Dalam sebuah video di TikTok, seorang host mewawancarai beberapa lansia dengan satu pertanyaan sederhana:
βJika diberi kesempatan kembali ke usia 20 tahun, apa yang akan kamu lakukan?β Jawaban yang paling sering muncul bukan tentang jabatan, aset, atau kekayaan, melainkan pergi, berkelana, dan melihat dunia.
Banyak dari mereka bercerita bahwa ketika muda, mereka memilih menunggu. Menunggu punya uang. Ketika uang mulai ada, menunggu karier mapan agar bisa punya lebih banyak lagi.
Setelah itu, menunggu aset terkumpul supaya masa tua terasa aman dan tenang. Semua keputusan itu terasa rasional, bahkan bijak.
Namun tanpa disadari, yang terus bergerak bukan hanya saldo rekening, melainkan juga waktu.
Ironisnya, semua yang ditunggu itu memang akhirnya tercapai. Karier ada. Rumah ada. Tabungan cukup. Namun satu hal yang tak bisa kembali adalah waktu itu sendiri.
Dan bersama waktu, fisik pun perlahan ikut tertinggal. Energi tak lagi sama, keberanian tak lagi sekuat dulu, dan tubuh tak lagi sefleksibel masa muda.
Menunggu memberi ilusi keamanan, tetapi sering kali menuntut harga yang tak kita sadari di awal, kesempatan.
Banyak orang baru menyadari hal ini ketika melihat ke belakang, saat hidup tak lagi memberi ruang untuk mengulang.
Baca juga:
π Waktu yang Tak Akan Kembali: Refleksi Seorang Ayah tentang Nilai Waktu dan Kehadiran
Pola pikir ini sesungguhnya juga hidup dalam banyak dari kita hari ini. Kita meyakinkan diri bahwa perjalanan bisa ditunda, bahwa mimpi bisa menunggu sampai semuanya siap, uang cukup, karier stabil, aset terkumpul.
Namun dalam proses menunggu itulah, hidup sering kali berjalan lebih cepat dari yang kita sadari.
Ada sebuah kisah tentang pasangan suami istri yang telah lama berniat berkeliling Bali menggunakan mobil.
Anak-anak mereka sudah besar, aset sudah dimiliki, dan kehidupan terasa cukup. Bahkan, mereka membeli mobil khusus untuk perjalanan itu, sebuah simbol bahwa rencana tersebut akhirnya βsiapβ untuk dijalankan.
Namun hidup berkata lain. Sang suami mengalami gangguan penglihatan; satu matanya tak lagi melihat dengan jelas.
Perjalanan yang selama ini ditunda akhirnya tak sempat dijalani. Bukan karena kurang persiapan, tetapi karena tubuh tak lagi memberi izin.
Kisah ini menjadi pengingat sunyi bahwa kesiapan finansial tak selalu berjalan seiring dengan kesiapan fisik.
Saat semua syarat eksternal terpenuhi, sering kali justru syarat yang paling mendasar, kesehatan dan waktu, sudah lebih dulu berlalu.
Baca juga:
π Keriput yang Menyimpan Cerita Panjang
Cerita lain datang dari seorang ayah rumah tangga bernama Moonstar, yang tinggal di Bali bersama istri dan dua anaknya.
Di usia 30-an, ia menjelajah Indonesia, berpindah dari satu daerah ke daerah lain. Ia merasakan hidup yang bergerak, bertemu orang-orang baru, dan belajar dari perjalanan.
Namun pada usia 35 tahun, perjalanan itu terhenti. Ia menikah, membangun keluarga, dan memprioritaskan stabilitas.
Kini, ketika anak-anak mulai tumbuh besar, kerinduan itu kembali muncul. Bukan kerinduan untuk pergi sendiri, melainkan keinginan untuk mengajak istri dan anak-anaknya melihat Indonesia, bukan dari peta atau layar, tetapi dari pengalaman langsung, dari sudut pandang mereka sendiri.
Kisah Moonstar menunjukkan bahwa tidak semua mimpi harus mati, sebagian hanya berubah bentuk.
Ada pula mereka yang memilih berjalan lebih awal, meski secara finansial belum sepenuhnya mapan. Bukan karena nekat, melainkan karena memahami satu hal penting, hidup tak pernah benar-benar menunggu siap.
Baca juga:
π Hidup Tak Perlu Tergesa Bahkan Kupu-Kupu Pun Menikmati Setiap Kelopak yang Ia Singgahi
Pada akhirnya, hidup bukan tentang menyiapkan segalanya hingga sempurna, melainkan tentang keberanian untuk hadir sepenuhnya di saat ini.
Kita boleh berhitung, boleh merencanakan, boleh berhati-hati, namun jangan sampai kehati-hatian itu berubah menjadi penundaan tanpa akhir. Karena hidup tak menunggu kita siap, ia terus berjalan, dengan atau tanpa kita.
Jika ada mimpi yang masih bisa dijalani hari ini, jalani. Jika ada langkah kecil yang bisa diambil sekarang, ambil.
Sebab kelak, yang paling sering kita sesali bukanlah kegagalan, melainkan kesempatan yang tak pernah kita coba, hanya karena kita terlalu lama menunggu waktu yang dianggap tepat.