Dalam hidup, salah satu ujian terbesar seseorang justru hadir ketika ia memiliki kekuasaan. Power bukan hanya tentang kemampuan mengendalikan, tetapi tentang bagaimana seseorang memilih untuk menggunakan pengaruhnya.
Di tangan yang bijaksana, kekuasaan tidak melukai, ia justru merawat, menguatkan, dan memperindah hubungan dengan orang-orang di sekitarnya.
Banyak orang mampu mencapai posisi tinggi, tetapi tidak semua mampu menjaga sikap ketika berada di sana.
Kekuasaan sering kali mengubah cara seseorang berbicara, bersikap, bahkan memandang orang lain. Di titik inilah karakter sejati seseorang diuji.
Baca juga:
π Prinsip dan Integritas, Warisan Seorang Pemimpin
Sosok Waris Agono memberikan gambaran berbeda. Sebagai Kapolda Maluku Utara, ia memiliki otoritas yang besar dalam struktur kepolisian.
Namun, yang menonjol bukan hanya jabatannya, melainkan bagaimana ia tetap membumi dalam berinteraksi.
Dalam menjalankan tugasnya, ia tidak menempatkan jarak yang kaku antara dirinya dan orang lain.
Ia hadir dengan pendekatan yang lebih manusiawi, mendengarkan, memahami, dan berkomunikasi tanpa harus kehilangan wibawa.
Justru dari situlah wibawa itu tumbuh secara alami, bukan karena jabatan semata, tetapi karena sikap.
Baca juga:
π Jejak Kepemimpinan Irjen Pol Drs. Waris Agono, M.Si., di Bumi Moloku Kie Raha
Dalam dunia profesional, terutama dalam bidang jurnalistik, komunikasi sering kali berlangsung cepat, padat, dan penuh tekanan.
Informasi harus akurat, waktu terbatas, dan interaksi terjadi dalam situasi yang tidak selalu ideal.
Di tengah dinamika itu, cara seseorang berkomunikasi menjadi sangat berarti. Waris Agono dikenal mampu menyampaikan pesan dengan bahasa yang sederhana, jelas, dan tidak berbelit. Ia tidak hanya fokus pada substansi informasi, tetapi juga pada cara penyampaiannya.
Salah satu momen kecil yang membekas adalah ketika ia mengucapkan, βTerima kasih ya, Lae.β Kalimat yang sederhana, namun terasa hangat dan tulus.
Bagi seorang jurnalis, ucapan seperti ini bukan sekadar formalitas. Ia adalah bentuk penghargaan atas proses, mulai dari mencari data, mengolah informasi, hingga menyusunnya menjadi sebuah tulisan.
Dalam dunia yang sering kali bergerak tanpa jeda, apresiasi kecil seperti ini mampu memberi energi baru dan rasa dihargai.
Hal-hal sederhana inilah yang sering terlupakan, padahal justru memiliki dampak besar dalam membangun hubungan profesional yang sehat.
Baca juga:
π Jejak Komunikasi, Keteladanan, dan Persahabatan dalam Perjalanan Profesi
Dari sikap seperti ini, kita belajar bahwa kekuasaan tidak harus menjauhkan seseorang dari nilai-nilai kemanusiaan. Sebaliknya, kekuasaan bisa menjadi sarana untuk memperkuat nilai tersebut.
Ketika seseorang mampu menggunakan power dengan bijak, ia tidak hanya menjalankan perannya secara struktural, tetapi juga memberi dampak emosional dan sosial bagi orang-orang di sekitarnya.
Ia menciptakan ruang yang lebih nyaman untuk bekerja sama, lebih terbuka untuk berdialog, dan lebih kuat dalam membangun kepercayaan.
Sikap menghargai, mendengar, dan berbicara dengan baik bukanlah tanda kelemahan. Justru itu adalah bentuk kekuatan yang paling mendasar.
Karena pada akhirnya, hubungan antarmanusia tidak dibangun dari posisi, melainkan dari rasa saling menghormati.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa yang akan dikenang bukan hanya jabatan atau kekuasaan yang pernah dimiliki seseorang, tetapi bagaimana ia memperlakukan orang lain ketika berada di puncak tersebut.
Dan mungkin, dari hal sederhana seperti sebuah ucapan terima kasih, kita bisa melihat betapa besar arti sebuah kebijaksanaan.