Bagi Kombes Pol. Daniel Widya Mucharam, S.I.K., M.P.A., tugas di tempat baru bukan hanya tentang menjalankan perintah, tetapi juga tentang memahami kehidupan masyarakat di sekitarnya.
Ia percaya bahwa untuk bisa diterima dan bekerja efektif di suatu daerah, seorang pemimpin harus mampu membaca “bahasa yang tak terucap”, yaitu kebiasaan, nilai, dan budaya masyarakat setempat.
“Bahasa bukan hanya kata-kata. Bahasa bisa berupa kebiasaan sehari-hari, cara mereka menyapa, cara mereka makan, atau bagaimana mereka menjaga keharmonisan,” ujarnya suatu ketika.
Prinsip inilah yang membuat dirinya selalu bisa menyesuaikan diri di berbagai daerah tempat ia bertugas.
Dalam pengalaman panjangnya bertugas di berbagai wilayah, Kombes Daniel memahami satu hal penting, setiap tempat memiliki caranya sendiri dalam menyambut dan menilai orang baru.
Ia selalu berupaya menjadi tamu yang menghormati tuan rumah, dengan cara menyesuaikan sikap dan tindakannya terhadap budaya setempat.
“Kalau di satu tempat masyarakatnya suka berkumpul dan bersenda gurau sambil minum kopi, kita ikut duduk bersama. Kalau di tempat lain nuansa keagamaannya sangat kuat, maka kita ikut menjaga ketenangan dan sopan santun di lingkungan itu,” jelasnya.
Ia mencontohkan sebuah peristiwa sederhana, namun sarat makna.
“Kadang kita ingin memberikan sesuatu yang baik, tapi kalau tidak sesuai dengan kebiasaan mereka, justru tidak tepat sasaran. Misalnya kita memberikan nasi goreng, padahal masyarakat setempat lebih senang nasi campur. Jadi memahami apa yang sesuai itu bagian dari strategi sosial yang penting.”
Baca juga:
🔗 Kombespol Daniel Widya Mucharam, SIK., MPA: Sosok Humanis di Tengah Gaung Reformasi Polri
Saat ini menjabat sebagai Kepala Biro Perencanaan (Karo Rena) Polda Bali, Kombes Daniel tetap memegang teguh prinsip hidupnya:
“Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.” Prinsip ini menjadi panduan moral dalam setiap langkah penugasannya.
Dalam suatu kesempatan, ia bahkan ikut memasuki area pura untuk menghormati pelaksanaan upacara adat.
Meski ia berdoa sesuai dengan keyakinan pribadinya, tindakannya itu dilandasi rasa hormat terhadap tradisi umat lain. Sikap tersebut menunjukkan bagaimana toleransi sejati bukan hanya sebatas teori, tetapi perlu diwujudkan dalam tindakan nyata.
“Kadang orang melihat berbeda agama sebagai batas, tapi saya melihatnya sebagai ruang belajar. Karena setiap perbedaan selalu membawa pelajaran tentang makna kemanusiaan,” tuturnya.
Bertugas di Bali menjadi pengalaman istimewa bagi Kombes Daniel. Di tengah keindahan alam dan kearifan lokal masyarakatnya, ia menemukan makna baru tentang keseimbangan hidup.
“Saya sangat bersyukur bisa ditugaskan di Bali. Di sini saya banyak belajar bagaimana masyarakat hidup selaras dengan alam, menjaga tradisi, dan tetap terbuka terhadap dunia luar,” ungkapnya.
Melalui kesehariannya di Bali, ia menyadari bahwa harmoni tidak hanya dibangun melalui aturan, tetapi melalui hati yang mampu menghargai perbedaan. “Kalau kita datang dengan niat baik dan hati terbuka, maka masyarakat pun akan menyambut kita dengan tulus,” tambahnya.
Baca juga:
🔗 Mengisi Ruang Kosong dalam Hidup: Perenungan Seorang Perwira Polisi di Pulau Bali
Dari berbagai daerah yang pernah ia singgahi, selalu ada kesan mendalam yang tertinggal. Masyarakat mengenal dirinya bukan hanya sebagai perwira polisi, tetapi juga sebagai sosok yang rendah hati dan mudah bergaul. Setiap wilayah tempat ia bertugas selalu meninggalkan cerita dan rindu tersendiri.
Karena bagi Kombes Pol. Daniel Widya Mucharam, tugas bukan sekadar tanggung jawab institusi, melainkan perjalanan hidup untuk belajar, menghormati, dan menebar kebaikan.
“Setiap penugasan adalah guru. Dan setiap orang yang kita temui adalah cermin yang mengajarkan bagaimana menjadi manusia yang lebih baik,” tutupnya dengan senyum tenang.
Perjalanan karier Kombes Pol. Daniel Widya Mucharam, S.I.K., M.P.A. menjadi bukti bahwa keberhasilan dalam bertugas tidak hanya ditentukan oleh kepemimpinan dan strategi, tetapi juga oleh kemampuan untuk menyatu dengan nilai-nilai lokal dan bekerja dengan hati.
Di setiap tempat ia berpijak, ia tidak hanya meninggalkan jejak tugas, tetapi juga kesan tentang ketulusan, penghormatan, dan pembelajaran hidup.
Prinsipnya yang sederhana namun mendalam, “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung” menjadi fondasi yang membimbingnya untuk tetap rendah hati di tengah jabatan dan tangguh di setiap tantangan.
Dalam dirinya, tugas dan kemanusiaan berjalan beriringan. Ia tidak hanya menjaga keamanan, tetapi juga menjaga rasa hormat dan harmoni di tengah keberagaman.
Dari perjalanan panjangnya, satu pesan dapat dipetik bahwa menjadi pelayan masyarakat bukan hanya tentang menjalankan aturan, tetapi juga tentang memahami jiwa manusia di setiap sudut negeri.
Baca juga:
🔗 Vibrasi Kehidupan dan Kesadaran Diri Dua Perwira Menengah di Polda Bali