Sofifi kini menjelma sebagai simpul penting pemerintahan di Provinsi Maluku Utara. Sejak ditetapkan sebagai ibu kota, geliat pembangunan terus terlihat, kantor-kantor pemerintahan berdiri, aktivitas aparatur sipil negara meningkat, dan mobilitas masyarakat pun kian padat.
Di tengah dinamika tersebut, kebutuhan akan transportasi yang cepat, praktis, dan terjangkau menjadi semakin mendesak.
Dalam lanskap inilah, bentor hadir bukan sekadar sebagai alat angkut, tetapi sebagai denyut nadi pergerakan masyarakat sehari-hari.
Bentor, singkatan dari becak motor, memiliki ciri khas berupa tempat duduk penumpang di bagian depan, sementara pengemudi berada di belakang seperti mengendarai sepeda motor.
Desain ini memberikan interaksi langsung antara penumpang dengan jalanan di depannya, menghadirkan pengalaman yang unik sekaligus praktis untuk jarak pendek hingga menengah.
Di Sofifi, bentor tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang sebagai moda transportasi utama.
Keberadaannya menjangkau berbagai titik penting, mulai dari pelabuhan, perkantoran, hingga kawasan permukiman.
Namun, seiring dengan meningkatnya jumlah pengguna, muncul pula kesadaran kolektif di kalangan pengemudi untuk menjaga keselamatan.
Aturan pun disepakati bersama. Salah satunya adalah pembatasan jumlah penumpang maksimal dua orang di bagian depan.
Iqbal, salah satu sopir bentor, menjelaskan bahwa aturan ini bukan sekadar formalitas, melainkan hasil dari pengalaman pahit.
“Sekarang maksimal dua penumpang. Kalau lebih, bisa kena sanksi. Bahkan bentor bisa ditahan sampai tiga hari di sekretariat,” ujarnya.
Kesepakatan ini lahir setelah terjadi kecelakaan beberapa tahun silam akibat muatan berlebih yang menimbulkan korban jiwa.
Sejak saat itu, komunitas bentor berbenah, menunjukkan bahwa keselamatan bisa dijaga melalui kesadaran bersama, bukan hanya aturan formal.
Baca juga:
🔗 Dinamika Wilayah Maluku Utara
Salah satu kekuatan utama bentor adalah tarifnya yang bersahabat. Dengan ongkos sekitar Rp10.000 untuk rute umum dari pelabuhan penyeberangan Ternate–Sofifi, bentor menjadi pilihan rasional bagi banyak orang.
Bahkan, pelajar mendapatkan tarif khusus sekitar Rp5.000, sebuah bentuk kepedulian sosial yang lahir dari kedekatan antara pengemudi dan masyarakat.
Tak hanya murah, bentor juga unggul dalam hal fleksibilitas. Ia mampu menjangkau gang-gang sempit, berhenti di titik yang diinginkan penumpang, serta tidak terikat jadwal seperti transportasi umum lainnya.
Dalam konteks kota yang sedang berkembang seperti Sofifi, fleksibilitas ini menjadi nilai tambah yang sulit tergantikan.
Bentor juga berperan sebagai penghubung vital antara pelabuhan dan pusat aktivitas pemerintahan.
Setiap kali kapal dari Ternate bersandar, deretan bentor sudah siap menjemput penumpang, menciptakan alur mobilitas yang efisien dan berkelanjutan.
Baca juga:
🔗 Maluku Utara: Jejak Rempah dan Harmoni Timur
Di balik setiap bentor yang melaju, tersimpan cerita tentang perjuangan dan pilihan hidup. Iqbal adalah salah satunya.
Sejak 2019, ia menekuni profesi sebagai sopir bentor setelah sebelumnya bekerja di sektor proyek.
Peralihan itu bukan tanpa alasan. Kondisi fisik yang tak lagi memungkinkan untuk pekerjaan berat membuatnya mencari alternatif yang lebih realistis. Bentor kemudian menjadi jawabannya.
“Sekarang lebih enak, bisa atur waktu sendiri,” katanya sederhana.
Bagi Iqbal, menjadi sopir bentor bukan hanya soal penghasilan, tetapi juga tentang kualitas hidup.
Ia bisa bekerja tanpa tekanan waktu yang kaku, tetap dekat dengan keluarga, dan menjalani hari dengan ritme yang lebih manusiawi.
Cerita seperti ini bukan hal yang langka, banyak pengemudi bentor di Sofifi yang menjadikan profesi ini sebagai jalan hidup yang memberi keseimbangan antara ekonomi dan kehidupan pribadi.
Lebih dari sekadar alat transportasi, bentor telah menjadi bagian dari identitas sosial Sofifi. Ia mencerminkan kearifan lokal, solidaritas komunitas, serta kemampuan masyarakat beradaptasi dengan perubahan zaman.
Di tengah modernisasi dan pembangunan infrastruktur, bentor tetap eksis tanpa kehilangan jati dirinya. Ia bukan pesaing kemajuan, melainkan pelengkap, mengisi celah yang belum terjangkau oleh sistem transportasi formal.
Interaksi antara pengemudi dan penumpang pun menciptakan hubungan sosial yang khas. Percakapan ringan di perjalanan, saling mengenal antar pelanggan tetap, hingga sikap saling membantu di jalan menjadi warna tersendiri dalam kehidupan kota.
Baca juga:
🔗 Irjen Pol Waris Agono: Polda Malut ke Sofifi
Bentor di Sofifi adalah simbol dari sesuatu yang lebih besar: tentang bagaimana masyarakat membangun solusi dari kebutuhan mereka sendiri. Ia sederhana, namun efektif. Ia tradisional, namun tetap relevan.
Di tengah berkembangnya Sofifi sebagai pusat pemerintahan Maluku Utara, bentor akan terus menjadi bagian penting dari keseharian.
Ia menghubungkan pelabuhan dengan kantor, sekolah dengan rumah, dan manusia dengan aktivitasnya.
Dalam setiap lintasannya, bentor tidak hanya mengangkut penumpang, tetapi juga membawa cerita, tentang perjuangan, kebersamaan, dan harapan yang terus bergerak seiring roda yang berputar.