Presiden Prabowo Subianto berulang kali menegaskan bahwa ketahanan pangan merupakan fondasi utama dalam menjaga kedaulatan bangsa.
Karena itu, pemerintah terus mendorong berbagai program untuk meningkatkan produksi pangan nasional, salah satunya melalui perluasan penanaman jagung di berbagai daerah.
Namun, di tengah tantangan perubahan iklim, Indonesia juga membutuhkan diversifikasi pangan agar tidak bergantung pada satu atau dua komoditas saja.
Dalam konteks itulah, sorgum hadir sebagai salah satu tanaman yang memiliki potensi besar untuk mendukung ketahanan pangan nasional.
Tanaman ini tidak hanya mampu tumbuh di lahan kering, tetapi juga memiliki nilai gizi tinggi serta manfaat ekonomi yang luas. Pengembangannya dapat menjadi langkah strategis dalam mewujudkan kemandirian pangan Indonesia yang berkelanjutan.
Di lereng-lereng hijau Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), terbentang hamparan pertanian yang tidak hanya memanjakan mata, tetapi juga menyimpan harapan besar bagi masa depan pangan Indonesia.
Batang-batang sorgum berdiri tegak dengan malai yang dipenuhi butiran padat berwarna putih keabu-abuan, menghiasi lanskap pertanian masyarakat setempat.
Tanaman bernama ilmiah Sorghum spp. ini merupakan salah satu kekayaan pangan lokal yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat NTT.
Sayangnya, di tengah dominasi padi dan jagung, keberadaan sorgum masih sering luput dari perhatian, padahal potensinya sangat besar untuk menjadi salah satu komoditas unggulan nasional.
Baca juga:
🔗 Ibu Theresia: Perempuan Manggarai yang Menyulam Harapan Lewat Pendidikan
Sorgum bukanlah tanaman baru di Nusantara. Jauh sebelum diversifikasi pangan menjadi agenda nasional, masyarakat di berbagai wilayah Nusa Tenggara telah menjadikan sorgum sebagai sumber pangan utama.
Di sejumlah daerah, tanaman ini dikenal dengan berbagai nama lokal, seperti jagung rote, wata belolong, hingga watar hamu.
Beragam sebutan tersebut menjadi bukti eratnya hubungan antara masyarakat, budaya, dan alam yang telah terjalin selama bergenerasi.
Di tingkat global, sorgum menempati posisi kelima sebagai serealia yang paling banyak dibudidayakan setelah gandum, jagung, padi, dan jelai.
Di berbagai negara Afrika dan Asia Selatan, tanaman ini menjadi penopang ketahanan pangan karena mampu bertahan pada kondisi lingkungan yang ekstrem.
Kini, potensi tersebut mulai kembali dilirik untuk dikembangkan di Indonesia, terutama di wilayah-wilayah kering seperti Nusa Tenggara Timur.
Baca juga:
🔗 Caci: Ketika Keberanian Berbicara dan Tradisi Melekat di Kulit
Salah satu keunggulan utama sorgum adalah kemampuannya beradaptasi dengan kondisi alam yang keras.
Di lahan-lahan kering Manggarai, tanaman ini tetap mampu tumbuh dengan baik meski curah hujan terbatas dan kualitas tanah tidak selalu ideal.
Berbeda dengan padi yang membutuhkan pasokan air melimpah, sorgum memiliki daya tahan tinggi terhadap kekeringan.
Tanaman ini juga relatif tahan terhadap serangan hama serta tetap mampu berproduksi di lahan marginal yang sulit ditanami komoditas lain.
Di tengah ancaman perubahan iklim yang menyebabkan musim kemarau semakin panjang dan pola cuaca semakin tidak menentu, sorgum menjadi salah satu solusi nyata dalam memperkuat ketahanan pangan nasional.
Kehadirannya membuktikan bahwa keberlanjutan pertanian dapat dibangun melalui tanaman yang mampu beradaptasi dengan perubahan alam.
Baca juga:
🔗 Di Antara Karang dan Kekeringan, Ia Tetap Bertumbuh
Keunggulan sorgum tidak hanya terletak pada kemampuannya bertahan di lahan kering. Hampir seluruh bagian tanaman ini memiliki nilai ekonomi yang tinggi.
Sebagai bahan pangan, biji sorgum dapat diolah menjadi nasi sorgum, tepung untuk roti dan kue, bubur, mi, hingga berbagai produk pangan modern.
Kandungan seratnya yang tinggi serta indeks glikemik yang relatif rendah menjadikannya alternatif pangan sehat bagi masyarakat.
Batang dan daunnya dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak berkualitas sehingga mendukung sektor peternakan rakyat.
Sementara itu, kandungan pati pada bijinya juga berpotensi menjadi bahan baku berbagai industri, termasuk pengembangan energi terbarukan seperti bioetanol.
Potensi inilah yang menjadikan sorgum bukan sekadar tanaman pangan, tetapi juga komoditas yang mampu menggerakkan sektor pertanian, peternakan, dan industri secara bersamaan.
Baca juga:
🔗 Kapolda Maluku Utara Irjen Pol. Drs. Waris Agono, M.Si. Tunjukkan Dukungan Nyata terhadap Program Ketahanan Pangan Presiden Prabowo
Hamparan sorgum di Manggarai menjadi pengingat bahwa kekuatan pangan Indonesia tidak hanya bertumpu pada sawah yang luas, tetapi juga pada ladang-ladang kering yang dikelola dengan kearifan lokal.
Di balik setiap batang sorgum terdapat kisah ketekunan para petani yang terus menjaga warisan leluhur sambil beradaptasi dengan tantangan zaman.
Pengembangan sorgum bukan sekadar menghadirkan alternatif pangan, tetapi juga membuka peluang peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui inovasi pengolahan, peningkatan nilai tambah, dan perluasan pasar.
Sejalan dengan semangat pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional, pengembangan sorgum dapat menjadi salah satu pilar penting menuju kemandirian pangan Indonesia.
Keberagaman sumber pangan adalah kekuatan bangsa yang harus terus dijaga dan dikembangkan.
Dari tanah Manggarai, sorgum mengajarkan bahwa harapan selalu tumbuh, bahkan di lahan yang tampak kering dan sederhana.
Dengan kerja keras petani, dukungan pemerintah, serta inovasi yang berkelanjutan, sorgum dapat menjadi salah satu jawaban bagi masa depan pangan Indonesia yang lebih tangguh, mandiri, dan berdaulat.