Perjalanan panjang pengabdian seorang anggota Polri tidak pernah lepas dari dinamika, tantangan, dan pengorbanan.
Bagi AKP Nyoman Kita, Wakil Komandan Batalyon C Pelopor, hampir 29 tahun masa dinas bukan sekadar catatan waktu, melainkan rangkaian pengalaman hidup yang membentuk karakter, kedewasaan, dan pemaknaan terhadap tugas sebagai abdi negara.
Sejak awal pengabdian hingga hari ini, setiap fase perjalanan dijalani dengan kesadaran penuh akan tanggung jawab, berlandaskan doa, serta komitmen untuk selalu menjalankan tugas sesuai aturan dan hati nurani.
Karier kepolisian AKP Nyoman Kita dimulai pada 5 Januari 1997, dengan penugasan awal di Kepolisian Daerah Timor Timur, wilayah yang pada masa itu berada dalam situasi sosial dan keamanan yang penuh tantangan.
Penempatan tersebut menjadi ujian awal yang menuntut kesiapan fisik, mental, serta loyalitas terhadap negara.
Selama kurang lebih tiga tahun bertugas di Timor Timur, AKP Nyoman Kita menjalani berbagai dinamika lapangan yang tidak mudah.
Kondisi geografis, keterbatasan fasilitas, hingga situasi keamanan menjadi bagian dari keseharian tugas.
Namun semua itu dijalani dengan penuh tanggung jawab, sebagai bentuk komitmen terhadap profesi dan sumpah jabatan.
Titik balik sejarah terjadi pada tahun 1999, ketika pelaksanaan jajak pendapat menentukan masa depan wilayah tersebut.
Hasil yang menyatakan kemerdekaan membawa perubahan besar, tidak hanya bagi Timor Timur yang kemudian menjadi Negara Timor Leste, tetapi juga bagi perjalanan tugas para personel yang bertugas di sana.
Baca juga:
🔗 Rekam Jejak Pengabdian dan Jalan Sunyi Seorang Perwira
Pasca jajak pendapat tahun 1999, AKP Nyoman Kita mendapatkan kesempatan untuk pindah tugas ke daerah pilihannya, yakni Polda Bali.
Sejak saat itu, Bali menjadi tempat ia melanjutkan pengabdian kepada institusi Polri dan masyarakat hingga sekarang.
Dalam setiap penugasan, AKP Nyoman Kita meyakini bahwa hambatan dan tantangan adalah keniscayaan.
Namun bagi dirinya, tantangan bukan alasan untuk mengeluh, melainkan bagian dari proses pendewasaan dalam menjalankan tugas negara.
Ia menegaskan bahwa setiap tugas harus diawali dengan doa, dilaksanakan dengan ketaatan terhadap perintah pimpinan, serta dijalankan sesuai tugas pokok dan fungsi masing-masing personel.
Kepatuhan terhadap SOP, ketentuan, dan aturan yang berlaku menjadi prinsip utama yang selalu dipegang.
Baginya, profesionalisme dan disiplin adalah fondasi penting dalam menjaga kepercayaan institusi dan masyarakat.
Baca juga:
🔗 Pasukan Andalan di Garda Terdepan: Semangat Pagi dari Komandan Batalyon C Pelopor
Memasuki 29 tahun masa pengabdian, terhitung sejak 5 Januari 1997 hingga 5 Januari 2026, AKP Nyoman Kita kini berada di usia hampir 51 tahun.
Dengan sisa masa tugas sekitar tujuh tahun ke depan, ia memandang fase ini sebagai waktu untuk semakin memantapkan niat, menjaga kesehatan, dan terus memberikan yang terbaik hingga masa purna bakti.
Harapannya sederhana namun bermakna, agar Tuhan Yang Maha Esa senantiasa memberikan kesehatan, keselamatan, dan umur panjang, sehingga seluruh sisa pengabdian dapat dijalani dengan lancar, hingga akhirnya kembali ke tengah masyarakat dengan penuh rasa syukur.
Menutup refleksi perjalanan hidup dan tugasnya, AKP Nyoman Kita menyampaikan prinsip yang selalu ia pegang:
“Mari kita nikmati hidup ini, jalani tugas dengan sebaik-baiknya, dan selalu bersyukur. Rezeki setiap orang tidak akan tertukar, karena semuanya sudah memiliki takaran masing-masing.”
Sebuah pesan yang lahir dari pengalaman panjang, mengajarkan bahwa pengabdian sejati bukan hanya tentang bertugas, tetapi juga tentang keikhlasan, kesabaran, dan rasa syukur dalam setiap langkah kehidupan.