Ada masa ketika Bapak memilih berjalan sendiri menyusuri Indonesia, dari Sabang hingga Merauke.
Perjalanan itu bukan sekadar mengejar destinasi atau mengumpulkan foto-foto indah, tetapi menjadi sekolah kehidupan yang mengajarkan banyak hal.
Bertemu orang-orang dari latar belakang yang berbeda, menikmati alam yang begitu beragam, hingga menghadapi berbagai tantangan di perjalanan membuat Bapak memahami bahwa hidup selalu menyimpan pelajaran bagi siapa saja yang mau membuka hati.
Perjalanan panjang itu mengubah cara Bapak memandang kehidupan. Semakin jauh melangkah, semakin terasa bahwa kebahagiaan bukan berada di garis akhir perjalanan, melainkan hadir dalam setiap langkah yang dijalani.
Dari sanalah Bapak belajar untuk tidak terlalu takut menghadapi ketidakpastian. Sebab, sering kali hal-hal terbaik justru datang ketika kita berani melangkah tanpa mengetahui apa yang menunggu di depan.
Kini, perjalanan itu memiliki makna yang berbeda. Jika dahulu Bapak menikmati jalan seorang diri, sekarang setiap langkah terasa lebih berarti karena ditemani kalian berdua.
Tawa kecil, pertanyaan-pertanyaan polos, hingga rasa penasaran kalian terhadap dunia menjadi warna baru dalam setiap perjalanan.
Bapak tidak ingin kalian tumbuh dengan rasa takut mencoba hal baru. Dunia terlalu luas untuk hanya dilihat dari balik jendela.
Dunia harus disentuh, dirasakan, dan dipelajari secara langsung. Karena itu, perjalanan kecil yang kita lakukan hari ini bukan hanya sekadar mengisi waktu luang, melainkan menjadi bagian dari proses belajar mengenal kehidupan.
Baca juga:
🔗 Pantai sebagai Ruang Belajar Anak: Tanpa Membendung Rasa Ingin Tahu
Hari ini kami tidak memiliki rencana besar. Tidak ada jadwal yang disusun secara rinci, tidak pula target yang harus dicapai. Kami hanya ingin mencari tempat yang bisa menjadi ruang pertemuan antara dunia Bapak dan dunia kalian.
Pilihan itu membawa kami ke kawasan ITDC Nusa Dua untuk mengunjungi Museum Pasifika. Tempat ini menyimpan berbagai koleksi karya seni dari Indonesia dan kawasan Asia Pasifik.
Saat memasuki setiap ruang pameran, mata kalian tampak berbinar melihat lukisan, patung, ukiran, dan beragam karya seni yang dipajang dengan begitu indah.
Bagi sebagian orang, museum mungkin hanya tempat menyimpan benda-benda bersejarah. Namun bagi Bapak, museum adalah ruang yang menyimpan cerita tentang peradaban manusia.
Di balik setiap karya terdapat perjalanan, pemikiran, budaya, bahkan pengorbanan seorang seniman yang ingin menyampaikan pesan kepada generasi berikutnya.
Melihat kalian berhenti di depan sebuah lukisan, bertanya tentang warna, bentuk, dan tokoh yang tergambar di dalamnya menjadi kebahagiaan tersendiri. Bapak tidak berharap kalian langsung memahami arti sebuah karya seni.
Yang lebih penting adalah tumbuhnya rasa ingin tahu dan keberanian untuk bertanya. Karena dari rasa ingin tahu itulah proses belajar akan terus hidup.
Di tengah perkembangan teknologi yang serba cepat, memperkenalkan anak pada karya seni adalah cara sederhana untuk mengajarkan bahwa kreativitas, imajinasi, dan kepekaan terhadap kehidupan merupakan bagian penting dari perjalanan menjadi manusia.
Baca juga:
🔗 Peninsula dan Pulau Nusa Dharma: Surga Wisata Ramah Anak di Jantung Nusa Dua
Semakin bertambah usia, Bapak semakin menyadari bahwa kebahagiaan tidak selalu hadir dalam perjalanan yang jauh atau tempat-tempat yang mewah.
Kebahagiaan justru sering ditemukan dalam momen sederhana yang dijalani bersama orang-orang yang kita cintai.
Berjalan tanpa terburu-buru, menikmati setiap sudut ruangan museum, berbincang tentang hal-hal kecil, lalu mengabadikan momen secara spontan telah menjadi cara Bapak menyegarkan jiwa di tengah rutinitas sebagai seorang ayah, fotografer, dan pencinta perjalanan.
Bapak percaya bahwa kamera bukan hanya alat untuk menghasilkan foto yang indah. Kamera adalah saksi perjalanan hidup.
Ia merekam tawa, tatapan mata, langkah kecil, dan berbagai kenangan yang suatu hari nanti akan menjadi pengingat bahwa kita pernah menikmati waktu bersama.
Tidak semua perjalanan harus direncanakan dengan sempurna. Ada kalanya keputusan spontan justru melahirkan pengalaman yang paling berkesan.
Dari perjalanan sederhana inilah Bapak ingin mengajarkan bahwa hidup tidak perlu terus dipenuhi rasa khawatir. Selama hati tetap terbuka, selalu ada pelajaran dan kebahagiaan yang bisa ditemukan.
Kelak ketika kalian dewasa, mungkin kalian tidak akan mengingat semua tempat yang pernah kita kunjungi.
Namun Bapak berharap kalian mengingat perasaan yang hadir di setiap perjalanan itu, perasaan aman, bahagia, penasaran, dan bebas untuk menjadi diri sendiri.
Karena warisan terbaik yang ingin Bapak tinggalkan bukanlah harta benda, melainkan cara memandang kehidupan.
Bahwa hidup sejatinya untuk dinikmati, bukan ditakuti. Menerima diri sendiri dan menerima keadaan adalah bentuk keberanian yang sesungguhnya.
Dari sanalah kita belajar bersyukur, menghargai proses, dan terus melangkah dengan hati yang tenang.
Semoga suatu hari nanti, ketika kalian membaca kembali cerita-cerita perjalanan ini, kalian memahami bahwa setiap langkah yang kita tempuh bersama bukan hanya tentang mengunjungi sebuah tempat, melainkan tentang membangun kenangan, menumbuhkan keberanian, dan belajar menikmati hidup apa adanya.
Sebab pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang paling cepat sampai di tujuan, tetapi siapa yang mampu menikmati setiap langkah perjalanan dengan penuh syukur dan tanpa rasa takut.