Arti Kepercayaan: Sepuluh Hari Bersama Orang Asing Menuju Sumba

Petr asal Republik Ceko bersama Moonstar saat melakukan dokumentasi perjalanan.
Petr asal Republik Ceko bersama Moonstar saat melakukan dokumentasi dalam kunjungan mereka ke Sumba. (Foto: Dokumentasi)

Suatu sore di Ubud, saya duduk sendirian menikmati kopi di Seniman Coffee Studio. Kursi di luar hampir penuh, menyisakan satu bangku kosong di samping saya dengan pemandangan jalanan yang ramai oleh lalu lalang orang.

Seorang pria asing menghampiri dan meminta izin duduk. Dari situlah percakapan sederhana berubah menjadi perjalanan panjang yang tak pernah saya rencanakan.

Pertemuan Singkat yang Mengubah Arah

Ia memperkenalkan diri sebagai Petr, berasal dari Republik Ceko. Dengan bahasa Inggris saya yang terbata-bata, sejak awal saya sudah meminta maaf karena kemampuan berbicara yang tidak terlalu baik. Ia tersenyum dan berkata tidak masalah.

Ia bertanya rekomendasi kopi. Saya menyebut beberapa nama: Gayo dari Aceh, Bajawa dari Flores, dan Toraja dari Sulawesi.

“Semua terkenal,” kata saya, “soal rasa itu kembali ke selera.” Ia memilih Aceh Gayo. Setelah menyeruput beberapa kali, wajahnya tampak puas.

Obrolan kami mengalir panjang, tentang perjalanan, kehidupan, dan pengalaman masing-masing.

Sampai akhirnya ia bertanya, “Selain Bali, tempat mana yang kamu rekomendasikan dan tidak terlalu jauh?” Tanpa banyak berpikir, saya menjawab, “Sumba.”

Saya katakan padanya bahwa saya memiliki saudara di sana. Jika ia mau, kami bisa pergi bersama.

Modalnya sederhana: belikan tiket pulang-pergi Bali–Sumba. Saya akan mengantarnya melihat keindahan alam dan bertemu orang-orang baik di sana. Saya memberinya batas waktu sampai malam untuk memberi kabar.

Baca juga:
🔗 Kopi dan Jejak Perjalanan

Antara Takut dan Percaya

Malam itu, pesan masuk. Petr meminta foto KTP untuk memesan tiket. Di situ hati kecil saya mulai bertanya:

“Benarkah ia percaya pada orang yang baru dikenalnya beberapa jam?” atau “Bagaimana jika saya justru yang mengambil risiko?”

Lalu pikiran saya melayang pada masa lalu, saat menjadi sopir truk ekspedisi, menumpang kapal pengangkut sembako, tidur di masjid di kota-kota yang belum saya kenal.

Semua orang waktu itu juga orang asing. Tapi saya tetap aman. Saya masih hidup hingga hari ini.

Barangkali hidup memang berjalan di atas jembatan kepercayaan. Akhirnya saya memutuskan, jika ia sudah membeli tiket, maka saya pun harus berani menjaga kepercayaan itu.

Sepuluh Hari di Sumba

Kami berangkat. Sepuluh hari menjelajahi Sumba, dari savana yang luas, rumah-rumah adat yang berdiri kokoh, hingga pantai dengan matahari tenggelam yang sunyi.

Saya mengajaknya tinggal di rumah keluarga besar Nani Boeloe, bertemu saudara, makan bersama, dan berbagi cerita.

Bahasa dan budaya menjadi tantangan utama. Namun Petr tidak sungkan berbaur. Ia mencoba memahami meski tak selalu mengerti.

Ia tersenyum meski tak selalu paham. Yang menjadi jembatan bukanlah bahasa, melainkan niat baik.

Baca juga:
🔗 Antara Liburan dan Penghidupan

Kepercayaan Adalah Keberanian

Perjalanan itu mengajarkan saya bahwa kepercayaan bukan sekadar yakin pada orang lain. Ia adalah keberanian untuk membuka diri, meski ada risiko.

Dalam perjalanan hidup, banyak orang yang hanya saya bangun dengan satu fondasi, percaya. Meski sulit. Meski kadang harus melewati seleksi alam yang tidak ringan.

Namun pada akhirnya, waktu yang menjawab semuanya. Jika niat tulus, percaya, dan yakin berjalan beriringan, maka hubungan persaudaraan bisa terjaga. Kuncinya sederhana, mengerti porsi dan posisi masing-masing.

Karena pada dasarnya, kita semua hanya manusia yang ingin diperlakukan dengan baik, dan dipercaya sebagai orang baik.

Dan dari secangkir kopi di Ubud, saya belajar satu hal, Kepercayaan kadang lahir bukan karena lama mengenal, melainkan karena keberanian untuk memulai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *