Kami bukan hanya sebuah komunitas, tetapi kami adalah sebuah keluarga. Semangat inilah yang terasa dalam setiap kegiatan yang dilakukan oleh BumiKita.
Usai melaksanakan aksi bersih pantai, para relawan tidak langsung pulang. Mereka menyempatkan diri untuk duduk bersama, berbagi cerita, serta mendiskusikan berbagai isu dan informasi terkini yang sedang berkembang.
Sesi diskusi ini menjadi momen yang tidak pernah terlupakan. Dari sinilah para relawan saling bertukar wawasan, memperkaya sudut pandang, sekaligus menyamakan persepsi dalam setiap langkah gerakan.
Kebersamaan yang terbangun bukan hanya tentang aksi, tetapi juga tentang rasa memiliki tujuan yang sama.
Aksi mingguan yang rutin dilaksanakan setiap Jumat sore di Pantai Pering, Blahbatuh, menjadi wujud nyata konsistensi dalam menjaga lingkungan.
Pada kesempatan kali ini, kegiatan tersebut turut dihadiri oleh sahabat dari Komunitas Clean Up Bali yang beranggotakan warga Jepang yang tinggal dan mencintai Bali, sehingga semakin memperkuat kolaborasi antar komunitas peduli lingkungan.
Baca juga:
🔗 Komunitas BumiKita: Bergerak Sebelum Isu Menjadi Viral
Suasana semakin hangat dengan adanya sesi diskusi santai yang ditemani kopi, teh, dan kudapan.
Menariknya, seluruh konsumsi disajikan tanpa kemasan plastik sekali pakai—sebuah bentuk komitmen nyata para relawan terhadap bumi.
Hal ini juga menjadi edukasi sederhana namun bermakna, khususnya bagi peserta yang baru pertama kali bergabung bersama BumiKita.
Gerakan ini tidak berhenti pada aksi lapangan semata. Kini, Wayan Aksara menjalankan Yayasan BumiKita Nuswantara, yang ia dirikan bersama para sahabat dengan kepedulian yang sama terhadap lingkungan.
Yayasan ini menaungi gerakan BumiKita yang terbagi dalam dua divisi utama, yaitu Bumi Hijau dan Bumi Bersih.
Keduanya berfokus pada pelestarian lingkungan sekaligus penguatan edukasi publik sebagai fondasi perubahan jangka panjang.
Baca juga:
🔗 Wayan Aksara: Dari Aktivis Lingkungan hingga Penjaga Denyut Budaya Bali
Dalam kurun waktu tiga tahun, jaringan Bumi Nuswantara telah berkembang pesat hingga mencakup 15 chapter di seluruh Indonesia.
Setiap chapter bergerak secara konsisten setiap minggu, karena mereka percaya bahwa perubahan besar berawal dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara berulang.
Berbekal pengalaman panjang di berbagai organisasi, Wayan Aksara mampu memadukan nilai-nilai lokal dengan pendekatan modern dalam menggerakkan komunitas.
Di Bali, semangat gotong royong dan ngayah menjadi fondasi utama. Ngayah, yang dimaknai sebagai bentuk pengabdian tulus tanpa pamrih, telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat.
Baca juga:
🔗 Bali dan Nafas Gotong Royong yang Tak Pernah Padam
“Seluruh chapter bergerak secara sukarela, tanpa mengandalkan bayaran. Orang-orang bergabung karena panggilan hati, karena cinta pada pulau ini.
Dari semangat ngayah, tumbuh loyalitas yang tak bisa dibeli,” ujar Wayan. BumiKita yang berada di bawah naungan Yayasan BumiKita Nuswantara sepenuhnya digerakkan oleh para relawan.
Setiap kegiatan dijalankan dengan sukacita dan ketulusan hati, mencerminkan komitmen nyata terhadap kelestarian lingkungan.
Gerakan ini mencakup berbagai aktivitas, mulai dari aksi bersih pantai, edukasi lingkungan ke sekolah-sekolah, hingga kampanye penggunaan tumbler di ruang publik.
Langkah-langkah sederhana ini menjadi bagian dari upaya besar untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
Tak sedikit orang yang akhirnya terinspirasi oleh gaya hidup sederhana yang dijalankan Wayan Aksara, terutama konsistensinya dalam menolak plastik sekali pakai. Sebuah langkah kecil, namun berdampak besar bagi masa depan bumi.