Banyu Pinaruh: Antara Air dan Pengetahuan, dari Ritual ke Aksi Nyata

Umat Hindu melaksanakan ritual Banyu Pinaruh di sumber air dengan suasana khidmat.
Banyu Pinaruh bukan sekadar perayaan, tapi pengingat untuk terus belajar, membersihkan diri, dan menjaga keseimbangan alam sebagai jalan hidup sejati. Mari merawat harmoni lahir batin. (Foto: Dokumentasi)

Setiap perayaan Banyu Pinaruh, pantai dan berbagai sumber air di Bali dipenuhi umat Hindu yang datang untuk mandi dan melakukan ritual melukat. Air dimaknai sebagai sarana penyucian diri, baik secara sekala maupun niskala.

Namun, di balik itu, ada makna yang kerap luput dari perhatian, kata Pinaruh yang berasal dari pangawruh, yang berarti pengetahuan.

Momentum ini hadir setelah perayaan Hari Raya Saraswati, hari turunnya ilmu pengetahuan. Seharusnya, Banyu Pinaruh menjadi ruang untuk “mengalirkan” ilmu yang telah diterima, bukan sekadar dipahami, tetapi dihidupkan dalam tindakan nyata.

Air menjadi simbol bagaimana pengetahuan membersihkan, menyejukkan, sekaligus memberi kehidupan.

Realitas yang terlihat hari ini menunjukkan bahwa banyak umat masih memaknai Banyu Pinaruh secara fisik semata.

Pantai menjadi tujuan utama, melukat dilakukan sebagai rutinitas, dan sering kali berhenti pada seremoni.

Padahal, jika dimaknai lebih dalam, Banyu Pinaruh adalah jembatan antara pengetahuan dan praktik hidup.

Ia bukan hanya tentang membersihkan tubuh, tetapi juga tentang menjernihkan cara berpikir, bersikap, dan berelasi dengan alam. Ketika makna ini bergeser, ritual berisiko menjadi sekadar kebiasaan tanpa kesadaran.

Baca juga:
🔗 Edukasi Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber Digelar di Panjer, Warga Terima Compost Bag

Komunitas BumiKita: Menghidupkan Makna

Di tengah arus tersebut, Komunitas BumiKita hadir dengan sudut pandang yang berbeda. Mereka berupaya mengembalikan esensi Banyu Pinaruh melalui gerakan nyata yang telah dilakukan sejak beberapa tahun terakhir.

Mengusung tema “Resik Diri, Resik Bumi”, kegiatan ini menjadi bentuk implementasi pemaknaan hari suci yang tidak hanya berhenti pada diri, tetapi meluas hingga lingkungan.

Kegiatan ini biasanya dipimpin oleh Ida Pandita Mpu Guna Dharma Bhaskara, seorang tokoh spiritual yang juga aktif dalam gerakan kepedulian lingkungan.

Kehadirannya menjadi pengingat bahwa spiritualitas dan aksi ekologis bukanlah dua hal yang terpisah.

Acara dimulai dengan sembahyang bersama sebagai bentuk penyelarasan diri dengan Sang Pencipta.

Suasana hening, doa-doa dilantunkan, menciptakan ruang batin yang tenang sebelum memasuki tahap berikutnya.

Setelah itu, dilaksanakan puja laut dan prosesi melukat. Air laut menjadi media penyucian, membawa harapan agar segala kotoran lahir dan batin dapat dilepaskan. Namun, titik penting dari kegiatan ini justru hadir setelah ritual selesai.

Para peserta bergerak bersama melakukan aksi bersih-bersih pantai. Sampah yang sebelumnya terabaikan dipungut satu per satu, plastik, sisa makanan, dan berbagai limbah lainnya, dikumpulkan sebagai bentuk tanggung jawab bersama.

Di sinilah makna pangawruh benar-benar diwujudkan, bahwa memahami kesucian tidak cukup dengan membersihkan diri, tetapi juga dengan menjaga lingkungan tempat kita hidup.

Baca juga:
🔗 Komunitas BumiKita: Bergerak Sebelum Isu Menjadi Viral

Dari Kesadaran Menuju Kebiasaan

Apa yang dilakukan Komunitas BumiKita bukan sekadar kegiatan tahunan, melainkan upaya membangun kebiasaan baru.

Bahwa setiap perayaan keagamaan dapat menjadi momentum perubahan, bukan sekadar pengulangan.

Kesadaran ekologis yang dibangun melalui kegiatan ini perlahan menumbuhkan cara pandang baru, bahwa manusia adalah bagian dari alam, bukan penguasa atasnya.

Jika laut adalah tempat kita melukat, maka sudah sepatutnya laut pula dijaga kesuciannya. Kegiatan kemudian ditutup dengan diskusi santai.

Di atas tikar sederhana, ditemani jajanan tradisional, kopi, dan teh, para peserta berbagi cerita dan pemikiran.

Diskusi ini menjadi ruang refleksi, tentang apa yang telah dilakukan, apa yang dirasakan, serta apa yang dapat diperbaiki ke depan.

Dalam suasana hangat tersebut, nilai-nilai kebersamaan, kepedulian, dan kesadaran tumbuh secara alami.

Tidak ada sekat antara spiritualitas dan kehidupan sehari-hari, keduanya menyatu dalam pengalaman.

Baca juga:
🔗 Aksi Bersih Pantai Kuta: Kolaborasi Komunitas dan Pelaku Pariwisata Menyambut Akhir Tahun

Banyu Pinaruh sebagai Jalan Hidup

Banyu Pinaruh sejatinya bukan sekadar perayaan satu hari. Ia adalah pengingat tentang bagaimana manusia seharusnya menjalani hidup, terus belajar, terus membersihkan diri, dan terus menjaga keseimbangan dengan alam.

Air mengajarkan kita untuk mengalir. Pengetahuan mengajarkan kita untuk bertumbuh. Dan kehidupan menuntut kita untuk bertindak.

Apa yang dilakukan Komunitas BumiKita menjadi contoh sederhana namun kuat: bahwa makna hari suci tidak hanya terletak pada ritualnya, tetapi pada dampak yang ditinggalkannya.

Penutup

Di tengah ramainya pantai pada hari Banyu Pinaruh, ada dua cara memaknai: datang, melukat, lalu pulang atau datang, memahami, lalu bergerak.

Sebab pada akhirnya, melukat bukan hanya tentang membasuh tubuh dengan air, tetapi juga tentang membersihkan cara kita memperlakukan bumi.

Dan mungkin, di situlah makna terdalam Banyu Pinaruh, ketika pengetahuan tidak hanya diserap, tetapi diwujudkan menjadi tindakan nyata yang memberi kehidupan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *