Ada masa ketika perjalanan terasa seperti sebuah pencarian. Bukan hanya mencari tempat baru, pemandangan indah, atau pengalaman yang belum pernah dirasakan, tetapi juga mencari jawaban tentang siapa diri kita sebenarnya.
Dulu saya mengira setiap perjalanan harus memiliki tujuan yang jelas. Ada titik keberangkatan, ada tempat yang ingin dituju, lalu ada peta yang menunjukkan jalan.
Namun semakin jauh melangkah, saya justru memahami bahwa kehidupan tidak selalu bekerja seperti itu.
Ada jalan yang membawa kita ke tempat yang tidak pernah direncanakan. Ada pertemuan dengan orang asing yang justru meninggalkan pelajaran.
Ada pula keputusan yang awalnya terasa salah, tetapi beberapa tahun kemudian baru dipahami sebagai bagian penting dari perjalanan hidup.
Peta membantu kita mengetahui arah, tetapi tidak selalu mampu menunjukkan apa yang akan kita temukan di sepanjang perjalanan.
Begitu pula kehidupan. Kita bisa membuat rencana tentang pekerjaan, keluarga, perjalanan, bahkan masa depan.
Namun selalu ada hal-hal yang berada di luar kendali. Rencana bisa berubah, kesempatan bisa datang tiba-tiba, dan sebuah perjalanan bisa membawa kita jauh dari tujuan awal.
Di situlah perjalanan menjadi menarik. Ketika tidak lagi sepenuhnya bergantung pada peta, kita mulai belajar membaca keadaan.
Melihat arah angin, memperhatikan tanda-tanda di sekitar, mendengarkan cerita orang yang ditemui, dan yang paling penting, belajar mempercayai insting sendiri.
Tersesat tidak selalu berarti gagal menemukan jalan. Terkadang kita hanya sedang menemukan jalan yang berbeda.
Baca juga:
๐ Jalan terbaik belum tentu yang paling ramai. Terkadang, jalan sepi justru membawamu ke pemandangan terindah
Dalam perjalanan, ada banyak keputusan yang harus dibuat tanpa informasi lengkap. Tidak selalu ada orang yang bisa ditanya, tidak selalu ada relasi yang bisa dihubungi, dan tidak semua keadaan bisa direncanakan.
Di situlah insting bekerja, bukan sekadar keberanian mengambil keputusan, tetapi kemampuan membaca situasi dan mempercayai rasa kemanusiaan, belajar Percaya pada Insting,
Dalam perjalanan, ada banyak keputusan yang harus dibuat tanpa informasi lengkap. Tidak selalu ada orang yang bisa ditanya, tidak selalu ada relasi yang bisa dihubungi, dan tidak semua keadaan bisa direncanakan.
Di situlah insting bekerja, bukan sekadar keberanian mengambil keputusan, tetapi kemampuan membaca situasi dan mempercayai rasa kemanusiaan.
Saya mengalaminya pada 2015, ketika mengembara seorang diri ke Tanah Toraja. Saat itu saya tidak memiliki relasi di sana. Saya hanya berjalan menyusuri Rantepao, mengikuti rasa ingin tahu dan membiarkan perjalanan membawa saya ke mana saja.
Suatu ketika, saya melihat sekelompok orang mengenakan pakaian hitam berada di atas sebuah truk. Karena penasaran, saya menghampiri dan bertanya, โMau ke mana?โ
Mereka menjawab bahwa mereka hendak menghadiri pesta pernikahan. Entah dari mana keberanian itu datang, saya kemudian bertanya apakah boleh ikut. Mereka menerima saya begitu saja. Saya pun ikut bersama mereka menuju pesta pernikahan masyarakat Toraja.
Saya datang sebagai orang asing, tetapi justru diterima dalam sebuah peristiwa keluarga yang sebenarnya tidak saya kenal.
Saya menyaksikan bagaimana sebuah pesta pernikahan berlangsung, bertemu dengan orang-orang baru, dan merasakan langsung kehidupan masyarakat Toraja dari jarak yang sangat dekat.
Setelah acara selesai, mereka kembali bertanya kepada saya, โMau menginap di mana?โ Saya menjawab bahwa saya tidak memiliki tempat untuk menginap. Rencananya, saya akan langsung menuju Makassar karena tiket bus sudah dipesan.
Namun salah seorang dari mereka kemudian menawarkan, โKalau begitu, tidur saja di rumah saya.โ
Saya tidak mengenalnya sebelumnya. Kami baru bertemu dalam perjalanan menuju sebuah pesta pernikahan. Tetapi saat itu saya memilih untuk percaya. Saya mengikuti mereka menuju Kampung Bokin dan akhirnya tinggal di sana selama lima hari.
Lima hari bersama orang-orang yang awalnya sama sekali tidak saya kenal menjadi salah satu pengalaman yang sampai sekarang masih saya ingat.
Bukan karena tempatnya saja, tetapi karena saya belajar bahwa perjalanan kadang mempertemukan manusia dengan cara yang sangat sederhana.
Pengalaman itu membuat saya memahami bahwa insting bukan berarti berjalan tanpa pertimbangan.
Insting lahir dari pengamatan, pengalaman, keberanian, dan kemampuan membaca situasi. Ada kalanya kita tidak memiliki cukup data untuk mengambil keputusan, tetapi tetap harus melangkah dengan kesadaran.
Perjalanan juga mengajarkan saya membedakan antara rasa takut dan kehati-hatian, antara keraguan dan intuisi. Tidak semua orang yang kita temui harus langsung dipercaya, tetapi tidak berarti setiap orang asing harus dicurigai.
Ada ruang di antara keduanya: mengamati, merasakan, kemudian mengambil keputusan. Pengalaman di Toraja pada 2015 menjadi salah satu contoh bahwa perjalanan bukan hanya tentang menemukan tempat baru.
Kadang perjalanan mempertemukan kita dengan manusia yang tidak pernah kita rencanakan, tetapi justru meninggalkan cerita yang bertahan jauh lebih lama daripada tempat yang kita kunjungi.
Dari sana saya belajar, ketika kita berani membuka diri terhadap perjalanan, dunia tidak selalu terasa sebagai tempat yang asing. Kadang ia memperlihatkan bahwa di balik perbedaan tempat, bahasa, dan kehidupan, ada sesuatu yang sama: insting sesama manusia untuk saling membantu dan menerima.
Mungkin itulah salah satu alasan saya terus menyukai perjalanan. Karena semakin jauh melangkah, saya bukan hanya belajar mengenal dunia, tetapi juga belajar mengenal diri sendiri dan cara saya mempercayai kehidupan.
Baca juga:
๐ Kampung Bokin: Permata Dingin di Atas Awan Tana Toraja
Setiap tempat memiliki cerita. Begitu pula setiap orang yang kita temui di perjalanan. Ada warung sederhana tempat kita berbincang dengan orang yang baru dikenal.
Ada jalan panjang yang dilewati dalam kesunyian. Ada pagi yang dimulai dengan udara dingin, atau sore ketika matahari perlahan tenggelam setelah perjalanan yang melelahkan.
Hal-hal sederhana seperti itu sering kali justru menjadi bagian yang paling lama tinggal dalam ingatan.
Pada akhirnya, perjalanan bukan hanya tentang berapa banyak kota yang kita datangi atau berapa jauh jarak yang sudah ditempuh. Perjalanan adalah kumpulan pengalaman kecil yang perlahan membentuk cara kita melihat kehidupan.
Setiap langkah menjadi cerita. Setiap pertemuan meninggalkan pelajaran. Bahkan kesalahan pun bisa menjadi bagian dari perjalanan yang suatu hari kita syukuri karena pernah mengalaminya.