Karangasem – Tradisi Perang Pandan atau yang dikenal juga sebagai Mekare-kare kembali digelar di Desa Tenganan Pegringsingan, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem, pada 10–11 Juni 2026.
Ritual adat yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Bali Aga ini menjadi salah satu warisan budaya paling khas di Bali yang hingga kini tetap lestari.
Bagi masyarakat Tenganan Pegringsingan, Perang Pandan bukan sekadar atraksi budaya.
Tradisi ini merupakan bentuk penghormatan kepada Dewa Indra, yang dipercaya sebagai dewa perang sekaligus pelindung masyarakat. Melalui ritual tersebut, nilai-nilai keberanian, kebersamaan, dan penghormatan kepada leluhur terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Di tengah arus modernisasi yang semakin kuat, Perang Pandan tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Tenganan Pegringsingan.
Keberlangsungan tradisi ini tidak lepas dari peran generasi muda yang terus terlibat dan menjaga warisan leluhur mereka.
Salah satu di antaranya adalah Putu, pemuda asal Desa Tenganan Pegringsingan yang hingga kini setia mengikuti rangkaian Perang Pandan setiap tahunnya.
Baginya, tradisi tersebut bukan hanya sebuah kewajiban adat, melainkan bagian dari identitas yang telah melekat sejak kecil.
Baca juga:
🔗 Tari Rejang Abuang: Ritme Sakral Kehidupan Teruna–Deha Tenganan
Keterlibatan Putu dalam Perang Pandan dimulai sejak ia duduk di bangku kelas empat sekolah dasar.
Seperti anak-anak Tenganan lainnya, ia tumbuh di lingkungan yang sangat dekat dengan kehidupan adat dan tradisi desa.
Sejak kecil, Putu terbiasa menyaksikan para pemuda memasuki arena Perang Pandan dengan membawa ikatan daun pandan berduri sebagai simbol keberanian.
Pemandangan tersebut menumbuhkan rasa bangga sekaligus tanggung jawab dalam dirinya untuk ikut menjaga tradisi yang telah diwariskan oleh leluhurnya.
Menurut Putu, Perang Pandan bukan hanya tentang adu ketangkasan di arena. Lebih dari itu, tradisi ini mengajarkan arti persaudaraan, penghormatan terhadap budaya, dan pentingnya menjaga jati diri masyarakat Tenganan di tengah perubahan zaman.
Kini, pada tahun 2026, Putu telah bekerja di kawasan Jimbaran, Kabupaten Badung. Kesibukan pekerjaan membuatnya tidak lagi tinggal di desa seperti saat masih bersekolah. Namun setiap kali Perang Pandan digelar, ia selalu berusaha meluangkan waktu untuk pulang.
Untuk dapat mengikuti tradisi tersebut, Putu harus meminta izin kepada tempatnya bekerja. Waktu yang dimilikinya pun sangat terbatas. Ia hanya memiliki kesempatan pulang dan bermalam satu malam di rumah sebelum kembali menjalankan aktivitasnya.
Meski demikian, keterbatasan waktu tidak pernah menjadi alasan baginya untuk melewatkan Perang Pandan. Baginya, kehadiran dalam ritual itu merupakan bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus ungkapan cinta terhadap kampung halaman.
Keputusan Putu untuk pulang di tengah kesibukan kerja menunjukkan bahwa tradisi masih memiliki tempat yang istimewa dalam kehidupan generasi muda.
Modernisasi dan tuntutan pekerjaan tidak selalu membuat seseorang melupakan akar budayanya. Sebaliknya, nilai sebuah tradisi justru semakin terasa ketika seseorang berada jauh dari tanah kelahirannya.
Baca juga:
🔗 Menjaga Tradisi di Tepi Samudra: Kisah Keteguhan Bali Menghadapi Zaman
Kisah Putu menjadi gambaran bahwa masa depan Perang Pandan berada di tangan generasi muda yang bersedia terlibat secara langsung.
Pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan mengetahui sejarahnya, tetapi juga dengan ikut menjalankan dan merawat tradisi tersebut.
Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup yang berlangsung begitu cepat, tantangan untuk mempertahankan budaya lokal memang semakin besar.
Namun semangat yang ditunjukkan Putu menghadirkan harapan bahwa warisan leluhur Tenganan Pegringsingan akan terus hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Perang Pandan bukan sekadar ritual tahunan. Tradisi ini merupakan simbol identitas, kebanggaan, serta ikatan yang menghubungkan masyarakat Tenganan Pegringsingan dengan leluhur mereka.
Melalui langkah sederhana yang dilakukan Putu, meminta izin kerja dan pulang demi mengikuti tradisi, terlihat bahwa kecintaan terhadap budaya masih tumbuh kuat di hati generasi muda.
Dari arena Perang Pandan di Tenganan Pegringsingan, tersampaikan sebuah pesan yang sederhana namun bermakna, budaya akan tetap hidup selama masih ada generasi yang bersedia menjaganya.
Putu adalah salah satu contoh nyata bahwa warisan leluhur dapat terus lestari ketika diterima, dihargai, dan diteruskan dengan penuh kesadaran.