Sebuah longboat dengan rute Desa Babang menuju Desa Pigaraja, Kabupaten Halmahera Selatan, dilaporkan tenggelam setelah dihantam gelombang tinggi di perairan depan Desa Bibinoi, Kecamatan Bacan Timur Tengah, Maluku Utara.
Peristiwa ini menyita perhatian publik dan ramai diperbincangkan di media sosial, tidak hanya karena dramatisnya kejadian, tetapi juga karena respons cepat berbagai pihak yang terlibat dalam upaya penyelamatan.
Di balik deretan stakeholder yang bergerak, muncul satu sosok yang menjadi bagian penting dari peristiwa tersebut: Kombes Pol. Azhari Juanda, S.I.K, Direktur Polisi Perairan dan Udara (Dirpolairud) Polda Maluku Utara.
Bukan sekadar hadir sebagai pejabat struktural, Azhari tampil dengan pendekatan yang lebih personal, membawa pengalaman hidup, nilai pengabdian, dan pemahaman medan yang tidak lahir dalam semalam.
Baca juga:
🔗 Belajar dari Peristiwa, Polsek Ternate Utara Bangun Kepercayaan Lewat Aksi Nyata
Kombes Pol. Azhari Juanda, S.I.K, merupakan lulusan Akademi Kepolisian (AKPOL) tahun 1998, kemudian melanjutkan pendidikan di PTIK Dikreg 45 (2006) dan Sespimmen Dikreg 55 (2015).
Kompetensinya di bidang kepolisian perairan diperkuat melalui pendidikan kejuruan seperti Daspa Polair (1999) dan Sekolah Ahli Nautika (2001), bekal penting yang membentuk naluri serta kepekaannya terhadap dinamika laut.
Karier penugasannya sebagian besar bersentuhan langsung dengan wilayah perairan Indonesia.
Ia pernah menjabat sebagai Komandan Kapal Polisi Direktorat Polair Baharkam Polri (2004–2010), Kasi Patroli dan Pengawalan Satuan Patroli Nusantara (2010–2014), hingga Kasi Perencanaan dan Pengendalian Operasional Ditpolair Baharkam Polri (2016–2017).
Pengalamannya di Maluku Utara semakin menguat saat ia dipercaya menjadi Kapolres Tidore Kepulauan (2017–2018) dan Kapolres Ternate (2018–2020).
Setelah menjabat sebagai Wadir Polairud Polda DIY (2020–2024), Azhari kembali ke Maluku Utara dan sejak 2025 hingga sekarang mengemban amanah sebagai Dirpolairud Polda Malut.
Baca juga:
🔗 Makna Jangkar dalam Kehidupan Manusia
Dalam berbagai kesempatan, Azhari kerap menegaskan bahwa menjadi polisi bukan semata soal seragam, atribut, pangkat, atau jabatan.
“Lebih dari itu, polisi adalah tentang jiwa dan naluri. Jiwa untuk melindungi dan melayani, untuk selalu hadir membantu serta menolong masyarakat. Hadir bukan sekadar hadir, tapi hadir yang bermakna dan bermanfaat,” ujarnya.
Prinsip ini pula yang ia tanamkan kepada setiap anggota yang bertugas di lapangan. Baginya, relasi polisi dan masyarakat tidak dibangun dari pencitraan, melainkan dari tindakan nyata.
“Jadilah polisi yang mencintai masyarakat sebagai tindakan nyata, bukan sekadar berharap dicintai masyarakat sebagai hasil,” pesannya.
Pengalaman panjang dan penugasan berulang di Maluku Utara membuat Azhari memahami betul karakter wilayah kepulauan ini, laut yang indah sekaligus berisiko, cuaca yang cepat berubah, serta masyarakat pesisir yang menggantungkan hidup pada jalur perairan.
Peristiwa kapal karam yang sempat viral di media sosial menjadi pengingat bahwa keselamatan di laut bukan hanya soal prosedur, tetapi juga kesiapsiagaan, empati, dan kehadiran negara di saat paling genting.
Di sinilah peran Polairud tidak sekadar sebagai aparat penegak hukum, melainkan sebagai penjaga harapan di tengah gelombang.
Baca juga:
🔗 Ombak Selalu Datang Tanpa Permisi, Sama Seperti Hidup
Kisah Azhari Juanda adalah potret tentang bagaimana pengalaman, nilai, dan pengabdian bertemu dalam satu peristiwa kemanusiaan.
Di tengah derasnya arus informasi dan sorotan publik, kehadiran aparat yang bekerja dengan hati menjadi sesuatu yang semakin langka sekaligus dibutuhkan.
Ketika gelombang datang tanpa aba-aba, yang dicari masyarakat bukan hanya siapa yang berwenang, tetapi siapa yang benar-benar hadir. Dan bagi sebagian warga pesisir Maluku Utara, kehadiran itu kini memiliki nama.