Vibrasi Kehidupan dan Kesadaran Diri Dua Perwira Menengah di Polda Bali

Kombes Pol. Rachmat Hendrawan, S.I.K., M.M., dan Kombes Pol. Daniel Widya Mucharam, S.I.K., M.P.A., berdiskusi dalam sebuah pertemuan.
Kombes Pol. Rachmat Hendrawan, S.I.K., M.M., dan Kombes Pol. Daniel Widya Mucharam, S.I.K., M.P.A., saat bertemu dan berdiskusi (Foto: Mahendra)

Dalam kehidupan, vibrasi dan frekuensi diri menentukan siapa saja yang akan hadir dalam perjalanan ini.

Ada yang datang hanya untuk singgah sejenak, ada yang hadir untuk memberi pelajaran, dan ada pula yang menjadi guru kehidupan yang meninggalkan jejak mendalam.

Begitu pula dalam dunia kepolisian di mana kedisiplinan, tanggung jawab, dan ketegasan sering kali menjadi wajah utama tersimpan kisah-kisah tentang kebijaksanaan, ketulusan, dan kesadaran spiritual.

Baca juga:
🔗 Kombespol Daniel Widya Mucharam, S.I.K., M.P.A.: Sosok Humanis di Tengah Gaung Reformasi Polri

Dua Jalan, Satu Frekuensi Kehidupan

Kisah ini tergambar dalam sosok dua perwira menengah yang kini sama-sama berdinas di Polda Bali, Kombes Pol. Rachmat Hendrawan, S.I.K., M.M. dan Kombes Pol. Daniel Widya Mucharam, S.I.K., M.P.A.

Keduanya telah melalui perjalanan panjang dalam karier pengabdian di kepolisian. Beragam penugasan, tanggung jawab berat, dan pengalaman di lapangan telah mereka jalani.

Namun di balik seragam dan pangkat yang mereka sandang, tersimpan pandangan hidup yang sederhana namun mendalam.

Kombes Pol. Rachmat Hendrawan kini bertugas di Satuan Brimob, satuan yang dikenal keras, penuh risiko, dan menuntut kesiapan mental serta fisik tinggi.

Sementara Kombes Pol. Daniel Widya Mucharam mengemban amanah sebagai Karo Rena Polda Bali jabatan yang menuntut ketelitian, perencanaan strategis, dan kemampuan membaca gambaran besar organisasi.

Baca juga:
🔗 Kombes Pol. Rachmat Hendrawan: Menjaga Marwah Bhayangkara dalam Setiap Langkah

Pertemuan yang Bergetar dalam Kesadaran

Suatu hari, keduanya bertemu di sebuah ruangan di lingkungan Polda Bali. Percakapan yang awalnya ringan tentang pekerjaan dan dinamika kedinasan perlahan berubah menjadi dialog mendalam tentang makna hidup, perjalanan karier, dan kepuasan batin.

Meski berbeda satu angkatan, Rachmat adalah Akpol 1995, sementara Daniel Akpol 1996, keduanya menunjukkan keakraban dan saling menghormati.

Obrolan mereka mengalir tanpa jarak, menyentuh sisi spiritual dan nilai-nilai kehidupan yang jarang tersentuh dalam rutinitas kedinasan.

Melampaui Ambisi, Menemukan Kedewasaan

Berbeda dari sebagian perwira menengah yang masih disibukkan dengan ambisi menanti “bintang jatuh”, istilah yang kerap digunakan untuk menyebut kenaikan pangkat menjadi jenderal dua perwira ini justru menunjukkan ketenangan dan kematangan batin.

“Saya sudah mendekati masa pensiun. Tidak ada lagi yang perlu dikejar. Anak-anak sudah besar dan punya jalan hidupnya masing-masing,” ujar Kombes Pol. Rachmat Hendrawan sambil tersenyum.

Pernyataan sederhana itu terdengar ringan, namun sarat makna. Ia menggambarkan seseorang yang telah berdamai dengan waktu, dengan dirinya sendiri, dan dengan kehidupannya.

Musik sebagai Ruang Jiwa

Sementara itu, Kombes Pol. Daniel Widya Mucharam memiliki cara sendiri dalam menjaga keseimbangan hidup.

“Saya merasa cukup dengan apa yang sudah dicapai. Sekarang saya masih punya kesibukan lain di dunia musik, saya menyalurkan hobi itu lewat duo DeEX, yang saya mulai sejak tahun 2020,” tuturnya dengan nada santai namun penuh keyakinan.

Bagi Daniel, musik bukan sekadar hiburan, melainkan ruang refleksi tempat di mana ia mengekspresikan sisi manusiawi yang lembut dan kreatif di balik ketegasan seragam dinas.

Menemukan Makna, Bukan Sekadar Pangkat

Keduanya memperlihatkan wajah lain dari kepemimpinan. Mereka tak berfokus pada target, prestasi, atau bintang di pundak, melainkan pada nilai kemanusiaan dan keseimbangan batin.

Dalam pandangan mereka, hidup bukanlah perlombaan untuk menjadi yang tertinggi, melainkan perjalanan untuk menjadi versi terbaik dari diri sendiri.

“Sesuatu yang terlalu dikejar justru membuat seseorang kehilangan dirinya,” ujar Daniel sambil menatap langit biru Bali.

“Kami sudah berusaha, sudah menjalankan tugas dengan sepenuh hati. Sisanya biarlah menjadi urusan Tuhan. Kalau memang waktunya tiba, bintang itu akan datang dengan sendirinya.”

Ketenangan Adalah Puncak Karier

Kata-kata mereka menggambarkan kesadaran spiritual yang mendalam, sebuah pemahaman bahwa kehidupan tidak bisa dipaksakan. Bahwa setiap manusia punya garis tangannya sendiri, dan tugas kita hanyalah berbuat sebaik-baiknya tanpa kehilangan jati diri.

Pertemuan dua perwira ini menjadi cerminan kedewasaan dalam karier dan kebijaksanaan dalam hidup.

Bahwa di tengah dunia yang sering diwarnai ambisi, masih ada sosok-sosok yang memilih jalan kesederhanaan, ketenangan, dan rasa syukur.

Di akhir perbincangan, keduanya hanya tersenyum kecil. Tak ada kesimpulan panjang yang perlu diucapkan.

Karena mereka tahu dalam perjalanan hidup dan karier, yang paling penting bukan seberapa tinggi seseorang berdiri, melainkan seberapa dalam ia memahami makna langkahnya.

Baca juga:
🔗 Bermimpilah Semustahil Mungkin, Lalu Berdoalah Kepada-Nya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *