Sebuah pesan singkat masuk ke ponsel saya pagi itu. Dari seorang kawan lama, seorang barista terbaik yang pernah saya temui.
Ia menulis, “Makasih brother udah sharing foto kenangan kita.”
Bersamaan dengan pesan itu, saya mengirimkan foto secangkir kopi buatannya dengan nama saya tertulis di atas buih latte art.
Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya secangkir kopi. Tapi bagi saya, itu adalah simbol perjalanan persahabatan, kisah tentang bagaimana kopi mempertemukan dua orang dalam makna yang lebih dalam.
Kawan lama ini adalah teman satu almamater di ITHB Bandung. Saat kuliah, kami hanya sebatas saling kenal tak begitu dekat, tapi cukup untuk saling menyapa. Setelah lulus, kami menempuh jalan masing-masing, sibuk mengejar arah hidup yang berbeda.
Hingga pada tahun 2016, takdir mempertemukan kami kembali dalam suasana yang berbeda. Saat itu ia bekerja di salah satu coffee shop ternama di Bandung.
Kami kembali berinteraksi lewat media sosial, dan ketika saya berkunjung ke Bandung, saya menyempatkan diri mampir ke tempatnya bekerja.
Di sana, ia mentraktir saya segelas kopi atau lebih tepatnya, beberapa jenis kopi. Mulai dari V60, Long Black, Cappuccino, hingga Latte.
Sambil menyeduh, ia menjelaskan dengan penuh semangat tentang karakter kopi arabika yang cenderung asam, lembut di lidah, dan memiliki aroma yang khas tergantung dari ketinggian tempat asalnya.
Saya masih ingat bagaimana matanya berbinar saat menjelaskan perbedaan antara biji kopi dari Toraja, Gayo, hingga Kintamani.
Dari pertemuan itulah saya mulai mengenal dunia kopi lebih dalam bukan sekadar minuman, tetapi juga cerita, pengetahuan, dan perasaan yang menyertainya.
Baca juga:
🔗 Budaya Minum Kopi di Indonesia: Lebih dari Sekadar Menyeruput
Kala itu, ia bercerita bahwa mendapat tawaran kerja di Bali. Namun gajinya tidak sebesar di Bandung. Ia ragu antara menetap di zona nyaman atau melangkah menuju sesuatu yang belum pasti.
Saya hanya berkata, “Kalau kamu mencari gaji yang sama, mungkin sulit. Tapi kamu masih bujangan. Siapa tahu kebebasan, wawasan, dan sisi spiritualmu justru akan terbuka di sana.
Setahun kemudian, tepatnya 2017, pesan dari kawan ini kembali muncul di ponsel saya. Ia sudah berada di Ubud, Bali bekerja sebagai barista di sebuah coffee shop yang dikelilingi sawah dan udara pagi yang sejuk.
Sejak saat itu hubungan kami semakin dekat. Setiap kali saya datang ke Ubud, ia selalu menyiapkan kopi untuk saya. Bahkan, jatah kopinya di tempat kerja sering ia sisihkan untuk saya.
Namun tentu saja, ketika rezeki sedang lapang, saya selalu membayar penuh bukan karena formalitas, tapi sebagai bentuk penghargaan atas kerja keras dan dedikasinya.
Kami sering berbincang panjang di sela-sela aroma biji kopi yang baru digiling. Tentang hidup, tentang pilihan, dan tentang mimpi-mimpi kecil yang kadang hanya bisa diwujudkan seteguk demi seteguk.
Saya mengikuti perjalanan kariernya dari satu coffee shop ke tempat lain, hingga akhirnya ia berani membuka kedai kopi sederhana miliknya sendiri.
Bukan di pusat kota, bukan pula di tempat ramai turis. Tapi justru di sudut tenang, di mana suara angin dan musik lembut menjadi teman paling jujur bagi setiap pelanggan.
Saya pun menjadi pelanggan setianya. Meski tempatnya kecil, suasananya hangat dan penuh cerita. Ia menyambut setiap pelanggan dengan senyum dan perhatian yang tulus.
Tak heran, banyak orang datang bukan hanya untuk menyeruput kopi, tetapi juga untuk merasakan energi baik darinya.
Suatu pagi, saya sempat menyaksikan seorang wisatawan asing datang ke kedainya. Katanya, malam itu ia harus terbang pulang.
Namun sebelum berangkat, ia sengaja mampir hanya untuk mengucapkan terima kasih dan menikmati secangkir kopi terakhir dari tangan kawan saya itu.
Begitulah pengaruh sederhana namun mendalam dari seseorang yang mencintai pekerjaannya, membuat setiap cangkir terasa seperti cerita yang sedang disajikan.
Waktu berlalu, dan hidup kembali membuka lembaran baru. Dunia membawa kawan saya ini jauh dari Bali hingga ke Kanada.
Di sana, ia tetap bekerja di dunia yang sama, dunia kopi. Namun kini ia bukan hanya seorang barista, melainkan seorang pembelajar sejati yang terus memperdalam pengetahuan tentang biji, teknik, dan budaya kopi dunia.
Sesekali ia mengirim kabar, memperlihatkan aktivitasnya di sana dari menyeduh kopi di musim dingin hingga mengikuti festival kopi internasional.
Beberapa bulan lalu, ia sempat pulang ke Bali. Pertemuan kami terasa seperti waktu yang berhenti sejenak: aroma kopi, tawa, dan cerita-cerita lama berpadu dalam kehangatan yang tak lekang oleh jarak.
Di antara semua itu, saya tersadar, persahabatan tidak selalu diukur dari seberapa sering kita bertemu, melainkan dari seberapa dalam makna yang kita bagi.
Kisah ini mungkin terdengar sederhana hanya tentang dua kawan dan secangkir kopi. Namun dari situ saya belajar, bahwa kopi bukan sekadar minuman. Ia adalah pengikat waktu, penghubung kenangan, dan saksi perjalanan hidup.
Kopi mengajarkan kita tentang keseimbangan: antara pahit dan manis, antara kesabaran dan ketulusan. Ia menuntun kita untuk menikmati setiap fase kehidupan, seteguk demi seteguk, tanpa tergesa.
Kami kini menapaki jalan masing-masing, namun setiap kali aroma kopi tercium, saya selalu teringat satu hal, bahwa di balik setiap cangkir, selalu ada cerita tentang persaudaraan, perjuangan, dan cinta terhadap kehidupan itu sendiri.
Dan mungkin, suatu hari nanti, di sebuah sudut dunia yang lain, kami akan kembali duduk berdua bukan sekadar berbagi kopi, tapi juga berbagi kisah baru yang tumbuh dari perjalanan panjang bernama kehidupan.