Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, manusia kerap dipaksa untuk selalu kuat, produktif, dan terlihat baik-baik saja.
Padahal, ada hari-hari ketika dada terasa penuh, kepala bising, dan kata-kata tak tahu harus keluar ke mana.
Pada titik inilah pelarian hadir, bukan sebagai bentuk menyerah, tetapi sebagai cara paling jujur untuk bertahan.
Bukan tentang gaya, bukan tentang tren, melainkan tentang menemukan ruang aman untuk bernapas.
Tidak semua masalah butuh solusi segera. Ada kalanya yang dibutuhkan hanyalah berhenti sejenak.
Menepi dari keramaian, dari layar, dari tuntutan peran yang melekat setiap hari. Bagi sebagian orang, menepi berarti duduk dengan secangkir kopi, membiarkan pahitnya menyadarkan bahwa hidup memang tidak selalu manis.
Baca juga:
🔗 Nilai Sebuah Cangkir Kopi: Antara Tempat, Harga, dan Makna
Bagi yang lain, menepi berarti laut. Ombak yang datang dan pergi mengajarkan satu hal sederhana, semua perasaan bersifat sementara.
Di hadapan alam, manusia tidak dituntut untuk menjelaskan apa pun. Tidak perlu terlihat kuat, tidak perlu menyusun kalimat rapi. Cukup hadir, dan membiarkan waktu bekerja dengan caranya sendiri.
Sebagian orang menemukan jeda melalui rokok elektronik. Bukan sebagai simbol gaya hidup urban, melainkan sebagai ritme untuk mengatur napas.
Tarikan yang pelan, hembusan yang dilepas perlahan, seperti mengajarkan tubuh dan pikiran untuk ikut melambat.
Di momen ini, vape bukan inti cerita. Ia hanya latar, pengiring sunyi di antara percakapan yang tidak selalu utuh.
Kadang diselingi tawa kecil, kadang diisi diam panjang. Jeda-jeda semacam ini sering kali menjadi ruang paling jujur, tempat seseorang bisa berkata, “Aku capek,” tanpa merasa harus menjelaskan lebih jauh.
Pelarian yang paling bermakna hampir selalu melibatkan manusia lain. Seorang teman curhat yang tidak menghakimi, tidak tergesa memberi solusi, dan tidak mengubah cerita menjadi kompetisi penderitaan. Kehadirannya sederhana, tapi penting, mendengar.
Dalam kebersamaan seperti itu, kopi, laut, atau vape hanyalah medium. Yang benar-benar menyembuhkan adalah rasa diterima apa adanya.
Bahwa kita boleh rapuh. Bahwa kita boleh tidak tahu harus ke mana. Dan bahwa ada seseorang yang bersedia duduk di samping kita sampai senja habis, tanpa tuntutan apa pun.
Baca juga:
🔗 Kebersamaan yang Sejati Bukan Diukur dari Berapa Lama Bersama, Tapi Seberapa Dalam Saling Memahami
Pada akhirnya, pelarian tidak selalu berarti pergi jauh atau menghilang dari dunia. Kadang ia hanya tentang berani berhenti, menarik napas, dan jujur pada diri sendiri.
Tentang menerima bahwa lelah adalah bagian dari hidup, dan mencari cara paling sederhana untuk tetap utuh.
Entah itu lewat kopi, laut, vape, atau obrolan sunyi dengan seorang teman, semua hanyalah jalan.
Yang terpenting adalah kesadaran bahwa kita tidak sendirian, dan kita tidak harus selalu kuat. Karena di tengah hiruk pikuk kehidupan, kejujuran pada diri sendiri adalah bentuk keberanian yang paling jarang dimiliki dan justru paling dibutuhkan.