Banyuwangi merupakan salah satu tujuan favorit wisatawan asing ketika berlibur ke Indonesia. Banyak dari mereka yang sudah berada di Bali memilih melanjutkan perjalanan dengan menyeberang melalui Pelabuhan Gilimanuk menuju Jawa Timur.
Tujuannya jelas, menyaksikan fenomena api biru (blue fire) di Kawah Ijen, sebuah keajaiban alam langka yang hanya dapat ditemui di beberapa tempat di dunia, dan salah satunya ada di Indonesia.
Namun, dalam satu bulan terakhir, Taman Wisata Alam (TWA) Kawah Ijen, Kabupaten Bondowoso, dikabarkan mengalami padamnya sementara fenomena blue fire.
Informasi ini cepat menyebar dan memengaruhi minat wisatawan. Banyak turis akhirnya mengalihkan perjalanan atau membatalkan rencana kunjungan hanya untuk melihat fenomena tersebut.
Baca juga:
🔗 Fenomena ‘Blue Fire’ yang Hanya Ada Dua di Dunia: Menyusuri Kawah Ijen Tanpa Lelah
Fenomena blue fire telah lama menjadi daya tarik utama Kawah Ijen. Untuk menyaksikannya, wisatawan harus melakukan trekking pada dini hari, kemudian turun ke area kawah melalui jalur yang cukup ekstrem.
Perjalanan dalam gelap membuat headlamp dan masker wajib digunakan, mengingat asap belerang yang pekat dan berbahaya.
Seorang traveller bernama Moonstar menceritakan pengalamannya saat pertama kali mengunjungi Kawah Ijen beberapa tahun lalu.
Ia menyebut melihat blue fire dari dekat sebagai salah satu pengalaman terbaik selama menjelajahi Indonesia, meski perjalanannya tidak mudah dan harus dilakukan sebelum subuh.
Menurutnya, semua perjuangan terbayar ketika melihat cahaya biru itu menari di tengah gelapnya kawah.
Dilansir dari Kompas.com, Kepala TWA Ijen, Sigit Haribowo, membenarkan bahwa fenomena blue fire memang tidak tampak dalam beberapa minggu terakhir.
Namun, ia menegaskan bahwa hal tersebut bukan disebabkan oleh fenomena alam maupun kerusakan permanen.
Menurut Sigit, padamnya blue fire adalah dampak dari proses perawatan teknis yang dilakukan oleh pihak perusahaan pengelola sublimasi belerang.
Pekerjaan tersebut melibatkan perbaikan dan penggantian pipa-pipa (pipanisasi), termasuk penyiraman di area tertentu.
Penyiraman inilah yang menghambat keluarnya gas belerang, yang sebenarnya menjadi “bahan bakar” munculnya cahaya biru tersebut.
“Ada penyiraman sehingga tidak ada kegiatan api biru. Itu karena perawatan dan penggantian pipa,” ujarnya. Ia memastikan bahwa kondisi ini bersifat sementara.
Tidak. Blue fire merupakan reaksi alam dari gas belerang yang terbakar ketika bertemu udara.
Selama Kawah Ijen memiliki aktivitas vulkanik dan memproduksi gas belerang, fenomena ini tetap dapat muncul.
Namun, intensitas atau kemunculannya dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor:
Meskipun cahaya biru tidak dapat disaksikan untuk sementara waktu, wisatawan tetap bisa menikmati keindahan Kawah Ijen.
Pemandangan kawah dengan air berwarna toska, puncak gunung yang menawan, serta pengalaman trekking yang menantang tetap menjadi daya tarik tersendiri.
Fenomena blue fire diperkirakan akan kembali terlihat setelah proses perawatan tambang selesai dan kondisi kembali normal.