“Kalau kita menjaga alam, maka alam akan menjaga kita.” Kalimat sederhana itu menjadi napas dalam video klip lagu “Ayah Kangen”, ciptaan Yuke NS, yang dinyanyikan oleh Daniel DeEX, nama panggung dari Daniel Widya Mucharam, yang juga dikenal sebagai Kombes Pol. dan menjabat sebagai Karo Rena Polda Riau.
Di tengah kesibukannya sebagai aparat negara, ia memilih musik sebagai ruang untuk menyampaikan kegelisahan yang tak selalu bisa diucapkan dalam forum resmi.
Lagu ini bukan sekadar karya seni. Ia adalah refleksi zaman. Ketika hutan ditebang tanpa kendali, sungai tercemar, dan bencana datang silih berganti, ada suara hati yang ingin disampaikan, ada yang salah dalam cara manusia memperlakukan alam.
Musik menjadi medium yang jujur. Ia tidak menggurui, tetapi menyentuh. Tidak memaksa, tetapi menggugah.
Melalui nada dan visual dalam klipnya, Daniel menghadirkan pesan bahwa hubungan manusia dan alam bukan hubungan sepihak. Ia adalah relasi timbal balik, simbolis mutualisme kehidupan itu sendiri.
Di dunia musik, Daniel dikenal sebagai bagian dari duo DeEX. Namun dalam karya ini, ia berdiri sebagai individu yang menyuarakan keresahan pribadi sekaligus kegelisahan kolektif.
Sebab kerusakan alam bukan lagi isu pinggiran, melainkan kenyataan yang dirasakan banyak orang.
Baca juga:
🔗 Menjaga Warisan Hijau Bali
Dalam video klip “Ayah Kangen”, tergambar kisah ayah dan anak yang terpisah. Sekilas ia tampak sebagai drama keluarga tentang kehilangan dan kerinduan.
Namun lebih dalam dari itu, kisah tersebut adalah simbol. Ayah dan anak yang terpisah merepresentasikan penderitaan manusia yang hakiki, sebuah “hukuman” dari alam atas ketidakseimbangan yang diciptakan manusia sendiri.
Ketika alam murka melalui bencana, ia tidak memilah siapa yang bersalah dan siapa yang tidak. Bahkan mereka yang tidak pernah merusak alam pun bisa merasakan dampaknya.
Dalam pesan singkatnya, Daniel menyampaikan bahwa lagu ini adalah pesan untuk masa depan. Ia melihat perilaku manusia yang semakin abai, bahkan cenderung jahat terhadap alam.
Keserakahan sebagian kecil manusia dapat menjadi bencana bagi seluruh peradaban. Pesan “jagalah alam maka alam akan menjaga kita” sejatinya adalah warisan leluhur, sebuah legacy yang dulu dijaga dengan kesadaran, tetapi kini mulai dilupakan.
Nenek moyang hidup berdampingan dengan alam, memahami batas, menghormati keseimbangan.
Hari ini, manusia modern sering kali merasa menjadi penguasa, bukan bagian dari ekosistem. Simbol ayah dan anak dalam klip itu menjadi cermin bahwa ketika alam rusak, yang terpisah bukan hanya keluarga. Yang terputus adalah harmoni kehidupan itu sendiri.
Baca juga:
🔗 Akar yang Bekerja dalam Diam dan Bertumbuh Tanpa Sorotan
Tidak semua kegelisahan berakhir menjadi karya. Banyak yang berhenti pada keluhan atau diskusi tanpa tindakan.
Namun dalam konteks ini, kegelisahan itu menjelma menjadi lagu. Daniel memilih untuk tidak sekadar berbicara, tetapi berkarya. Ia mengubah keresahan menjadi pesan yang dapat dinikmati, direnungkan, dan diwariskan.
Musik menjadi jembatan antara kesadaran dan perasaan. Ia mampu menyentuh ruang batin yang sering kali sulit dijangkau oleh data dan angka.
Karya ini mengingatkan bahwa alam memiliki hukum keseimbangan. Ketika manusia menjaga, alam memberi kehidupan.
Ketika manusia merusak, alam mengembalikan dampaknya, bukan karena dendam, melainkan karena keseimbangan yang terganggu.
Pada akhirnya, “Ayah Kangen” bukan hanya tentang kerinduan seorang ayah kepada anaknya. Ia adalah refleksi tentang kerinduan manusia kepada alam yang lestari, hutan yang hijau, sungai yang jernih, udara yang bersih, dan masa depan yang aman bagi generasi berikutnya.
Sebuah pesan sederhana namun mendasar kembali ditegaskan, Bila kita menjaga alam, maka alam akan menjaga kita.
Dan mungkin, di sanalah letak harapan itu, bahwa kesadaran tidak berhenti sebagai wacana, tetapi tumbuh menjadi tindakan.
2 Responses
Semoga anak cucu kita masih dapat merasakan indahnya alam Indonesia dan pesan dari lagu ini dapat sampai ke masa depan
Amin, semoga alam Indonesia tetap lestari, dijaga dengan cinta dan tanggung jawab, agar anak cucu kita kelak masih bisa merasakan keindahannya.