Satu Tahun Mengabdi di Laut Maluku Utara: Kiprah Kombes Pol Azhari Juanda

Personel Ditpolairud Polda Maluku Utara dalam kegiatan pengabdian di lapangan.
Ditpolairud Polda Maluku Utara di bawah kepemimpinan Kombes Pol Azhari Juanda adalah cerminan dari pengabdian yang sering kali tidak terlihat, namun terasa dampaknya. (Foto: Dokumentasi)

Maluku Utara merupakan salah satu provinsi kepulauan di Indonesia yang didominasi oleh wilayah perairan.

Hamparan laut yang luas, gugusan pulau yang tersebar, serta dinamika cuaca yang tidak menentu menjadikan wilayah ini memiliki tantangan tersendiri dalam hal pengamanan dan pelayanan.

Kondisi geografis ini menuntut kehadiran sosok pemimpin yang tidak hanya memahami tugas kepolisian secara teknis, tetapi juga mampu membaca karakter wilayah maritim secara utuh.

Di tengah kebutuhan tersebut, hadir sosok Kombes Pol Azhari Juanda. Seorang perwira yang telah lama mengenal denyut kehidupan masyarakat pesisir Maluku Utara.

Pengalamannya menjabat sebagai Kapolres di wilayah Tidore dan Ternate menjadi fondasi kuat dalam memahami persoalan, budaya, serta pola kehidupan masyarakat kepulauan.

Ia tidak datang sebagai orang baru, melainkan sebagai bagian dari perjalanan panjang wilayah itu sendiri.

Memasuki awal tahun 2025, Kombes Pol Azhari Juanda resmi mengemban amanah sebagai Direktur Polisi Perairan dan Udara (Dirpolairud) Polda Maluku Utara.

Jabatan ini bukan sekadar posisi struktural, tetapi sebuah tanggung jawab besar dalam menjaga laut sebagai ruang hidup masyarakat sekaligus jalur strategis negara.

Dalam setiap langkahnya, ia menegaskan bahwa pengamanan laut tidak hanya soal patroli dan penegakan hukum, tetapi juga tentang kehadiran, hadir di tengah masyarakat, hadir dalam kesulitan, dan hadir sebagai solusi.

Merekam Pengabdian: Dari Lapangan Menjadi Sebuah Buku

Salah satu hal yang menjadi ciri khas kepemimpinannya adalah bagaimana ia memaknai kerja sebagai sesuatu yang layak dihargai.

Selama lebih dari satu tahun menjabat, seluruh aktivitas personel di lapangan tidak hanya dijalankan, tetapi juga didokumentasikan dan dibukukan.

Buku tersebut bukan sekadar laporan formal, melainkan bentuk penghargaan nyata terhadap dedikasi anggota yang bekerja di garis depan.

β€œGiat satu tahun saya bukukan. Isinya adalah aktivitas anggota di lapangan, sebagai bentuk penghargaan saya terhadap kinerja personel Polairud Polda Malut,” ungkapnya.

Di balik setiap halaman, tersimpan cerita tentang gelombang yang dihadapi, malam yang dilalui di tengah laut, hingga komitmen yang terus dijaga dalam sunyi.

Buku ini menjadi simbol bahwa setiap kerja, sekecil apa pun, memiliki makna ketika dilakukan dengan ketulusan.

Lebih dari itu, dokumentasi ini juga menjadi jejak sejarah, bahwa di suatu masa, ada sekelompok orang yang menjaga laut dengan sepenuh hati.

Baca juga:
πŸ”— Menyambut 80 Tahun Kemerdekaan: Refleksi dan Tekad Membangun Maluku Utara yang Berdaulat, Adil, dan Makmur

Capaian Nyata: Antara Penegakan Hukum dan Kemanusiaan

Selama masa kepemimpinannya, berbagai capaian berhasil ditorehkan oleh Ditpolairud Polda Maluku Utara.

Capaian tersebut tidak hanya mencerminkan keberhasilan dalam penegakan hukum, tetapi juga menunjukkan sisi humanis dari tugas kepolisian. Beberapa di antaranya adalah:

  • Keberhasilan menggagalkan penyelundupan satwa langka dari Papua Barat yang sempat menjadi perhatian publik nasional.
  • Pengungkapan praktik ilegal penggunaan bom ikan di perairan Pulau Bisa, Halmahera Selatan, sebuah langkah penting dalam menjaga ekosistem laut.
  • Kehadiran layanan kesehatan terapung bagi nelayan di wilayah Tobelo, yang menjadi solusi bagi keterbatasan akses layanan medis.
  • Edukasi kepada nelayan di Desa Jikotamo tentang penggunaan alat tangkap ramah lingkungan.
  • Peningkatan kesadaran masyarakat pesisir terhadap keamanan dan keselamatan di laut.
  • Perawatan rutin armada kapal patroli, termasuk KP Kie Besi XXX-2016, guna memastikan kesiapan operasional.
  • Respon cepat dalam pencarian remaja hilang di kawasan Gunung Gamalama, yang menunjukkan kesiapsiagaan lintas wilayah.


Rangkaian kegiatan ini memperlihatkan bahwa Polairud tidak hanya hadir sebagai penjaga hukum, tetapi juga sebagai pelindung kehidupan, baik manusia maupun alam.

Baca juga:
πŸ”— Berprestasi, Polda Maluku Utara Raih 5 Penghargaan dalam Musrenbang Polri 2025

Laut sebagai Ruang Hidup: Pendekatan yang Lebih Dalam

Bagi masyarakat Maluku Utara, laut bukan sekadar bentang alam. Laut adalah sumber kehidupan, ruang mencari nafkah, sekaligus bagian dari identitas budaya.

Memahami hal ini, Kombes Pol Azhari Juanda menekankan pendekatan yang lebih manusiawi dalam menjalankan tugas.

Pendekatan ini diwujudkan melalui interaksi langsung dengan nelayan, dialog terbuka dengan masyarakat pesisir, serta keterlibatan dalam kegiatan sosial. Dengan cara ini, kehadiran Polairud tidak terasa sebagai jarak, melainkan sebagai kedekatan.

Kepercayaan masyarakat pun perlahan tumbuh. Mereka tidak lagi melihat aparat sebagai pihak yang datang hanya saat ada masalah, tetapi sebagai mitra yang berjalan bersama dalam menjaga laut.

Baca juga:
πŸ”— Raja Ampat, Surga Bawah Laut yang Harus Dijaga

Sinergi sebagai Kunci

Keberhasilan dalam menjaga wilayah perairan tidak bisa dilakukan secara sendiri. Dibutuhkan sinergi yang kuat antara kepolisian, pemerintah daerah, instansi terkait, hingga masyarakat.

Di bawah kepemimpinannya, kolaborasi ini terus diperkuat. Setiap program dirancang tidak hanya untuk jangka pendek, tetapi juga sebagai bagian dari upaya berkelanjutan. Komunikasi lintas sektor dibangun, koordinasi ditingkatkan, dan kepercayaan dijaga.

Sinergi inilah yang menjadi fondasi dalam menciptakan stabilitas keamanan laut di Maluku Utara.

Penutup: Mengabdi dalam Sunyi, Menjaga dalam Kesetiaan

Apa yang dilakukan oleh Ditpolairud Polda Maluku Utara di bawah kepemimpinan Kombes Pol Azhari Juanda adalah cerminan dari pengabdian yang sering kali tidak terlihat, namun terasa dampaknya.

Di tengah luasnya laut dan kompleksitas wilayah kepulauan, ada dedikasi yang terus berjalan tanpa banyak sorotan. Ada kerja yang dilakukan dalam diam, namun memberi arti besar bagi masyarakat.

Laut tidak hanya dijaga dari ancaman, tetapi juga dirawat sebagai sumber kehidupan yang harus diwariskan kepada generasi mendatang.

Dan di balik semua itu, ada satu pesan yang tersirat, bahwa mengabdi kepada negeri tidak selalu harus terlihat besar, tetapi harus terasa nyata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *