi bagian dari perjalanan itu.
Baca juga:
🔗 Di Antara Derasnya Arus: Refleksi tentang Diam, Ketenangan, dan Kekuatan Menerima
Dua kamera ini pernah menjadi sahabat paling setia di masa aku bekerja di salah satu media nasional. Nilainya puluhan juta, tetapi nilainya di perjalanan hidupku jauh lebih besar daripada angka itu.
Melalui kamera dan lensa inilah banyak peristiwa terekam, momen dramatis, tangis, tawa, dan salah satunya adalah ketika pesawat Lion Air tergelincir di Bali pada tahun 2013.
Dari peristiwa itu pula, seakan hidupku seperti diputar ulang, tempat baru, tantangan baru, dan perlahan, Bali menjadi rumah pertama dari babak baru dalam hidupku.
Kamera-kamera ini dulu bukan sekadar alat kerja, mereka adalah simbol kepercayaan diri, pencapaian, bahkan prestise.
Namun dalam diamnya, ada beban yang tak terlihat, tanggung jawab besar, tuntutan hasil, dan ambisi yang sering kali melebihi kemampuan diri.
Dengan perangkat ini, aku pernah menyimpan begitu banyak rencana besar, ingin membuat karya abadi, menerbitkan buku, mengejar prestasi, dan meraih pengakuan yang kuanggap bisa menjawab setiap kegelisahan.
Namun ambisi sering kali seperti bayangan, semakin kita kejar, semakin ia menjauh. Rencana yang dibangun dengan sepenuh tenaga tiba-tiba runtuh. Hidup berbelok ke arah yang tak pernah dipikirkan.
Hingga pada akhirnya, seperti menyadari aliran sungai yang tak bisa dikendalikan, aku mulai memahami bahwa perjalanan ini tidak pernah salah, hanya aku yang baru belajar mengalir, bukan memaksa.
Suatu saat, dua kamera itu harus dikembalikan ke perusahaan. Pekerjaan berakhir, semua rencana hancur dalam seketika, dan mimpi yang dibangun bertahun-tahun runtuh seperti bangunan yang tak lagi punya fondasi.
Ada masa-masa ketika aku tidak bisa menerima keadaan. Aku bertanya pada diri sendiri, Mengapa ini terjadi? Mengapa semua yang dipertahankan dengan keras justru dilepaskan dariku?
Ironisnya, tak lama setelah itu muncul tawaran pekerjaan dengan posisi lebih baik dan gaji lebih tinggi. Tetapi kamera yang kumiliki saat itu tidak sebanding dengan kebutuhan di tempat baru.
Rasa kehilangan masih terlalu besar, luka masih terlalu segar. Butuh waktu yang panjang untuk menerima kenyataan bahwa apa yang hilang bukanlah hukuman, melainkan ruang kosong yang sedang disiapkan untuk mengalirnya perjalanan hidup berikutnya.
Peristiwa itu perlahan menjadi pembelajaran besar: bahwa apa yang kita kejar dengan keras belum tentu membawa kita pulang.
Terkadang, yang terlihat sebagai akhir justru memastikan kita menemukan arus baru yang lebih jujur, lebih ringan, dan lebih selaras dengan diri yang sebenarnya.
Baca juga:
🔗 Langkah di Jalan Berdebu: Tentang Perjalanan, Kelelahan, dan Mimpi
Pada akhirnya, hidup bukan soal seberapa kuat kita berpegangan pada sesuatu, tetapi seberapa berani kita melepaskannya ketika waktunya tiba.
Dua kamera itu, bersama seluruh ambisi dan mimpi yang pernah kubangun, adalah bagian dari perjalanan panjang yang membentuk siapa diriku hari ini.
Kehilangan mereka dulu terasa seperti kehilangan arah, tetapi justru dari titik itulah aku belajar melihat hidup tanpa kacamata ego dan tanpa tuntutan untuk selalu menang.
Mengikuti arus tidak berarti menyerah. Ia adalah seni menerima, bergerak, dan membuka ruang bagi hal-hal baru yang mungkin belum pernah terpikirkan.
Dan hari ini, ketika menoleh ke belakang, aku tahu bahwa setiap kehilangan, setiap belokan, setiap detik kebingungan, semuanya adalah cara hidup menunjukkan jalan pulangnya.
Kadang kita harus berhenti mengejar, agar bisa benar-benar berjalan. Kadang kita harus kehilangan, agar bisa menemukan diri sendiri.
Dan pada akhirnya, seperti sungai yang terus mengalir, hidup pun akan membawa kita ke tempat yang tepat, asal kita berani percaya pada alirannya.