Bekantan: Si Hidung Panjang Penjaga Hutan Bakau

Bekantan jantan, betina, dan anaknya berinteraksi bersama dalam satu momen hangat di habitat alaminya.
Seekor bekantan jantan, betina, dan anak mereka tampak akrab dalam satu momen keluarga yang memperlihatkan kehangatan kehidupan liar di alam

Di tengah lebatnya hutan bakau Kalimantan, tampak sosok yang sulit dilupakan seekor primata berhidung panjang yang mencolok, duduk tenang di atas dahan.

Dialah bekantan (Nasalis larvatus), satwa endemik Indonesia yang sekaligus menjadi ikon kebanggaan Provinsi Kalimantan Selatan.

Bekantan dikenal karena hidungnya yang besar dan panjang, terutama pada pejantan dewasa. Hidung ini bukan sekadar ornamen, melainkan alat untuk menarik perhatian betina sekaligus memperkuat suara panggilan.

Dengan bulu berwarna coklat kemerahan dan wajah merah muda, bekantan tampak eksotis dan unik  seolah menjadi simbol keindahan alam Kalimantan yang autentik.


Mereka hidup berkelompok di sekitar hutan mangrove, rawa, serta tepian sungai. Makanan utama bekantan terdiri atas daun, buah, dan biji-bijian.


Tak hanya itu, bekantan juga dikenal sebagai perenang andal, mampu menyelam hingga kedalaman 20 meter.


Sayangnya, keberadaan mereka kini kian terancam akibat alih fungsi hutan, perburuan liar, dan kerusakan habitat. Bekantan pun masuk dalam daftar satwa terancam punah menurut IUCN dan mendapat perlindungan hukum.


Baca juga:
🔗 Merdeka di Tanah Rawa: Menyibak Keajaiban “Rumah Semut” di Merauke

Pemanjat dan Perenang Ulung

Sebagai satwa arboreal (penghuni pohon), bekantan lebih banyak menghabiskan waktu di atas pepohonan.

Namun, sesekali mereka turun ke lantai hutan untuk berbagai keperluan. Perpindahan antar dahan dilakukan dengan berbagai gaya: melompat, bergelantungan, hingga merayap menggunakan keempat anggota tubuhnya.

Tak hanya piawai di pepohonan, bekantan juga jago berenang. Di telapak tangan dan kakinya terdapat selaput kulit (web) mirip katak, yang membantu mereka menyeberangi sungai atau rawa dengan mudah.

Satu Bayi dalam Satu Musim

Dalam satu musim, seekor bekantan betina hanya melahirkan satu bayi, dengan masa kehamilan sekitar 166 hari.

Umumnya, kelahiran terjadi pada malam hari. Bayi yang baru lahir memiliki wajah kebiruan dengan bulu jarang berwarna hitam pekat.

Bekantan betina memegang kepala bekantan jantan dengan perbedaan bentuk hidung yang jelas terlihat.
Momen manis saat bekantan betina memegang kepala bekantan jantan, menampilkan perbedaan bentuk hidung yang mencolok hidung jantan tampak lebih panjang daripada betina

Memasuki usia 3 hingga 4 bulan, bulu bayi bekantan mulai berubah warna, menandai proses menuju kedewasaan.

Menariknya, betina dalam kelompok bekantan kerap bekerja sama dalam merawat dan menyusui bayi-bayi lain.


Anak bekantan biasanya lepas dari induknya setelah berusia sekitar satu tahun  bertepatan saat sang induk siap kembali melahirkan.


Sementara itu, pejantan mencapai kematangan seksual di usia 4–5 tahun, dan betina sekitar usia 4 tahun.

Bekantan sendiri termasuk dalam genus Nasalis, yang memiliki dua subspesies Nasalis larvatus larvatus yang tersebar luas di Kalimantan, dan Nasalis larvatus orientalis yang hidup di kawasan timur laut pulau tersebut.

Sulit Ditangkap

Bekantan dikenal sebagai satwa liar yang sulit ditangkap. Mereka cenderung memilih habitat di hutan campuran, hutan bakau, hutan dataran rendah dekat air tawar, serta sepanjang aliran sungai.

Untuk beristirahat dan tidur, bekantan lebih suka berada di hutan yang dekat dengan perairan, menghindari daerah terbuka maupun pemukiman manusia.

Pergerakan mereka biasanya tidak lebih dari 600 meter dari sungai. Meski ahli renang, bekantan hanya menyeberang jika benar-benar diperlukan.

Banyak Nama, Satu Pesona

Bekantan memiliki berbagai nama di berbagai tempat. Dalam bahasa Inggris, dikenal sebagai Long-Nosed Monkey atau Proboscis Monkey.

Di Malaysia disebut Kera Bekantan, di Brunei dikenal sebagai Bangkatan, dan dalam bahasa Belanda disebut Neusaap.

Sementara itu, di Kalimantan sendiri, bekantan akrab dengan beragam nama lokal seperti Kera Belanda, Pika, Bahara Bentangan, Raseng, hingga Kahau  menunjukkan betapa eratnya hubungan antara satwa unik ini dengan masyarakat setempat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *