DENPASAR โ Mengantisipasi potensi bencana alam memasuki peralihan musim kemarau ke musim hujan, Pemerintah Provinsi Bali menggelar apel kesiapan pasukan dalam rangka antisipasi dan penanggulangan bencana di wilayah Provinsi Bali, Kamis (5/11/2026).
Apel yang berlangsung pukul 08.00 WITA di Lapangan Iptu Soetardjo, Mako Brimob Tohpati, Denpasar Timur, dipimpin langsung Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta, S.Sos.
Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah III, Bali saat ini memasuki masa peralihan dari musim kemarau menuju musim hujan.
Prakiraan cuaca pada periode 1โ10 November 2026 menunjukkan potensi hujan dengan intensitas ringan hingga lebat di seluruh kabupaten/kota di Bali.
Kondisi tersebut perlu diwaspadai karena masa peralihan musim kerap disertai cuaca ekstrem yang sulit diprediksi, seperti hujan deras dan angin kencang.
Situasi ini berpotensi memicu berbagai bencana, mulai dari banjir, banjir bandang, tanah longsor, hingga pohon tumbang.
Baca juga:
๐ BMKG Prediksi Musim Hujan 2026/2027 Datang Lebih Lambat, Bali Mulai November
Hasil pemetaan kerawanan juga menunjukkan bahwa hampir seluruh wilayah kabupaten/kota di Bali memiliki titik rawan bencana.
Selain banjir dan tanah longsor, ancaman lainnya meliputi banjir rob dan abrasi pantai. Sebagai destinasi pariwisata dunia dengan mobilitas masyarakat dan wisatawan yang tinggi, bencana alam di Bali tidak hanya mengancam keselamatan jiwa, tetapi juga berpotensi berdampak terhadap aktivitas perekonomian daerah serta citra pariwisata Bali di mata internasional.
Dalam amanatnya, Giri Prasta menegaskan bahwa kesiapsiagaan menghadapi bencana merupakan tanggung jawab bersama. Sejalan dengan visi pembangunan Bali, โNangun Sat Kerthi Loka Baliโ, menjaga kesucian dan keharmonisan alam Bali beserta isinya juga mencakup upaya melindungi masyarakat dari berbagai ancaman bencana.
Menurutnya, apel kesiapan tersebut memiliki tiga tujuan utama, yakni mengecek kesiapan personel beserta sarana dan prasarana penanggulangan bencana, memperkuat sinergi dan koordinasi lintas sektoral, serta membangun kewaspadaan bersama agar seluruh unsur sudah siap sebelum bencana terjadi.
Kegiatan ini melibatkan 446 personel gabungan, dengan 404 personel di antaranya mengikuti apel kesiapan.
Kekuatan gabungan tersebut menjadi wujud kolaborasi lintas sektoral yang dapat dikerahkan sewaktu-waktu untuk memperkuat pemerintah kabupaten/kota dan satuan kewilayahan apabila terjadi bencana di Bali.
Dalam kesempatan tersebut, Giri Prasta juga menyampaikan lima arahan kepada seluruh personel yang terlibat.
Baca juga:
๐ BMKG Keluarkan Peringatan, Bali Waspada Cuaca Ekstrem 2โ8 Maret 2026
Pertama, menjaga kesiapan personel dan sarana prasarana. Seluruh personel diminta memelihara kondisi fisik dan mental agar selalu siap digerakkan selama 24 jam.
Peralatan maupun kendaraan operasional juga harus dipastikan berada dalam kondisi siap pakai.
Kedua, memperkuat sinergi dan koordinasi lintas sektoral. Komunikasi antara TNI, Polri, BPBD, Basarnas, Dinas Kesehatan, pemerintah kabupaten/kota, desa adat, serta seluruh pemangku kepentingan terkait harus berjalan solid dalam satu koordinasi terpadu.
Ketiga, mengoptimalkan deteksi dini dan pemantauan wilayah rawan bencana. Informasi cuaca dari BMKG perlu diperbarui secara berkala, disertai pemetaan dan pemantauan terhadap titik rawan banjir, tanah longsor, pohon tumbang, banjir rob, serta abrasi pantai.
Keempat, bertindak cepat, tepat, dan humanis dalam setiap penanganan bencana. Keselamatan jiwa masyarakat dan wisatawan harus menjadi prioritas utama.
Seluruh personel juga diminta menjalankan tugas sesuai standar operasional prosedur (SOP) dengan tetap memperhatikan keselamatan diri.
Kelima, meningkatkan edukasi kepada masyarakat dan memastikan informasi yang disampaikan tetap akurat.
Imbauan kewaspadaan perlu diperkuat, penyebaran informasi bohong atau hoaks harus diantisipasi, serta setiap perkembangan situasi dilaporkan secara berjenjang kepada pimpinan masing-masing kesatuan atau instansi.
Melalui apel kesiapan ini, seluruh unsur terkait diharapkan tidak hanya siap secara personel dan peralatan, tetapi juga memiliki koordinasi yang kuat dalam menghadapi kemungkinan bencana.
Kesiapsiagaan sebelum bencana terjadi menjadi langkah penting untuk meminimalkan risiko, mempercepat proses penanganan, serta melindungi masyarakat dan wisatawan yang berada di Pulau Bali.