Menjadi Tentara: Takdir yang Membimbing, Bukan Sekadar Pilihan

Mayor Arm I Putu Arimbawa mengenakan seragam dinas, berdiri tegak dengan latar suasana Koramil 1611-03-Kuta.
Mayor Arm I Putu Arimbawa saat ini mengemban amanah sebagai Danramil 1611-03-Kuta. (Foto: Mahendra)

Mayor Arm I Putu Arimbawa, saat ini menjabat sebagai Danramil 1611-03/Kuta, telah mengabdi selama lebih dari tiga dekade dalam tubuh TNI Angkatan Darat.

Karier militernya dimulai pada tahun 1991 sebagai seorang Bintara, dan pada tahun 2000 ia melanjutkan pendidikan perwira melalui Sekolah Calon Perwira (Secapa).

Perjalanan panjangnya sebagai prajurit telah membawanya bertugas di berbagai wilayah strategis Indonesia dari Jakarta, Malang, Jember, Kostrad, hingga Sumatra Utara.

Sejak tahun 2015, ia mulai bertugas di Bali, tanah kelahirannya, dan menganggap penempatan ini sebagai salah satu anugerah besar dalam hidupnya.

Meski kini dikenal sebagai sosok militer yang disiplin dan berdedikasi, sejak kecil Putu sebenarnya bercita-cita menjadi seorang polisi mengikuti jejak sang ayah yang juga seorang anggota Polri.

Ia bahkan menempuh seluruh proses seleksi kepolisian. Namun, dalam pencarian jati diri dan arah hidup, jalan hidupnya justru berpihak pada TNI.

Ia mengikuti tes masuk tentara di bulan berbeda dan lolos. Menurutnya, semua ini adalah bagian dari takdir yang membimbing langkahnya.


“Saya ingin jadi abdi negara seperti ayah saya. Tapi takdir yang menentukan di mana kita akan berlabuh,” tuturnya.


Baginya, hidup adalah tentang menjalani proses dengan tulus. Semua pilihan yang pernah ia ambil bukan karena ambisi pribadi, melainkan karena dorongan panggilan hati untuk mengabdi kepada negara.

Loyalitas dan Tanggung Jawab: Tak Pernah Setengah Jalan

Bagi Mayor Putu, loyalitas dalam bertugas adalah prinsip hidup yang tidak bisa ditawar. Dalam satu kisah, ia pernah sudah meminta izin untuk pulang kampung ke Karangasem.

Namun, di tengah perjalanan ia mendapat panggilan tugas yang mendesak dan harus segera kembali ke posnya. Tanpa ragu, ia pun berbalik arah.

“Kalau sudah tugas, ya harus kembali. Karena kalau tidak loyal, bagaimana kita mau dipercaya?” ungkapnya dengan penuh kesungguhan.

Mayor Arm I Putu Arimbawa, Danramil 1611-03-Kuta, tengah menjalankan tugas dengan wajah serius di tengah kesibukan kerjanya.
Mayor Arm I Putu Arimbawa, Danramil 1611-03-Kuta, menjalani kesibukan dan padatnya jam kerja dengan penuh dedikasi dan rasa tanggung jawab. (Foto: Mahendra)

Pengalaman bertugas jauh dari keluarga telah memberinya banyak pelajaran berharga. Saat ditempatkan di Medan, misalnya, menghadiri acara adat atau melayat keluarga yang berduka di Bali menjadi tantangan tersendiri, mengingat tingginya biaya transportasi pulang.

Terlebih di Bali, adat dan tradisi memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat, sehingga acara adat kerap diadakan pada waktu-waktu tertentu.


Astungkara, sejak tahun 2015 ia merasa lebih tenang dan bersyukur karena mendapat penugasan di Bali.


Bertugas dekat dengan kampung halaman memungkinkannya untuk menjalankan tugas dengan lebih optimal, sekaligus tetap menjadi tumpuan bagi keluarga terutama sejak sang ayah pensiun di usia 48 tahun.


Hingga kini, ia tetap memegang teguh prinsip tanggung jawab. “Kalau sudah dipercaya menjalankan satu amanah, maka harus diselesaikan dengan baik. Jangan lari dari tanggung jawab,” katanya.


Baca juga:
🔗 Sapaan Pagi dari Koramil Kuta: TNI yang Dekat dan Mendoakan Rakyat

Menjelang Pensiun: Fokus Menyelesaikan, Bukan Mencari Jalan Pintas

Dengan 34 tahun pengabdian, Mayor Putu kini tinggal menghitung waktu menuju masa pensiun.

Diperkirakan, ia akan resmi purna tugas pada Februari 2027. Namun, alih-alih sibuk memikirkan apa yang akan dikerjakan setelah pensiun, ia memilih untuk tetap fokus menjalankan tugasnya dengan sepenuh hati.

“Saya tidak punya sawah, tidak punya usaha lain. Tapi saya tidak mau terburu-buru. Tugas ini harus dituntaskan dulu. Setelah itu, pasti ada jalan,” ucapnya mantap.

Kini, sebagai Danramil di wilayah Kuta yang juga menjadi pintu gerbang utama Bali melalui Bandara Ngurah Rai aktivitasnya semakin padat.

Ia banyak berinteraksi dengan masyarakat, turis, dan aparat lainnya. Namun semua itu dijalaninya dengan tulus, tanpa keluhan, karena menurutnya, kesibukan adalah bagian dari bentuk syukur atas kepercayaan yang diberikan negara kepadanya.

Ia menutup setiap refleksi hidupnya dengan satu kalimat sederhana namun penuh makna:

“Hidup ini harus dijalani dengan syukur.”

2 Responses

  1. Selalu bangga menjadi pendamping nya sejak 2003 sampai maut memisahkan.. Sehat selalu prajurit kebanggaan kami semua, sosok suami dan bapak yg selalu bertanggung jawab dan mengupayakan apapun yang terbaik untuk kami.. Semoga ISHWW selalu melimpahi dengan kerahayuan 🤍

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *