Tahun 2016, saya dan seorang perempuan pernah berjalan bersama di Desa Penglipuran, Bangli. Saat itu belum ada hubungan yang jelas di antara kami.
Hanya dua orang yang sama-sama sudah tidak muda lagi, menikmati suasana desa sambil mengobrol dan saling mengenal lebih jauh.
Saya seorang pengembara yang kebetulan singgah di Bali. Ia perempuan Bali yang menyukai perjalanan. Kami berjalan menyusuri jalan desa, berbincang tentang banyak hal, tanpa pernah tahu ke mana kisah itu akan bermuara.
Dua tahun kemudian, tepatnya pada 2018, kami akhirnya menikah. Akhirnya, kesempatan itu pun datang.
Waktu berjalan begitu cepat. Tak terasa, Juni 2026 menandai sepuluh tahun sejak perjalanan sederhana itu.
Yang menarik, selama rentang waktu tersebut kami justru belum pernah kembali lagi ke Desa Penglipuran. Padahal tempat itu menyimpan salah satu potongan cerita penting dalam perjalanan hidup kami.
Kali ini bukan lagi dua orang yang berjalan beriringan. Kami datang sebagai sebuah keluarga dengan dua anak yang ternyata memiliki kegemaran yang sama: suka bepergian dan menikmati perjalanan.
Dari rumah kami di Ungasan menuju Penglipuran, jaraknya tentu tidak dekat. Kami memilih menggunakan sepeda motor.
Sang ibu membonceng anak perempuan, sementara saya bersama anak laki-laki. Perjalanan yang dulu hanya berisi cerita antara dua orang kini dipenuhi celoteh anak-anak yang tidak pernah habis.
Sepanjang jalan saya sempat tersenyum sendiri. Hidup memang terus berjalan dan mengubah banyak hal.
Dulu, saat masih sendiri, saya bisa pergi ke mana saja tanpa banyak pertimbangan. Tidak terlalu memikirkan akan tidur di mana, makan apa, atau bagaimana kondisi perjalanan.
Yang penting berangkat, menikmati kebebasan, bertemu orang-orang baru, dan mencari persaudaraan di setiap tempat yang disinggahi. Kini semuanya telah berbeda, dan kebahagiaan itu terpancar dari senyum anak-anak.
Jiwa petualang itu masih ada, tetapi bentuknya berubah. Saya tidak lagi berjalan sendirian. Ada istri dan anak-anak yang ikut serta dalam setiap langkah.
Karena itu, perjalanan bukan hanya tentang mengejar pengalaman, tetapi juga tentang memastikan semua merasa aman, nyaman, dan bahagia.
Beberapa hari setelah perjalanan, mereka masih membicarakan Penglipuran. Mereka mengingat tempat-tempat yang membuat mereka nyaman, area yang bisa digunakan untuk berlari, bermain, dan tertawa lepas.
Bagi mereka, mungkin perjalanan itu bukan tentang destinasi terkenal atau jarak yang ditempuh. Yang mereka ingat adalah kebersamaan dan kesenangan yang mereka rasakan.
Saat mendengar cerita mereka, saya sadar bahwa perjalanan bukan sekadar berpindah tempat. Perjalanan adalah cara kami menciptakan kenangan bersama.
Baca juga:
🔗 Desa Penglipuran, Harmoni Tradisi dan Kebersihan yang Mendunia
Penglipuran yang saya kunjungi tahun 2016 dan Penglipuran yang saya kunjungi tahun 2026 adalah tempat yang sama, tetapi memberikan makna yang sangat berbeda.
Dulu saya datang sebagai seorang laki-laki yang sedang mengenal seseorang. Kini saya kembali sebagai seorang suami dan ayah, bersama perempuan yang dulu menemani langkah pertama itu dan dua anak yang menjadi buah dari perjalanan hidup kami. Mungkin itulah indahnya waktu.
Ia bekerja dalam diam, tanpa pernah meminta kita menyadarinya. Hari demi hari berlalu begitu saja, hingga suatu saat kita menoleh ke belakang dan baru menyadari betapa banyak hal telah berubah.
Waktu mengubah sebuah perkenalan sederhana menjadi sebuah keluarga. Mengubah dua orang yang dulu hanya berjalan berdampingan menjadi dua orang yang memilih berjalan searah. Lalu menghadirkan dua anak yang kini melengkapi setiap langkah perjalanan kami.
Penglipuran mungkin tetap berdiri seperti dulu, dengan jalan-jalannya yang bersih, rumah-rumah adat yang tertata, dan suasana yang menenangkan.
Namun kami yang kembali bukanlah orang yang sama seperti sepuluh tahun lalu. Kami datang membawa cerita baru, pengalaman baru, dan cinta yang telah bertumbuh melalui berbagai suka dan duka kehidupan.
Baca juga:
🔗 Jalan Terbaik Belum Tentu yang Paling Ramai
Saya percaya, setiap orang memiliki tempat yang menyimpan kenangan. Bukan karena tempat itu paling indah, melainkan karena di sanalah kehidupan pernah memberikan titik balik yang tidak terlupakan.
Bagi kami, Penglipuran adalah salah satu tempat itu. Sebuah desa yang tanpa kami sadari telah menjadi saksi awal perjalanan panjang menuju sebuah keluarga.
Kini saya semakin memahami bahwa perjalanan bukan semata tentang seberapa jauh kaki melangkah atau berapa banyak tempat yang berhasil dikunjungi. Perjalanan sejati adalah tentang siapa yang berjalan bersama kita.
Sebab pada akhirnya, tujuan terbaik bukanlah sebuah tempat, melainkan kebersamaan yang terus tumbuh di sepanjang perjalanan.
Semoga suatu hari nanti, ketika anak-anak kami telah dewasa, mereka masih mengingat perjalanan sederhana ini. Bukan karena megahnya destinasi yang kami datangi, tetapi karena hangatnya kebersamaan yang kami rasakan.
Dan jika kelak kami kembali lagi ke Penglipuran, mungkin rambut kami sudah dipenuhi uban, langkah tidak lagi secepat sekarang, dan anak-anak telah berjalan dengan kehidupan mereka masing-masing.
Namun saya berharap, ketika berdiri di jalan desa itu, kami masih bisa saling menatap sambil tersenyum dan berkata, “Di sinilah semuanya pernah dimulai.”
Sebab pada akhirnya, hidup bukan hanya tentang mengejar tujuan, melainkan tentang mensyukuri setiap langkah yang telah membawa kita sampai di titik hari ini. Dan bagi kami, salah satu langkah terindah itu selalu akan bernama Penglipuran.