Dua tangan menarik satu wajah palsu. Kau menariknya ke arahmu, sementara aku menariknya ke arahku. Keduanya sama-sama ingin menguasai topeng yang sama, seolah-olah dengan memilikinya, kita bisa menyembunyikan sesuatu yang selama ini berusaha kita hindari.
Di tengah tarikan itu, topeng seolah berbisik, “Kalian berdua sama-sama hancur. Mengapa masih berebut untuk menutupi luka yang sama?”
Pertanyaan itu menggantung di antara kami. Sebab, sesungguhnya, kami tidak sedang berebut untuk terlihat utuh. Kami hanya sedang mencari tempat untuk bersembunyi dari bayangan diri sendiri.
Barangkali, kita sering melakukan hal serupa dalam kehidupan. Kita sibuk mempertahankan sesuatu yang membuat kita terlihat kuat, berusaha menunjukkan bahwa semuanya baik-baik saja, sementara di dalam diri masih ada luka yang belum selesai kita terima.
Baca juga:
🔗 Topeng dan Bayangan: Menerima Sisi Tersembunyi dalam Diri
Ada yang berupa kesombongan, ada yang menjelma menjadi kemarahan, dan ada pula yang bersembunyi di balik keinginan untuk selalu terlihat benar.
Tanpa disadari, kita menghabiskan begitu banyak tenaga untuk mempertahankan wajah yang ingin dilihat dunia, hingga lupa mengenali wajah kita sendiri.
Ironisnya, semakin keras kita berusaha menyembunyikan luka, semakin besar pula ketakutan kita ketika seseorang mencoba melihatnya.
Mungkin, yang perlu kita lakukan bukanlah memenangkan perebutan topeng itu. Kita hanya perlu berhenti menariknya, lalu berani melihat apa yang selama ini kita sembunyikan.
Sebab, luka tidak akan sembuh hanya karena tertutup, dan bayangan tidak akan menghilang hanya karena kita berpaling darinya.
Terkadang, keberanian terbesar bukanlah menunjukkan bahwa kita baik-baik saja, melainkan mengakui bahwa kita pernah hancur, masih terluka, dan sedang belajar menerima diri sendiri.
Pada akhirnya, topeng itu tidak pernah benar-benar menjadi milik siapa pun. Ia hanyalah tempat persembunyian sementara bagi mereka yang belum siap berdamai dengan dirinya sendiri.