Bali bukan hanya destinasi wisata dunia, tetapi juga ruang bagi ribuan orang untuk membangun karier di industri hospitality.
Dari posisi awal hingga manajemen, perjalanan itu membutuhkan pendidikan, pengalaman, keberanian mengambil keputusan, dan kemauan untuk terus belajar.
Salah satunya adalah Ana Dewi, perempuan kelahiran 1978 yang kini dipercaya sebagai Executive Assistant Manager (Rooms and Food & Beverage Operations) di Mövenpick Resort & Spa Jimbaran Bali.
Di balik posisinya hari ini, ada perjalanan panjang yang diwarnai pengalaman internasional, perpindahan tempat kerja, tantangan, ambisi, hingga keputusan sulit yang menguji prinsipnya sebagai seorang pemimpin.
Baca juga:
🔗 Ni Putu Ayu Trefi Cahaya Wati: Dua Dekade di Hospitality
Ana merupakan lulusan Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Bali, yang kini dikenal sebagai Politeknik Pariwisata Bali. Ia menyelesaikan pendidikannya pada 2000 dan kemudian memulai perjalanan kariernya di industri hospitality bersama grup Four Seasons.
Langkah awal karier Ana justru dimulai dari posisi paling dasar. Ia bekerja di Kuala Lumpur sebagai Room Attendant di departemen Housekeeping.
Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam prosesnya memahami dunia perhotelan secara langsung, dari sisi operasional hingga pelayanan kepada tamu.
Kesempatan bekerja di luar negeri kemudian membawanya memperoleh pengalaman di sejumlah negara, termasuk Malaysia dan Australia.
Berbagai lingkungan kerja tersebut memperkaya wawasan sekaligus membentuk cara pandangnya terhadap standar pelayanan dalam industri hospitality internasional.
Pada 2006, Ana memutuskan kembali ke Bali. Kepulangannya bukan berarti perjalanan kariernya berhenti.
Justru di Bali, ia kembali membangun karier dengan mencoba berbagai bidang dan departemen.
Ia pernah menjalani pengalaman di Housekeeping (HK), Front Office (FO), Sales & Marketing (S&M), Reservation, Food & Beverage (F&B), hingga operasional.
Perpindahan dari satu departemen ke departemen lain membuat Ana memiliki pemahaman yang semakin luas mengenai bagaimana sebuah hotel dijalankan.
Namun, perjalanan tersebut juga membuatnya sempat merasa tertinggal dibandingkan teman-teman seangkatannya.
“Teman-teman angkatan saya sudah ada yang menjadi assistant manager, sementara saya baru mulai. Dari situ saya merasa harus mengejar,” kenangnya.
Semangat untuk mengejar ketertinggalan itu kemudian membawanya bergabung dengan Legian Beach Hotel. Setahun kemudian, ia melanjutkan perjalanan kariernya bersama grup Accor.
Bagi Ana, setiap perpindahan pekerjaan dan departemen bukan sekadar perjalanan mengejar jabatan.
Setiap pengalaman menjadi kesempatan untuk belajar, memahami karakter orang, mengenal berbagai sisi operasional hotel, sekaligus memperkuat kemampuannya dalam menghadapi dinamika industri hospitality.
Perjalanan panjang dari seorang Room Attendant di Kuala Lumpur hingga menapaki berbagai posisi di industri perhotelan menjadi bagian dari proses yang membentuk Ana seperti sekarang.
Baginya, karier tidak dibangun dalam satu lompatan, melainkan melalui pengalaman, kerja keras, dan keberanian untuk terus belajar.
Baca juga:
🔗 Bartender, Profesi yang Tak Terpisahkan dari Gemerlap Hospitality Bali
Dalam perjalanan kariernya, Ana memiliki pengalaman di berbagai departemen dalam industri hospitality.
Ia pernah bergabung di Housekeeping (HK), Front Office (FO), Sales & Marketing (S&M), Reservation, Food & Beverage (F&B), Operational Marketing, hingga terlibat langsung dalam operasional hotel.
Ana mengaku mudah merasa bosan jika tidak menemukan tantangan baru. Karena itu, kesempatan belajar dan menciptakan sesuatu menjadi alasan penting baginya dalam memilih pekerjaan.
Ketika berada di Accor, ia sebenarnya memiliki kesempatan untuk bertahan dan menunggu jenjang berikutnya. Namun ambisinya untuk berkembang membuatnya memilih keluar dan menerima kesempatan di Bali Safari.
Keputusan itu dilakukan secara baik-baik dan tetap menjaga hubungan dengan atasannya.
“Saya bilang kepada GM saya bahwa saya ingin keluar baik-baik. Hubungan saya dengan GM di Accor sampai sekarang juga tetap baik,” ujarnya.
Di Bali Safari, ia mendapat kesempatan belajar lebih luas, termasuk melalui kepercayaan langsung dari owner.
“Saya bisa banyak belajar karena kesempatan itu diberikan langsung oleh owner. Jadi saya mengambil kesempatan tersebut,” katanya.
Baca juga:
🔗 Bisnis Hospitality di Labuan Bajo: Di Balik Pesona Surga Wisata, Tersimpan Tantangan SDM
Perjalanan Ana kemudian membawanya menjadi General Manager (GM) di sebuah hotel di kawasan Seminyak. Namun, posisi tersebut hanya dijalaninya sekitar tujuh bulan.
Saat itu terjadi perbedaan pandangan dengan pemilik hotel mengenai seorang karyawan yang dinilai kurang memberikan kontribusi dan dianggap menjadi beban perusahaan.
Ana melihat persoalan tersebut dari sisi berbeda. Menurutnya, karyawan itu merupakan pribadi yang baik, bertanggung jawab, dan tetap berusaha bekerja meski dalam kondisi sakit.
Situasi tersebut menempatkan Ana pada dilema sebagai pemimpin. Di satu sisi ada kepentingan bisnis, tetapi di sisi lain ada manusia yang harus dipertimbangkan.
Ana akhirnya memilih mempertahankan prinsipnya dan mengundurkan diri. Baginya, menjadi pemimpin bukan sekadar memiliki jabatan dan kewenangan, tetapi juga tanggung jawab terhadap orang-orang di dalam organisasi.
“Bagi saya, bisnis memang penting, tetapi kita juga harus melihat sisi manusianya.”
Keputusan itu mungkin tidak mudah bagi kariernya, tetapi menjadi salah satu pengalaman yang membentuk cara pandangnya terhadap kepemimpinan.
Setelah itu, Ana kembali melanjutkan perjalanan kariernya ke Ubud dan sejumlah tempat lain di Bali.
Baginya, setiap perpindahan bukan sekadar berganti tempat kerja, melainkan kesempatan untuk belajar.
Baca juga:
🔗 Prinsip dan Integritas, Warisan Seorang Pemimpin
Pandemi Covid-19 menjadi salah satu fase yang mengubah arah perjalanan karier Ana. Ketika aktivitas industri hospitality terhenti dan operasional hotel nyaris tidak berjalan, ia pun memasuki masa vakum dari rutinitas yang selama ini dijalaninya.
Namun, masa tersebut justru menjadi ruang bagi Ana untuk kembali mengembangkan keterampilan yang pernah ia tekuni sejak 2010.
Ia mulai mengerjakan berbagai pekerjaan sebagai konsultan untuk sejumlah klien, menulis, membuat konten, hingga menggarap company profile. Semua itu ia jalani sembari tetap menjalankan perannya mengurus keluarga dan anak.
Jika sebelumnya sebagian besar waktunya tersita oleh dinamika operasional hotel, pandemi memberinya kesempatan untuk melihat dunia dari perspektif yang berbeda.
Ia menemukan kembali kemampuan dalam komunikasi, konsultasi, penulisan, dan kreativitas yang selama ini berada di luar rutinitas pekerjaannya di hotel.
Pengalaman tersebut kemudian menjadi bekal penting bagi Ana ketika kembali aktif di dunia hospitality.
Pandemi tidak hanya menjadi masa jeda dalam perjalanan kariernya, tetapi juga menjadi fase pembelajaran yang memperluas kemampuan dan cara pandangnya dalam bekerja.
Pada 2023, Ana bergabung dengan Mövenpick Resort & Spa Jimbaran Bali. Di tempat ini ia kembali menemukan ruang yang sesuai dengan karakternya, pekerjaan yang penuh tantangan dan memberi kesempatan untuk berkarya.
Kini ia dipercaya menangani Rooms and Food & Beverage Operations sebagai Executive Assistant Manager.
Salah satu proyek yang menjadi bagian dari perjalanannya adalah Adriana Cocina & Bar, restoran rooftop yang menawarkan konsep dan pemandangan sebagai daya tarik.
Proyek tersebut sebelumnya sempat mengalami penundaan, sebelum kembali dikembangkan hingga berjalan.
Bagi Ana, sebuah proyek bukan hanya tentang hasil akhir, tetapi juga proses di baliknya.
“Di sini saya punya banyak challenge. Saya suka tantangan dalam pekerjaan karena saya bisa berkarya,” katanya.
Menjadi General Manager masih menjadi salah satu cita-cita Ana. Ambisi itu tumbuh sejak ia melihat teman-teman seangkatannya mulai menduduki posisi manajerial.
Namun, perjalanan panjang membuatnya memahami bahwa kesuksesan tidak hanya diukur dari tingginya jabatan.
Pengalaman, hubungan dengan orang lain, kesempatan belajar, keberanian mengambil keputusan, serta kemampuan mempertahankan prinsip menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut.
Dari lulusan STP Bali, pengalaman internasional, kembali ke Bali, menjalani berbagai departemen, Accor, Bali Safari, menjadi GM, masa konsultasi, hingga Mövenpick, semuanya menjadi rangkaian yang membentuk Ana hari ini.
Bagi Ana Dewi, karier di dunia hospitality pada akhirnya adalah perjalanan kehidupan.
Setiap hotel, posisi, atasan, kolega, bahkan konflik memberikan pelajaran. Ambisi untuk berkembang berjalan berdampingan dengan nilai yang ditanamkan keluarganya, terutama tentang bagaimana memperlakukan manusia dengan baik tanpa melihat jabatan.
Di tengah industri hospitality yang kompetitif, Ana memilih tidak kehilangan nilai tersebut. Kini, berada di posisi strategis dalam manajemen hospitality, ia masih melihat dirinya sebagai seseorang yang terus belajar.
Sebab baginya, karier tidak berhenti ketika seseorang mencapai sebuah jabatan. Selalu ada tantangan berikutnya, sesuatu yang bisa dipelajari, dan kesempatan untuk meninggalkan sebuah karya.