AKP Ketut Narsa merupakan salah satu personel Brimob Polda Bali yang mengabdikan sebagian besar hidupnya di bidang wanteror.
Perjalanan panjangnya di Korps Brimob bukanlah sesuatu yang sejak awal direncanakan, melainkan sebuah jalan hidup yang dijalani dengan ketulusan, mengalir, dinikmati, dan diterima sebagai bentuk pengabdian.
Lahir dan besar di Singaraja, tepatnya di Pancasari, kawasan sejuk di sekitar Bedugul, Ketut Narsa berasal dari keluarga sederhana.
Orang tuanya adalah petani yang juga terlibat dalam pariwisata lokal. Dari lingkungan inilah nilai kerja keras, kesederhanaan, dan ketekunan tertanam kuat sejak kecil.
Ia menjadi salah satu anggota keluarga yang “membuka jalan” dengan memilih mengabdi di kepolisian, khususnya Korps Brimob.
Keputusan masuk kepolisian datang tanpa perencanaan matang. Saat itu, Ketut Narsa bahkan belum menamatkan pendidikan SMA. Ia mengikuti seleksi kepolisian semata karena ajakan seorang teman.
Tak disangka, dalam satu kali tes ia langsung dinyatakan lulus, sementara teman yang mengajaknya justru gagal, meski telah mencoba hingga tiga kali. Dari peristiwa sederhana itulah arah hidupnya berubah.
Pendidikan kepolisian yang dijalani tergolong panjang dan berat, dengan total masa pendidikan sekitar 17 bulan:
SPN yang ia jalani berada di wilayah Singaraja, dengan akses melewati jalur Bedugul, jalur yang kini terasa akrab karena menjadi bagian dari awal kisah pengabdiannya.
Baca juga:
🔗 Menjadi Nahkoda: Mengemudikan Kapal Kehidupan di Lautan Tantangan
Selepas pendidikan, Ketut Narsa termasuk dalam angkatan besar, sekitar 6.000 personel lulusan SPN yang kemudian bergabung dengan Brimob.
Saat itu, ia mengaku belum sepenuhnya memahami apa itu Brimob dan bagaimana medan tugas sesungguhnya. Namun seiring waktu, semua dijalani dengan kesadaran dan keteguhan hati.
Dalam perjalanan kariernya, ia terlibat dalam berbagai peristiwa besar, di antaranya masa transisi 1998 serta peristiwa Bom Bali I dan Bom Bali II, catatan kelam sekaligus ujian berat bagi aparat keamanan, khususnya Brimob.
Pada masa awal bertugas, struktur satuan dan sistem penanganan masih berskala kecil. Ia pernah bertugas dalam formasi kompi selama beberapa tahun, jauh sebelum unit Gegana terbentuk seperti saat ini.
Perkembangan organisasi, metode, serta teknologi penanganan ancaman terorisme ia saksikan dan jalani secara langsung, dari masa ke masa.
Dalam perjalanan dinasnya, AKP Ketut Narsa memegang satu prinsip sederhana yang menjadi pegangan dalam mengasah keterampilan dan kesiapan tugas:
“Latihan apa saja itu bagus. Yang tidak bagus adalah ketika kita tidak mau berlatih.”
Bagi dirinya, tugas di bidang wanteror bukan semata soal kekuatan fisik atau kecakapan teknis. Lebih dari itu, ia menekankan pentingnya kekompakan tim, disiplin, serta kepercayaan antarpersonel, fondasi utama dalam menghadapi situasi berisiko tinggi.
Prestasi pun tidak pernah ia tempatkan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai konsekuensi alami dari proses panjang yang dijalani dengan konsisten dan penuh tanggung jawab.
“Prestasi itu bonus. Ini adalah lakon hidup saya,” ujarnya singkat, namun sarat makna.
Kini, hampir tiga dekade telah ia lalui sebagai anggota Brimob, khususnya di bidang wanteror yang berkaitan langsung dengan pengamanan pariwisata Bali, sebuah tugas krusial di tengah posisi Bali sebagai destinasi wisata kelas dunia.
Dari seorang anak petani di Pancasari hingga menjadi perwira Brimob Polda Bali, perjalanan hidup AKP Ketut Narsa adalah kisah tentang ketidaksengajaan yang dijalani dengan kesungguhan.
Tentang pengabdian yang tidak selalu berangkat dari rencana besar, namun pada akhirnya menjelma menjadi jalan hidup yang utuh dan penuh makna.
Pada akhirnya, perjalanan AKP Ketut Narsa bukan tentang seberapa banyak operasi yang dijalani atau seberapa besar peristiwa yang pernah dilalui.
Ini adalah kisah tentang kesetiaan pada proses tentang seseorang yang memilih bertahan, belajar, dan tetap rendah hati di jalan pengabdian yang tidak selalu mudah.
Dari Pancasari yang sejuk hingga medan tugas penuh risiko, dari ketidaksengajaan mengikuti seleksi hingga hampir tiga dekade mengabdi di Brimob wanteror, hidup mengajarkannya satu hal penting, jalani dengan ikhlas, lakukan dengan sungguh-sungguh.
Prestasi boleh datang dan pergi, tetapi nilai pengabdian akan selalu tinggal.
Di tengah perubahan zaman dan dinamika tugas yang terus berkembang, sosok AKP Ketut Narsa menjadi pengingat bahwa pengabdian sejati tidak selalu lahir dari rencana besar, melainkan dari keberanian menerima jalan hidup dan menjalaninya sampai tuntas.