Jejak Komunikasi, Keteladanan, dan Persahabatan dalam Perjalanan Profesi

Kapolda Maluku Utara berdiskusi santai bersama jurnalis di sela sebuah kegiatan.
Kapolda Maluku Utara berdiskusi santai bersama jurnalis di sela kegiatan. Sinergi kepolisian dan media menjadi kunci keterbukaan informasi serta penguatan kepercayaan publik. (Foto: Dokumentasi)

Pertemuan itu bermula dari sebuah peristiwa besar nasional, jatuhnya pesawat Sukhoi SSJ-100.

Saat itu saya bekerja di media nasional dan berada langsung di lapangan, menghadapi arus informasi yang bergerak cepat, tekanan publik, serta tuntutan akan pernyataan resmi dari berbagai pihak.

Di tengah situasi tersebut, saya berinteraksi dengan seorang perwira menengah Polri yang kala itu menjabat sebagai Dansat Brimob Polda Jawa Barat, masih berpangkat Kombes Pol.

Dari sekian banyak figur yang hadir dalam peristiwa besar itu, justru sikap beliaulah yang paling membekas. Ia tidak tampil berlebihan, tidak tergesa mencari sorotan.

Dengan rendah hati, beliau memilih untuk tidak banyak memberikan pernyataan, dan justru menyarankan agar penjelasan teknis disampaikan oleh pihak yang lebih ahli dan berkompeten.

Sikap itu tampak sederhana, namun sesungguhnya kuat. Di tengah dunia yang kerap dipenuhi ego dan hasrat untuk tampil, pilihan untuk menahan diri justru mencerminkan kedewasaan, kepercayaan diri, serta penghormatan terhadap etika institusi dan kebenaran informasi.

Dari sanalah benih komunikasi mulai tumbuh, bukan semata relasi antara pers dan narasumber, melainkan rasa saling menghargai yang terbangun secara alami.

Baca juga:
🔗 Prinsip dan Integritas, Warisan Seorang Pemimpin

Komunikasi yang Terjaga: Dari Bandung hingga Sulawesi Tenggara

Komunikasi tersebut berlanjut pada peristiwa lain, ketika banjir melanda Bandung. Dalam padatnya aktivitas peliputan, kebetulan lokasi saya tidak jauh dari Mako Brimob Polda Jawa Barat.

Saya menyempatkan diri untuk mampir. Tanpa jarak dan tanpa protokoler berlebihan, beliau menerima dengan keterbukaan.

Di ruang yang sederhana, percakapan mengalir lebih personal. Bukan sekadar tentang tugas dan jabatan, melainkan tentang korps Brimob yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidupnya.

Tentang pengabdian yang panjang, disiplin yang keras, serta loyalitas yang kerap menuntut pengorbanan, termasuk dari sisi kehidupan pribadi.

Dari cerita-cerita itu, saya melihat Brimob bukan hanya sebagai satuan tugas, tetapi sebagai rumah dan identitas yang melekat seumur hidup.

Seiring waktu berjalan, ketika beliau mendapat amanah sebagai Wakapolda Sulawesi Tenggara, intensitas komunikasi memang tidak lagi sepadat sebelumnya.

Namun relasi tidak pernah benar-benar terputus. Media sosial menjadi jembatan penghubung, ruang sederhana untuk saling menyapa, bertukar kabar, dan sesekali berdiskusi mengenai isu-isu yang berkembang di wilayah tempat beliau bertugas.

Pada titik ini, saya menyadari bahwa hubungan antara pers dan aparat tidak selalu harus dibangun dalam ruang-ruang formal.

Ada kepercayaan yang tumbuh dari konsistensi, dari komunikasi yang dijaga, meskipun jarak dan waktu terus berubah.

Baca juga:
🔗 Muscab IV Partai Hanura Sultra: Momentum Strategis Perkuat Mesin Partai di Sulawesi Tenggara

Jabatan, Inspirasi, dan Makna Hari Pers

Tahun 2025 menjadi babak baru dalam perjalanan tersebut. Informasi promosi jabatan itu datang, beliau dipercaya mengemban amanah strategis sebagai orang nomor satu di Kepolisian Daerah Maluku Utara.

Irjen Pol Drs. Waris Agono, M.Si., resmi menjabat sebagai Kapolda Maluku Utara. Sebuah perjalanan panjang yang tidak ditempuh dalam semalam, melainkan dibentuk oleh proses, kesetiaan pada tugas, dan keteguhan dalam menjalani jalan pengabdian.

Menariknya, di tengah posisi penting dan tanggung jawab yang besar, komunikasi tetap terjaga.

Relasi antara pers dan kepolisian terus berjalan sebagai kemitraan yang sehat, saling memahami peran, fungsi, serta batas masing-masing. Tidak selalu intens, namun cukup untuk menjaga keterhubungan dan kepercayaan.

Di luar urusan formal, ada satu hal yang justru paling membekas: bahasa kehidupan yang kerap beliau sampaikan.

Kisah-kisah tentang perjuangan, jatuh bangun, serta cara menerima keadaan dan tetap melangkah.

Cerita-cerita itu disampaikan dengan ringan, tanpa kesan menggurui, namun sarat makna. Dari sanalah inspirasi lahir, bukan karena jabatan yang disandang, melainkan karena kejujuran dalam berbagi pengalaman hidup.

Baca juga:
🔗 Irjen Pol Waris Agono: Menuntaskan Tonggak Sejarah dengan Memindahkan Mako Polda Malut ke Sofifi

Tahun demi tahun berlalu, dan Hari Pers selalu hadir sebagai pengingat. Bagi sebagian orang, pers adalah profesi.

Bagi sebagian lainnya, ia adalah jalan hidup yang dijalani dengan risiko, idealisme, dan tanggung jawab hingga masa pengabdian berakhir.

Sebuah dunia yang memberi akses untuk bertemu siapa pun, di mana pun, demi satu tujuan utama, menyampaikan fakta kepada publik.

Selamat Hari Pers.

Untuk mereka yang masih setia menekuni profesi ini, menjaga jarak namun tetap dekat, kritis namun beretika, hadir bukan demi sensasi, melainkan demi kebenaran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *