Menjaga Bali dari Hal Sederhana, Dedikasi I Wayan Aksara untuk Lingkungan

I Wayan Aksara menerima penghargaan Aktivis Lingkungan & Pemimpin Keberlanjutan pada ITLS Awards 2026.
I Wayan Aksara, Ketua Yayasan Bumi Kita Nuswantara, menerima penghargaan sebagai Aktivis Lingkungan & Pemimpin Keberlanjutan pada ITLS Awards 2026 atas dedikasinya. (Foto: Mahendra)

Isu lingkungan masih menjadi bagian penting dalam perjalanan Bali sebagai salah satu destinasi pariwisata dunia.

Di tengah pertumbuhan pariwisata dan aktivitas masyarakat yang terus bergerak, persoalan sampah, khususnya penggunaan plastik sekali pakai, menjadi perhatian yang membutuhkan keterlibatan banyak pihak.

Di balik upaya tersebut, ada orang-orang yang memilih untuk bergerak secara konsisten. Bukan hanya melalui kampanye, tetapi juga dengan tindakan sederhana yang dilakukan secara rutin di tengah masyarakat.

Salah satunya adalah I Wayan Aksara, Ketua Yayasan Bumi Kita Nuswantara. Selama beberapa tahun terakhir, ia aktif menjalankan berbagai program yang mendorong pengurangan penggunaan plastik sekali pakai sekaligus membangun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan.

Bergerak Bersama Relawan

Gerakan yang dilakukan Wayan Aksara tidak berhenti pada kegiatan kampanye. Bersama para relawan, ia juga terlibat dalam aktivitas yang berangkat dari semangat ngayah, sebuah nilai yang lekat dengan kehidupan masyarakat Bali.

Semangat tersebut diwujudkan melalui kegiatan membersihkan lingkungan secara sukarela. Sejumlah lokasi di Bali menjalankan rutinitas mingguan untuk membersihkan sampah secara mandiri.

Kegiatan ini dilakukan bukan semata-mata karena adanya sebuah acara, tetapi menjadi kebiasaan yang terus dijaga.

Bagi gerakan lingkungan, konsistensi menjadi bagian penting. Sampah yang hari ini dibersihkan mungkin akan kembali muncul esok hari.

Namun, dari kegiatan yang dilakukan berulang-ulang, tumbuh kesadaran bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, pengelola kawasan, maupun industri pariwisata. Masyarakat juga memiliki peran di dalamnya.

Dari Ngayah untuk Bali

Semangat ngayah memberikan warna tersendiri dalam gerakan yang dilakukan bersama para relawan. Ada waktu, tenaga, dan kepedulian yang diberikan tanpa selalu mengharapkan imbalan.

Membersihkan sampah mungkin terlihat sebagai pekerjaan sederhana. Namun, ketika dilakukan secara rutin dan bersama-sama, aktivitas tersebut dapat menjadi pesan bahwa menjaga Bali bisa dimulai dari lingkungan yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Bali tidak hanya membutuhkan pembangunan fasilitas pariwisata. Pulau ini juga membutuhkan kesadaran untuk menjaga ruang hidup, alam, dan lingkungan yang menjadi bagian dari pengalaman wisatawan sekaligus kehidupan masyarakat lokal.

Karena itu, gerakan kecil yang dilakukan secara konsisten memiliki makna dalam perjalanan menuju pariwisata yang lebih berkelanjutan.

Baca juga:
🔗 BumiKita: Dari Komunitas Menjadi Keluarga yang Bergerak untuk Lingkungan

Mendapat Apresiasi ITLS Awards 2026

Dedikasi tersebut kemudian mendapat apresiasi dalam ITLS Awards 2026. I Wayan Aksara menerima penghargaan sebagai Aktivis Lingkungan & Pemimpin Keberlanjutan.

Penghargaan tersebut merupakan bagian dari International Tourism Leaders’ Summit (ITLS) Awards yang diberikan oleh Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA) DPD Bali sebagai bentuk apresiasi kepada tokoh, praktisi, dan institusi yang dinilai turut berkontribusi terhadap perkembangan pariwisata berkelanjutan.

ITLS 2026 digelar pada Sabtu, 26 September 2026, di Bali Sunset Road Convention Center (BSCC), Bali.

Mengusung tema “Cross-Border Tourism Leaders’ Perspectives: Balancing Sustainability, Technology, and Human Experience,” kegiatan tersebut menjadi ruang pertemuan bagi para pemimpin dan pemangku kepentingan pariwisata untuk membahas berbagai arah perkembangan industri pariwisata.

Bagi I Wayan Aksara, penghargaan tersebut bukan semata-mata tentang dirinya. Ia melihatnya sebagai bentuk apresiasi terhadap upaya kecil yang selama ini dilakukan bersama banyak orang dalam menjaga lingkungan Bali.

“Saya melihat diri saya hanya sebagai salah satu orang yang ikut berperan dalam membangun pariwisata yang berkelanjutan.

Saya lahir dan dibesarkan di pulau ini, sehingga apa yang saya lakukan sebenarnya adalah bagian dari tanggung jawab saya untuk menjaga tempat yang menjadi rumah saya,” ujarnya.

Di tengah pembahasan mengenai teknologi, keberlanjutan, dan pengalaman manusia dalam pariwisata, kisah I Wayan Aksara mengingatkan bahwa keberlanjutan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar.

Ia bisa tumbuh dari kebiasaan sederhana: mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memungut sampah yang ditemui, melakukan kegiatan ngayah, serta mengajak semakin banyak orang untuk ikut menjaga lingkungan.

Sebab, bagi mereka yang lahir dan tumbuh di Bali, menjaga lingkungan bukan hanya tentang mempertahankan wajah pariwisata, tetapi juga merawat rumah yang diwariskan untuk generasi berikutnya.

Baca juga:
🔗 ITLS Awards 2026 IHGMA Bali, Apresiasi bagi Para Pemimpin Pariwisata dan Pembangunan Berkelanjutan

Menjaga Bali, Satu Langkah Setiap Pekan

Pariwisata berkelanjutan bukan hanya tentang bagaimana Bali menerima wisatawan, tetapi juga bagaimana pulau ini tetap memiliki lingkungan yang layak untuk ditinggali oleh masyarakatnya.

Apa yang dilakukan Wayan Aksara bersama para relawan menjadi salah satu bentuk kontribusi masyarakat dalam menjawab persoalan tersebut. Tidak selalu dengan gerakan besar, tetapi melalui kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus.

Sebab, menjaga Bali pada akhirnya bukan hanya tentang siapa yang paling banyak berbicara mengenai lingkungan. Lebih jauh dari itu, tentang siapa yang bersedia turun tangan dan melakukannya.

Dari satu lokasi, satu kantong sampah, satu kegiatan setiap pekan, tumbuh sebuah kesadaran bahwa Bali adalah ruang hidup bersama.

Dan mungkin, keberlanjutan memang sering kali dimulai dari hal yang sederhana: peduli, kemudian bergerak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *