Kombes Pol. Rachmat Hendrawan, S.I.K., M.M. telah hampir dua tahun menjalani pengabdian di Pulau Bali sebagai bagian dari perjalanan tugasnya.
Dalam rentang waktu tersebut, tercatat tiga kali kesempatan penugasan di Bali datang menghampiri. Namun, seperti banyak hal dalam hidup, waktu selalu memiliki caranya sendiri untuk menentukan kapan sesuatu benar-benar tiba.
Kesempatan itu baru benar-benar terwujud pada Agustus 2024, saat ia dipercaya mengemban amanah di pulau ini.
Tidak semua tempat diciptakan untuk menjadi tujuan akhir. Sebagian hadir hanya sebagai ruang singgah, didatangi tanpa rencana, ditempati sementara, lalu perlahan dilepaskan.
Kita mungkin tak pernah menuliskannya dalam daftar impian hidup, namun justru di tempat-tempat semacam itulah kita kerap menemukan kembali diri sendiri.
Ruang singgah sering luput dari perhatian. Ia tak datang dengan papan nama besar atau janji manis. Kehadirannya sederhana, nyaris diam, tetapi terbuka bagi siapa pun yang tiba dengan tubuh lelah dan pikiran penuh.
Kadang ia berupa bangku kayu di bawah lampu temaram, kadang hanya senja yang memaksa langkah melambat.
Namun hampir selalu, kehadirannya memiliki alasan, meski alasan itu baru dipahami jauh setelah kita pergi.
Baca juga:
🔗 Ruang Singgah, Bukan Tujuan: Di Antara Lelah dan Harapan
Sepanjang perjalanan kariernya, berbagai penugasan telah membawanya melintasi banyak tempat.
Dari sekian banyak wilayah, salah satu yang paling membekas adalah Kalimantan Selatan, Banjarmasin, daerah tempat ia dibesarkan.
Di sanalah ia sempat merawat ibunya hingga menyaksikan langsung kepergian sang ibu. Sebuah fase yang menghadirkan rasa tuntas, tuntas sebagai anak, tuntas sebagai manusia yang diberi kesempatan untuk hadir sepenuhnya di saat paling genting.
Pengalaman itu menjadi penanda bahwa tidak semua perjalanan diukur dari prestasi atau jabatan.
Ada perjalanan yang ukurannya adalah kehadiran. Ada tugas yang tak tercantum dalam surat perintah, namun justru paling menentukan makna hidup.
Menemani orang tua di masa akhir hidupnya adalah bentuk pengabdian yang sunyi, tanpa pangkat, tanpa tepuk tangan, tetapi meninggalkan jejak yang dalam.
Dari sana, ia belajar bahwa hidup tidak selalu menuntut kita bergerak cepat. Kadang hidup justru meminta kita berhenti, duduk, dan menemani.
Kehadiran menjadi bentuk keberanian tersendiri, keberanian untuk menerima kehilangan, serta keikhlasan untuk tidak lari dari duka.
Baca juga:
🔗 Bakti Seorang Anak Laki-laki: Menundukkan Diri di Hadapan Ibu
Di Bali, ia merasakan sesuatu yang berbeda. Pulau ini seolah mengajaknya terus melakukan introspeksi, menata ulang keseimbangan hidup di tengah dinamika tugas yang tak pernah benar-benar berhenti.
Di balik ritme pekerjaan yang padat dan tanggung jawab yang berat, Bali tidak menawarkan pelarian, melainkan ruang perenungan.
Salah satu caranya adalah melalui rutinitas sederhana, berjalan pagi di Pantai Sanur, tak jauh dari tempat tugasnya.
Langkah-langkah pelan di tepi laut menjadi ruang dialog sunyi antara diri, waktu, dan tanggung jawab.
Ombak datang dan pergi tanpa tergesa, seakan mengingatkan bahwa tidak semua hal harus diselesaikan dengan terburu-buru.
Di sana, pagi tak pernah benar-benar riuh. Matahari naik perlahan, nelayan menyiapkan perahu, dan angin laut membawa aroma yang akrab.
Dalam kesederhanaan itu, ada ruang untuk bernapas. Ada jeda yang memberi kesempatan untuk bertanya kembali, sejauh apa diri ini telah berjalan, dan ke mana sebenarnya arah yang ingin dituju.
Baca juga:
🔗 Sanur: Harmoni Pagi, Ruang Rileksasi, dan Inspirasi Menjaga Kesehatan
Dalam fase ini, ia merasa berada di ruang antara, sebuah ruang tunggu. Sebuah masa untuk menyelami keberadaan diri di Pulau Bali, lengkap dengan dinamika penugasan yang menuntut ketangguhan.
Lelah, bosan, bahkan rasa tak nyaman adalah bagian dari proses yang tak terhindarkan. Namun semua itu mesti dijalani, sebab tanggung jawab bukan untuk ditawar, melainkan dituntaskan, meski hanya di ruang singgah.
Ruang ini mungkin tak selalu nyaman, tetapi jujur. Ia memperlihatkan sisi manusia yang kerap disembunyikan: keraguan, keletihan, dan keinginan untuk sekadar menjadi manusia biasa. Di sinilah seseorang belajar berdamai dengan keterbatasan, tanpa harus kehilangan komitmen.
Ruang singgah tak pernah menanyakan siapa kita, dari mana kita berasal, atau ke mana tujuan akhir kita. Ia menerima tanpa syarat. Barangkali karena itulah kita merasa lebih ringan saat berada di sana. Tak ada tuntutan untuk selalu kuat. Tak ada keharusan untuk tampak berhasil.
Di ruang singgah, kita hanya diminta satu hal: hadir sepenuhnya. Dan terkadang, itu sudah lebih dari cukup.