Ikhlas, Jalan Sunyi yang Menuntun pada Keindahan Hidup

Cahaya lembut menerpa lanskap tenang, melambangkan ketenangan hati dan keikhlasan dalam menjalani kehidupan.
Percayalah, di saat kamu benar-benar ikhlas dengan keadaanmu, di situlah Allah sedang merencanakan kebahagiaan terbaik untukmu. Kombes Pol. Rachmat Hendrawan, S.I.K., M.M. (Foto: Moonstar)

Oleh: Kombes Pol. Rachmat Hendrawan, S.I.K., M.M.

Ikhlas adalah proses di mana kita memisahkan tindakan dari belenggu ekspektasi. Kita melakukan sesuatu karena itu memang benar untuk dilakukan, bukan karena mengharap pujian, balasan, atau pengakuan.

Namun, mengapa ikhlas begitu sulit? Karena kita manusia, makhluk yang secara naluriah ingin diakui dan dihargai.

Maka, ikhlas sejatinya adalah perjuangan melawan ego sendiri, latihan setiap hari untuk membersihkan niat, berulang kali, tanpa henti.

Ikhlas adalah perjalanan batin yang sunyi, tapi justru di sanalah letak keindahannya: ketika kita mampu berdamai dengan diri sendiri dan mempercayai rencana Tuhan sepenuhnya.

Baca juga:
πŸ”— Di Balik Seragam Sang Komandan: Cinta, Tugas, dan Memori Abadi di Pulau Dewata

Pelajaran Ikhlas dari Masa Muda

Waktu SMP, saya masuk sekolah siang. Alasannya sederhana, agar bisa membantu orang tua di pagi hari, memasak, mencuci, dan mengurus rumah.

Ayah saya seorang tentara, dan sejak kecil saya terbiasa hidup menyesuaikan keadaan. Dari situlah tumbuh keinginan untuk meringankan beban orang tua.

Ketika masuk SMA, saya sebenarnya diterima di jurusan Biologi, namun karena pelajarannya berlangsung pagi hari, saya memilih jurusan Sosial yang masuk siang.

Pilihan itu saya ambil bukan karena nilai, tapi karena ingin tetap membantu orang tua seperti biasa.

Dari situ saya belajar, ikhlas itu bukan soal besar kecilnya pengorbanan, tetapi tentang ketulusan menjalani pilihan dengan hati yang lapang.

Baca juga:
πŸ”— Warisan Kesederhanaan dan Cinta Budaya Seorang Ibu

Banyak teman mungkin tidak memahami alasan saya waktu itu. Tapi saya percaya, keputusan yang diambil dengan niat tulus tidak pernah salah.

Kadang, keikhlasan itu sederhana, membantu tanpa diminta, menunda kesenangan pribadi demi kebahagiaan orang lain. Nilai-nilai itu menuntun saya hingga hari ini.

Perjalanan Menuju Akpol: Belajar Menerima Takdir

Tahun 1991, saya mengikuti pendidikan dan seharusnya lulus pada 1994. Namun, karena satu dan lain hal, kelulusan itu tertunda hingga 1995.

Awalnya terasa berat, satu tahun terasa sangat panjang ketika teman-teman sudah lebih dulu melangkah. Tapi waktu mengajarkan, bahwa setiap penundaan punya makna.

Saya belajar menerima, bahwa tidak semua hal berjalan sesuai keinginan kita. Kadang, Tuhan menunda bukan karena kita tidak layak, tapi karena Ia ingin mempersiapkan kita menjadi lebih kuat, lebih siap, dan lebih matang.

Andai waktu itu saya memaksa untuk tidak menerima kenyataan, mungkin saya tidak akan berada di posisi sekarang, menjabat sebagai Dansat Brimob Polda Bali.

Dari situ saya belajar, bahwa keikhlasan selalu membuka jalan terbaik, meski kadang tidak sesuai rencana kita.

Baca juga:
πŸ”— Menjaga Tugas, Menjaga Keluarga: Kisah Seorang Anggota Reskrim di Bali

Ketika Jalan Hidup Membawa ke Brimob

Awalnya saya ditempatkan di Sabhara. Namun kemudian dibuka peluang untuk bergabung ke Brimob. Dari 40 lebih rekan seangkatan di dikjur dasar, lebih dari 30 orang akhirnya masuk Brimob. Saat memberi kabar kepada ayah, beliau sempat berkata:

β€œLebih baik jadi polisi umum saja. Kalau di pasukan, hidupnya berat, jalan hidupnya akan begitu-begitu saja,” ujar ayah saya waktu itu.

Namun saya memilih tetap melangkah. Saya percaya, setiap jalan yang terbuka pasti punya alasan.

Dari situ saya ditugaskan ke Sulawesi Tenggara. Karena kecintaan pada olahraga, suatu hari komandan meminta saya melepas baju dan berlari untuk melihat kemampuan fisik.

Tak lama setelah itu, saya divalidasi menjadi anggota Brimob di Kendari dan dipercaya sebagai Danton. Saat saya mengabari ayah, beliau akhirnya menerima keputusan itu dengan lapang dada.

Di Brimob, saya belajar arti keikhlasan dalam wujud nyata, disiplin, pengorbanan, dan loyalitas. Hidup di pasukan berarti siap ditempatkan di mana saja, kapan saja.

Tidak semua hari berisi kenyamanan. Tapi di sanalah saya memahami, bahwa ikhlas adalah kekuatan yang menjaga kita tetap tegak, bahkan saat keadaan tidak mudah.

Saya pun semakin yakin, ikhlas tidak berarti menyerah, melainkan percaya bahwa setiap langkah yang kita ambil dengan niat baik akan menemukan jalannya sendiri.

Ikhlas Demi Ibu

Dalam perjalanan karier, saya tidak pernah meminta penugasan di tempat tinggal orang tua, Banjarmasin.

Namun, ketika ibu sakit stroke, hati saya tergerak. Saya berusaha agar bisa bertugas di sana untuk merawatnya. Saya rela menunda peluang karier yang lebih besar demi bisa berada di samping ibu.

Keputusan itu tidak pernah saya sesali. Justru di sanalah saya menemukan makna keikhlasan yang sesungguhnya, berbakti tanpa pamrih, mencintai tanpa syarat, dan mendampingi hingga akhir hayatnya.

Saya bersyukur, saat ibu berpulang, saya ada di sisinya. Tidak ada jabatan, penghargaan, atau pangkat apa pun yang sebanding dengan ketenangan hati ketika bisa menutup mata ibu dengan tangan sendiri.

Bagi saya, itulah purna tugas yang paling mulia dalam hidup: menjadi anak yang ikhlas membalas kasih seorang ibu.

Baca juga:
πŸ”— Perjalanan Seorang Ibu: Dari Rasa Sakit Menjadi Cinta yang Tak Terbatas

Ikhlas Adalah Melepas, Bukan Menyerah

Ikhlas bukan berarti pasrah tanpa usaha. Ikhlas adalah berjuang sekuat tenaga, lalu melepaskan hasil akhirnya dengan hati yang lapang, apa pun bentuknya. Fokusnya bukan pada hasil, melainkan pada keindahan proses.

Ikhlas tidak membuat hidup tanpa masalah, tapi membuat kita tidak mudah dikalahkan oleh masalah.

Dalam setiap fase kehidupan, dari anak prajurit kecil yang membantu orang tua, hingga memimpin satuan pasukan di Polda Bali, saya belajar bahwa ikhlas bukan sesuatu yang bisa diajarkan dalam teori.

Ia tumbuh dari pengalaman, dari jatuh bangun, dari belajar menerima dan bersyukur atas setiap ketentuan-Nya.

Sebab, ikhlas bukan sesuatu yang kita capai, melainkan sesuatu yang kita lepaskan. Dan ketika kita sudah bisa melepaskan, kita akan menyadari satu hal: bahwa setiap ujian yang kita jalani ternyata adalah cara Tuhan menuntun kita menuju versi terbaik diri sendiri.

Percayalah, di saat kamu benar-benar ikhlas dengan keadaanmu, di situlah Allah sedang merencanakan kebahagiaan untukmu, kebahagiaan yang tidak selalu terlihat oleh mata, tapi sangat dirasakan oleh hati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *