Sabtu malam, 13 Desember 2025, kawasan Garuda Wisnu Kencana (GWK) Cultural Park, Bali, kembali berubah menjadi pusat energi musik elektronik dunia.
Memasuki hari kedua Djakarta Warehouse Project (DWP) Bali 2025, ribuan penonton dari berbagai penjuru dunia memadati area festival.
Mereka datang dengan satu tujuan, merayakan musik, kebebasan berekspresi, dan kebersamaan dalam satu ruang yang sama.
Deretan nama besar DJ internasional dan nasional menghiasi panggung malam itu. Charlotte de Witte dengan techno yang intens, DubVision, Paul van Dyk, Sander van Doorn, serta kolaborasi lintas generasi seperti Matisse & Sadko b2b Third Party menjadi magnet utama.
Sementara dari dalam negeri, nama-nama seperti Dipha Barus, Whisnu Santika, DJ Roots, Jabi, XYRA, hingga LTN menunjukkan bahwa skena musik elektronik Indonesia terus tumbuh.dan mendapat tempat sejajar di panggung global.
Baca juga:
🔗 DWP Bali 2025 Resmi Dibuka: Lineup Mengguncang, Musik Bertemu Budaya di GWK
Sekitar pukul 21.00 WITA, suasana semakin memuncak ketika DJ Roots mengambil alih kendali panggung.
Dentuman bass yang kuat dan ritme yang agresif langsung menyulut semangat penonton. Area depan panggung dipenuhi lautan manusia yang menari tanpa henti, seakan lupa waktu.
Di antara kerumunan, tampak wisatawan mancanegara berbaur dengan penonton lokal. Musik menjadi bahasa universal yang menyatukan semua orang dalam satu denyut yang sama.
Sorak sorai, lampu panggung yang menari, dan visual spektakuler mempertegas atmosfer pesta malam Minggu yang meriah.
Di antara kerumunan, tampak wisatawan mancanegara berbaur dengan penonton lokal. Bahasa dan latar belakang menjadi tak lagi relevan.
Musik menjadi bahasa universal yang menyatukan semua orang dalam satu denyut yang sama. Sorak sorai, lampu panggung yang menari, dan visual spektakuler mempertegas atmosfer pesta malam Minggu yang meriah.
Tak jauh dari sana, penampilan Jabi menghadirkan pengalaman berbeda. Dengan latar megah Patung Garuda Wisnu Kencana, panggung terasa lebih dramatis dan artistik.
Perpaduan musik elektronik modern dengan simbol budaya Bali menciptakan kesan kuat bahwa DWP Bali bukan sekadar festival musik, melainkan juga perayaan ruang dan identitas lokal.
Di balik kemeriahan panggung, pengamanan menjadi bagian penting dari suksesnya acara berskala internasional ini.
Namun menariknya, antusiasme tidak hanya datang dari para penonton. Karo Rena Polda Bali, Kombes Pol. Daniel Widya Mucharam, S.I.K., M.P.A., turut hadir langsung di lokasi.
Daniel menyempatkan diri berkeliling area festival, menyapa rekan-rekan yang bertugas, mulai dari perwira senior hingga anggota di lapangan.
Terlihat interaksi hangat di antara mereka. Obrolan ringan, senyum, dan saling memberi semangat menjadi pemandangan yang mencerminkan soliditas aparat di tengah tugas berat menjaga keamanan acara yang diperkirakan berlangsung hingga larut malam.
Baca juga:
🔗 Kombes Pol. Daniel Widya Mucharam, S.I.K., M.P.A.: Belajar dari Setiap Langkah Penugasan
Kehadirannya juga menjadi simbol bahwa aparat tidak hanya berdiri sebagai penjaga jarak, tetapi juga memahami denyut acara yang sedang berlangsung.
Pengamanan tidak menghilangkan sisi humanis, justru memperlihatkan kedekatan dengan masyarakat dan dinamika ruang publik.
Malam itu, Daniel mengakui bahwa genre musik yang ditampilkan bukan sepenuhnya berada dalam preferensi pribadinya.
Namun hal tersebut tidak menghalanginya untuk tetap hadir dan menyaksikan langsung festival musik elektronik terbesar di Asia Tenggara ini.
Ia mengenang pengalamannya saat menghadiri DWP Bali 2023, yang juga meninggalkan kesan tersendiri. Baginya, musik, apa pun genrenya, selalu memiliki nilai inspiratif.
Dentuman dance music yang penuh energi justru membuka sudut pandang baru tentang bagaimana musik mampu membangun suasana, emosi, dan koneksi antarindividu dalam skala besar.
Di balik seragam dan tanggung jawab institusional, Kombes Pol. Daniel Widya Mucharam memiliki sisi lain yang tak banyak diketahui publik.
Ia adalah seorang musisi yang tergabung dalam duo DeEX, bersama rekannya Octa. Proyek musik ini mengusung genre pop-rock ballad, jauh berbeda dengan aliran EDM yang menggema di DWP.
Nama DeEX mulai dikenal sejak merilis lagu “Tuhan Tolong”, sebuah karya emosional yang menggandeng Ato Angkasa, vokalis band Angkasa.
Lagu tersebut menampilkan sisi reflektif dan spiritual, memperlihatkan kedalaman ekspresi musikal yang kontras namun saling melengkapi dengan pengalaman menikmati musik elektronik di festival besar.
Hari kedua DWP Bali 2025 kembali menegaskan bahwa festival ini bukan sekadar ajang hiburan.
Ia menjadi ruang pertemuan berbagai energi, musisi, penonton, wisatawan, aparat, hingga pekerja kreatif yang bersama-sama membentuk ekosistem budaya populer modern.
Di bawah bayang-bayang Patung GWK, dentuman musik global berpadu dengan identitas lokal Bali.
Dari lantai dansa hingga pos pengamanan, dari panggung utama hingga sudut-sudut area festival, satu hal terasa jelas, musik memiliki kekuatan untuk menyatukan perbedaan dan menghadirkan pengalaman kolektif yang tak mudah dilupakan.